Jalan Menuju Keterbukaan Total

Jalan Menuju Keterbukaan Total

Harry Lee Contributor
149

Hanya sedikit bagian dalam Perjanjian Baru yang menyingkap kepura-puraan manusia dengan cara yang begitu indah sekaligus begitu menohok seperti 1 Yohanes 1:5-10. Bagian ini berfungsi sebagai cermin rohani, yang memaksa kita keluar dari bayang-bayang nyaman yang kita ciptakan di sekeliling kekurangan kita, lalu berdiri di bawah pancaran cahaya hadirat Allah yang tanpa kompromi.

Yohanes mengawali suratnya dengan menambatkan iman kita bukan pada serangkaian aturan, melainkan pada hakikat Allah itu sendiri:

“Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.”  (1 Yohanes 1:5)

Mengatakan bahwa “Allah adalah terang” berarti Dia adalah standar tertinggi bagi kemurnian, kebenaran, dan penyingkapan segala sesuatu. Terang tidak berkompromi dengan kegelapan; terang melenyapkannya. Bayangkan sebuah lampu sorot yang sangat terang dan bersih. Lampu itu tidak menghasilkan bayangan; bayangan hanya muncul ketika ada sesuatu yang menghalangi cahaya. Di dalam diri Allah, tidak ada sudut-sudut tersembunyi, tidak ada bayangan yang berubah-ubah, dan tidak ada agenda terselubung.

 

Baca Juga: Saat Langkah Terhenti

 

Ilusi Ruangan yang Tertutup

Yohanes segera menyoroti kecenderungan manusia untuk bersikap mendua:

“Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.” (1 Yohanes 1:6)

Metaforanya: Bayangkan Anda tinggal di sebuah rumah dengan satu ruangan yang telah Anda kunci rapat selama bertahun-tahun. Di dalamnya, barang-barang tak berguna menumpuk, debu menebal, dan pembusukan mulai terjadi. Hidup di dalam kegelapan ibarat membiarkan tirai jendela tertutup rapat dan lampu ruangan itu tetap mati, sembari berpura-pura bahwa kekacauan itu tidak ada hanya karena Anda tidak bisa melihatnya dalam kegelapan. Kita melakukan hal ini ketika kita memelihara kebiasaan rahasia, menyimpan kepahitan yang tidak diakui, atau mengenakan topeng yang tampak saleh di gereja sementara menjalani hidup yang sembrono secara pribadi.

Yohanes langsung menelanjangi kemunafikan tersebut. Jika kita mengaku memiliki hubungan erat dengan Allah yang adalah terang murni, namun dengan sengaja terus tersandung dalam kegelapan pekat akibat dosa yang kita pilih sendiri, kita bukan sekadar keliru—kita sedang menjalani sebuah kebohongan.

Persekutuan yang sejati menuntut kita untuk membuka pintu, menyingkapkan tirai, dan membiarkan cahaya membanjiri ruangan tersebut.

“Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.”  (1 Yohanes 1:7)

Hidup di dalam terang tidak berarti menjadi pribadi yang tanpa cela; hidup di dalam terang berarti bersikap transparan. Hal ini berarti membiarkan Allah melihat siapa diri kita sepenuhnya—baik sisi baik, sisi buruk, maupun sisi yang kelam—tanpa berusaha memoles atau menyembunyikan jati diri kita. Saat cahaya menerpa segala kekacauan itu, sesuatu yang ajaib terjadi. Alih-alih penolakan, kita justru menemukan dua anugerah yang mendalam:

1. Persekutuan Sejati

Ketika kita berhenti berpura-pura sempurna, kita memberi ruang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Persekutuan Kristen yang sejati lahir saat orang-orang yang rapuh dan terluka berhenti saling menyembunyikan diri.

2. Pembersihan yang Berkelanjutan (darah Yesus menyucikan kita)

Bentuk kata kerja bahasa Yunani yang digunakan untuk kata “menyucikan” menyiratkan tindakan yang terus-menerus dan berkelanjutan. Hal ini ibarat aliran air pegunungan yang jernih, yang senantiasa membasuh batu dan menghanyutkan kotoran segera setelah kotoran itu hinggap.

 

Baca Juga: Berlabuh di Tengah Badai

 

Penawar bagi Tipu Daya Diri Sendiri

Ayat 8 dan 10 memperingatkan kita akan jebakan terbesar: meyakinkan diri sendiri bahwa kita tidak memiliki masalah. “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” Menyangkal kerapuhan atau dosa kita tidak membuat kita bersih; hal itu justru membuat kita buta.

Titik tumpu dari seluruh bagian ini adalah ayat 9—sebuah ayat yang sering disebut sebagai “sabun bagi orang Kristen”:

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9)

Kata “mengaku” (“homologeo” dalam bahasa Yunani) secara harfiah berarti mengatakan hal yang sama. Saat kita mengaku dosa, kita berhenti mencari-cari alasan. Kita tidak berkata, “Saya hanya sedang lelah” atau “Mereka memancing kemarahan saya.” Kita mengatakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan Allah mengenai hal itu “Ini adalah dosa.”

Perhatikanlah bahwa pengampunan Allah tidak didasarkan pada seberapa dalam kita meratapi rasa bersalah secara emosional ataupun seberapa keras kita berjanji untuk berusaha lebih baik di lain waktu. Pengampunan itu didasarkan pada karakter-Nya: Ia setia pada janji-Nya dan adil karena harga atas dosa tersebut telah dibayar lunas oleh Yesus di kayu salib.

 

Penerapan Nyata: Transformasi John Newton

Mungkin tidak ada contoh sejarah yang lebih hebat mengenai seseorang yang beralih dari kegelapan pekat yang penuh tipu daya menuju cahaya terang benderang yang mencengangkan, selain pelaut Inggris bernama John Newton (1725–1807).

Jauh sebelum ia menulis lagu rohani paling terkenal di dunia, “Amazing Grace,” Newton hidup dalam kegelapan moral dan rohani yang sangat pekat. Ia adalah seorang yang tidak beriman, hidup dalam hawa nafsu, dan seorang pelaut yang begitu kasar serta pemberontak hingga rekan-rekan sesama pelaut—yang juga tidak mengenal Tuhan—menganggapnya sebagai sosok yang sangat jahat. Ia akhirnya menjadi kapten kapal pengangkut budak, yang secara aktif meraup keuntungan dari perdagangan dan perbudakan manusia yang kejam.

Pada tanggal 10 Maret 1748, badai dahsyat di Samudra Atlantik nyaris menghancurkan kapalnya. Karena takut akan kematian dan menyadari kehancuran moralnya yang total, Newton berseru memohon belas kasihan. Malam itu menandai awal perjalanannya menuju terang, namun perubahan itu tidak terjadi secara instan atau sempurna dalam semalam.

Menghidupi Firman: Selama beberapa tahun setelah kesadaran awalnya itu, Newton secara mengejutkan tetap menjadi kapten kapal pengangkut budak—sebuah contoh klasik mengenai betapa dalamnya titik buta rohani yang bisa dimiliki manusia. Namun, seiring ia terus “berjalan dalam terang” dan membaca Kitab Suci, cahaya kebenaran Allah yang benderang perlahan-lahan menyingkapkan betapa mengerikan dan jahatnya praktek perdagangan yang ia jalani.

Newton tidak berusaha menyembunyikan masa lalunya atau mencari-cari alasan setelah matanya terbuka. Ia melangkah sepenuhnya ke dalam terang dengan membuat pengakuan yang jujur dan terbuka di hadapan publik. Pada tahun 1788, ia menerbitkan sebuah pamflet yang memaparkan fakta-fakta kelam berjudul “Thoughts Upon the African Slave Trade” (Pemikiran tentang Perdagangan Budak Afrika), yang merinci kekejaman yang pernah ia lakukan dan ia ikuti. Ia secara terbuka mengakui kesalahannya kepada dunia dan menggunakan pengalaman pribadinya untuk bersaksi bersama William Wilberforce demi membantu menghapuskan perdagangan budak di Inggris Raya.

 

Baca Juga: Menanggalkan Manusia Lama, Mengalami Pembaharuan Pikiran dan Aktif Mengenakan Identitas Baru

 

Newton menghabiskan sisa hidupnya sebagai seorang pendeta, dengan sikap yang sangat terbuka mengenai masa lalunya yang kelam agar terang Tuhan dapat bersinar lebih benderang. Menjelang akhir hayatnya, ingatannya mulai memudar, namun ia melontarkan ucapan yang terkenal:

“Ingatanku hampir hilang, tetapi aku mengingat dua hal: Bahwa aku adalah orang berdosa, dan bahwa Kristus adalah Juruselamat yang agung!”

Newton menghidupi kebenaran dalam 1 Yohanes 1:9. Ia berhenti bersembunyi dalam kegelapan, mengakui ketidakbenarannya yang mendalam, serta membiarkan darah Yesus menyucikan dirinya dan mengubah warisan hidupnya—dari seorang pedagang budak menjadi seorang pewarta kasih karunia.

 

Renungan Hari Ini

Di bagian mana dalam hidup kita saat ini kita masih menutup rapat tirai dan menyembunyikan sesuatu? Kebebasan sejati tidak datang dari sikap berpura-pura bahwa kita tidak memiliki dosa; kebebasan itu datang saat kita membawa dosa tersebut ke dalam terang Allah yang setia dan adil, yang sedang menanti untuk menghapusnya.

Harry Lee MD; PsyD; BBS

Pastor & Gembala Restoration Christian Church – Los Angeles

Ikuti Kami