Ibu Sulis Ungkap Dampak Besar Kalau Ubah Pola Asuh Otoriter Jadi Lebih Terbuka Sama Anak

Ibu Sulis Ungkap Dampak Besar Kalau Ubah Pola Asuh Otoriter Jadi Lebih Terbuka Sama Anak

Claudia Jessica Official Writer
1255

Rumah yang tampak biasa, justru terasa terhalang oleh tembok yang begitu tinggi dan besar—memisahkan orang tua dan anak yang perlahan tumbuh tanpa disadari.

Sulistianingsih (49 tahun) tidak langsung menyadari tembok yang memisahkannya dengan anak-anak. Baginya, pola asuh yang tegas dengan disiplin kuat adalah hal yang wajar.

“Jika orang tua menginginkan sesuatu, anak harus menurut tanpa banyak penjelasan,” itulah yang Sulis dan suaminya percaya selama ini.

Ketika anak sulungnya memasuki usia remaja, banyak hal berubah. Anak sulung yang biasanya terbuka, perlahan jadi tertutup. Percakapan yang dulu hangat, berubah menjadi singkat dan defensif. Tinggal dalam rumah yang sama, tetapi seperti ada tembok yang memisahkan.

 

BACA JUGA: Dua Sikap yang Harus Dihindari Agar Tidak Menjadi Orang Tua yang Ekstrim untuk Anak

 

“Yang sulung itu mulai menarik diri, kurang terbuka, dan sering memberikan jawaban yang defensif.”

Ketika menyadari perubahan anak sulungnya, Sulis mulai bertanya—apa yang sebenarnya terjadi?

Di sisi lain, Sulis sadar pola disiplin yang ia terapkan selama ini memberikan dampak yang tidak ia duga sebelumnya.

“Saya pikir, pukulan tersebut bukanlah bentuk kekerasan berat,” ungkapnya dengan jujur.

Namun, pemahaman itu mulai runtuh ketika ia mengikuti The Parenting Project di gerejanya. Salah satu materi yang paling menyentuh hatinya adalah prinsip HATI (Hendaklah berjuang menjadi teladan, Akuilah kesalahan, Tunjukkan kasih, dan Ingat katakan yang baik dan benar),

Dan ia sadar bahwa tidak ada orang tua yang langsung sempurna.

“Menjadi orang tua adalah proses pembelajaran seumur hidup.”

Sulis akhirnya sadar bahwa selama ini bukan hanya anak yang perlu dididik, tapi orangtua juga perlu belajar dan berubah.

 

BACA JUGA: Sikap Otoriter Saya Menjauhkan Saya dari Anak-anak, Kini Saya Tersadarkan...

 

“Seringkali saya menuntut anak berubah, padahal sikap dan respons saya sebagai orang tua juga perlu diperbaiki.”

Sejak saat itu, Sulis mengambil langkah kecil dengan belajar menahan diri, belajar mendengar, dan mencoba memahami sebelum bereaksi. Tidak hanya Sulis, suaminya pun mulai berubah, meninggalkan cara lama yang mengandalkan kekerasan fisik.

“Saya belajar, melarang anak dengan keras justru bikin anak semakin memberontak. Jadi, perlukan komunikasi dan pengertian orangtua,” ucapnya

Meski perubahan itu tidak terjadi dalam semalam, Sulis dan suami mulai merasakan dampak dari perubahan mereka. Anak-anaknya mulai kembali membuka diri. Cerita-cerita kecil mulai hadir lagi dalam keseharian keluarga ini.

“Saya mulai lebih banyak mendengar daripada mengomel. Saya berusaha memahami isi hati anak sebelum memberikan nasihat. Suami juga mulai menahan diri dan tidak lagi menggunakan kekerasan fisik,” ungkapnya.

“Anak-anak mulai lebih terbuka dan berani bercerita lagi,” lanjutnya.

Sulis sadar perubahan baik dikeluarga bukan cuma dipengaruhui oleh perubahan pola asuh aja, tapi ada perjalanan orangtua yang mau belahar rendah hati, juga keberanian untuk berubah.

 

BACA JUGA: Menghargai  Pendapat Anak, Seperti Tuhan Mendengar Kita

 

Dari sini, Sulis dan suaminya paham bahwa menjadi orang tua bukanlah tentang menjadi benar setiap saat, tetapi tentang terus bertumbuh bersama anak.

Seperti yang ia yakini hari ini, perubahan itu mungkin tidak instan. Namun, selama dijalani dengan komitmen, kasih, dan doa—setiap keluarga punya kesempatan untuk memulainya kembali.

Apakah kamu juga merasakan hal yang sama seperti keluarga Ibu Sulis? Rumah yang harusnya hangat dengan interaksi keluarga, justru seakan dipisahkan oleh tembok yang tinggi.

Seperti yang dialami Ibu Sulis, perubahan bisa dimulai dari kesadaran dan langkah kecil untuk belajar menjadi orang tua yang lebih memahami dan hadir.

Ikutilah pelatihan The Parenting Project, kamu akan diperlengkapi untuk membangun keluarga yang lebih sehat dengan menjadikan Kristus sebagai pusat.

Informasi lebih lanjut tentang The Parenting Project bisa kunjungi https://theparentingproject.id/ atau hubungi langsung via WhatsApp di 0811-1011-6556, kami percaya setiap keluarga layak mengalami pemulihan.

 

BACA JUGA: Ini 4 Pola Asuh Anak yang Harus Diketahui Orang Tua

 

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami