Ibu Riyani adalah seorang ibu dikaruniai dua orang anak, Novindra dan Jescha. Dalam kesehariannya sebagai orang tua, ia menyadari bahwa dirinya sering kali mudah marah ketika mendidik anak-anaknya. Kurangnya kesabaran membuat emosunya kerap meledak, bahkan sampai mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak didengar oleh anak-anak. Sikap itu paling sering dirasakan oleh anak pertamanya, Novindra, yang akrab dipanggil Ovin.
Suatu hari, Ibu Riyani meminta Ovin untuk mencuci dan menyapu rumah. Namun setiap kali disuruh, Ovin hanya menjawab, “Nanti, Ma.” Jawaban itu terus diulang walaupun ibunya sudah beberapa kali mengingatkan. Semakin lama, kesabaran Ibu Riyani semakin habis. Emosinya memuncak hingga akhirnya ia memukul Ovin sambil marah-marah dan melontarkan kata-kata kasar kepadanya.
“Saya membentak dan pernah juga saya pukul dia – karena saking jengkelnya tidak mau bergerak.”
Di balik kemarahannya, ada satu momen yang sangat membekas di hati Ibu Riyani. Saat itu Ovin berkata kepadanya, “Mak, Mama kenapa sih? Aku salah apa? Kok setiap kalo Mama marah-marah terus? Aku kan nggak ngapa-ngapain.” Kata-kata sederhana itu membuat Ibu Riyani tersadar bahwa selama ini ia sering menjadikan anaknya sebagai pelampiasan emosi. Ia bahkan sering memarahi Ovin tanpa mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
Baca Juga: Saya Pergi 14 Tahun, Tapi Ternyata Bukan Uang yang Paling Dibutuhkan Anak – Kisah Sudarti
Setelah meluapkan amarahnya, Ibu Riyani biasanya memilih masuk ke kamar dan diam seorang diri. Dalam kesendiriannya, ia sering berpikir bahwa Ovin adalah anak yang sulit diatur karena selalu menunda saat disuruh. Namun pada saat itu, ia masih merasa benar karena posisinya sebagai orang tua dan sulit mengakui kesalahannya sendiri.
“Kalau pas lagi marah, saya merasa paling benar. Tapi setelah menenangkan diri, saya sempat berpikir: apa iya memang tidak bisa? Setiap disuruh selalu bilang nanti.”
Perubahan mulai terjadi ketika Ibu Riyani mengikuti program The Parenting Project. Dalam program tersebut, ia mempelajari modul “Menjadi Teladan Baik” yang sangat menegur hainya. Ia juga belajar tentang akronim HATI, khususnya bagian “A” yaitu Akuilah Kesalahan, dan katakan “I” yaitu Ingat Katakan yang Baik dan Benar. Dari pelajaran itu, Ibu Riyani mulai sadar bahwa cara mendidik yang selama ini ia lakukan bukanlah hal yang benar.
Di dalam hatinya, Ibu Riyani merasa Tuhan sedang memanggilnya untuk berubah Namun ia menyadari bahwa berubah tidak semudah yang dibayangkan. Ia membutuhkan waktu hampir dua minggu hanya untuk mengumpulkan keberanian meminta maaf kepada anaknya sendiri. Dalam doanya, ia berkata, “Tuhan, saya mau minta maaf, tolong temani aku.”
“Prosesnya tidak langsung. Saya ada niat untuk mengakui kesalahan, tapi tidak berani sampai hampir dua minggu.”
Baca Juga: Ketika Aturan Dijalankan Bukan Dengan Amarah, Tetapi Dengan Kasih Dan Konsistensi
Akhirnya, setelah bergumul cukup lama, Ibu Riyani bersama Suaminya memberanikan diri mengajak Ovin berbicara. Dengan penuh kerendahan hati, ia mengakui semua keselahannya – mulai dari kebiasaannya marah-marah, tidak sabar, hingga memukul anaknya. Mendengar pengakuan itu, Ovin memaafkan ibunya dan bahkan berkomitmen untuk berubah juga. Ia berkata, “Mulai sekarang Ovin mau belajar, Ma, belajar tidak malas.”
Momen itu menjadi titik pemulihan bagi hubungan mereka. Ibu Riyani merasa seolah semua beban dalam hatinya telah diangkat. Sejak saat itu, ia mulai belajar kembali dari awal untuk memahami anak-anaknya, lebih sabar, dan tidak lagi berkata kasar. Perlahan, hubungan mereka pun berubah menjadi lebih dekat. Jika dahulu Ovin takut bercerita, kini ia mulai terbuka dan senang menceritakan aktivitas sehari-harinya kepada sang ibu. Melalui perjalanan ini, Ibu Riyani belajar bahwa mengakui kesalahan dan meminta maaf bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal menuju pemulihan dalam keluarga.
Seperti yang dialami Ibu Riyani, perubahan bisa dimulai dari kesadaran dan langkah kecil untuk belajar menjadi orang tua yang lebih memahami dan hadir.
Jika Anda rindu keluarga Anda dipulihkan, mari menjadi bagian dari The Parenting Project - Anda akan diperlengkapi untuk membangun keluarga yang lebih sehat dengan menjadikan Kristus sebagai pusat.
Informasi lebih lanjut tentang The Parenting Project bisa kunjungi https://theparentingproject.id/ atau hubungi langsung via WhatsApp di 0811-1011-6556, kami percaya setiap keluarga layak mengalami pemulihan.
Live Chat
Phone / SMS
0811 9914 240
0817 0300 5566
Whatsapp
0822 1500 2424