Tuhan Mengangkat yang Terbuang

Tuhan Mengangkat yang Terbuang

Lori Official Writer

Hakim-hakim 11: 5-6

"Dan ketika bani Amon itu berperang melawan orang Israel, pergilah para tua-tua Gilead menjemput Yefta dari tanah Tob. Kata mereka kepada Yefta: "Mari, jadilah panglima kami dan biarlah kita berperang melawan bani Amon."

 

Ada orang-orang yang oleh dunia dianggap tidak pantas, dibenci, dibuang, diabaikan dan tidak diperhitungkan. Yefta adalah salah satunya.

Ia adalah anak dari seorang perempuan sundal. Saudara-saudaranya mengusirnya dan berkata terang-terangan: "Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain." (Hakim-hakim 11:2). Ia pergi ke tanah Tob, hidup di pinggiran, berkumpul bersama orang-orang buangan. Dari sudut pandang manapun, hidupnya tampak sudah tamat sebelum benar-benar dimulai.

Namun Yefta tidak membiarkan penolakan itu mendefinisikan dirinya di hadapan Tuhan. Di titik paling rendah dalam hidupnya, ia tetap menyertakan Tuhan. Ia tidak memandang aib masa lalunya, tidak terpaku pada cap buruk yang orang lain tempelkan padanya. Ketika para tua-tua Gilead datang memintanya memimpin peperangan, ia tidak bersandar pada kemampuannya sendiri — ia membawa perkaranya kepada Tuhan dan melangkah dengan iman. Dan Tuhan yang sama yang sepertinya "diam" selama tahun-tahun pembuangan itu, ternyata tidak pernah pergi. "Roh TUHAN ada pada Yefta." (Hakim-hakim 11:29). Tuhan sendiri mengangkat Yefta dari anak yang terbuang menjadi "seorang pahlawan yang gagah perkasa" dan berdiri membela bangsanya.

Inilah yang Tuhan ingin kita lihat hari ini. Bahwa Ia tidak bekerja berdasarkan latar belakang kita, penolakan, kegagalan, dan titik terendah yang pernah kita jalani. Melainkan berdasarkan kesetiaan kita untuk terus melibatkan-Nya (Roma 8: 28).

Mungkin Anda sedang berada di titik itu sekarang. Merasa dibuang, tidak dianggap, atau malu dengan keadaan diri sendiri. Tetapi melalui seorang anak yang terbuang seperti Yefta, Tuhan mampu mengubah keadaan. Meskipun kita mungkin punya kemampuan, tetapi kita tidak dipercayakan untuk menunjukkan kemampuan itu karena satu dan lain hal, saat ini Tuhan mau kita tidak tawar hati dan hidup dalam kepahitan. Sebaliknya, tetap libatkan Tuhan justru di titik terendah hidup kita, dan nantikan bagaimana Dia bekerja membalikkan keadaan.

 

Refleksi Pribadi:

1. Adakah bagian dari hidup Anda yang selama ini Anda sembunyikan dari Tuhan karena merasa terlalu buruk atau tidak pantas?

2. Hari ini, bawa justru bagian itu kepada-Nya. Tuhan yang mengingat Yefta di tanah pembuangan adalah Tuhan yang sama yang melihat Anda sekarang — dan Ia belum selesai dengan hidup Anda.

 

Hak cipta Maria Kaesmetan, Departemen Spiritual CBN Indonesia

Ikuti Kami