Apa Itu Gentle Parenting dan Mengapa Banyak Orang Tua Beralih ke Pola Ini?

Apa Itu Gentle Parenting dan Mengapa Banyak Orang Tua Beralih ke Pola Ini?

Claudia Jessica Official Writer
1209

Belakangan ini istilah gentle parenting semakin sering muncul di media sosial, buku parenting, juga menjadi perbincangan di lingkungan orang tua muda. Akhirnya, banyak orang mulai penasaran dan bertanya, apa itu gentle parenting dan mengapa banyak orang tua beralih ke pola ini?

Sederhananya, gentle parenting adalah pola pengasuhan yang membangin hubungan dengan penuh empati, rasa hormat atau respect, serta pemahaman terhadap emosi anak.

Artinya, orang tua tidak membiarkan anak melakukan apa saja semaunya, justru orang tua diajak untuk memahami alasan di balik perilaku anak, mengatur emosi diri sendiri dan membimbing anak dengan penuh kasih.

 

BACA JUGA: Lelah dan Suka Emosi Ngurus Anak, Gimana Ya Cara Mengurus Anak Tetap dengan Kasih?

 

Gentle parenting biasanya bertumpu pada tiga hal utama yaitu empati, batasan yang jelas, dan komunikasi yang sehat

Empati terhadap perasaan anak

Salah satu ciri utama gentle parenting adalah kemampuan orang tua untuk memvalidasi perasaan anak. Anak boleh saja merasa marah, kecewa, atau sedih. Emosi itu tidak langsung dianggap sebagai perilaku yang salah.

Misalnya ketika anak menangis karena mainannya rusak, orang tua tidak meremehkan perasaannya dengan berkata, “Cuma mainan rusak aja nangis, nanti mami beliin yang baru,” tetapi justru mencoba memahami perasaan anak lebih dulu, bukan menghakimi dan melabeli anak “cengeng”.

Dengan begitu, anak akan merasa didengar dan perasaannya dihargai. Anak yang tumbuh dengan perasaan seperti ini biasanya lebih percaya diri dan lebih mudah terbuka kepada orang tuanya. Mereka juga cenderung lebih mampu memahami dan mengelola emosi ketika menghadapi masalah di kemudian hari.

 

BACA JUGA: Kenapa Anak Pertama Harus Selalu Mengalah? Orang Tua Jangan Lupakan Ini..

 

Batasan yang tetap jelas

Banyak orang salah paham dan mengira gentle parenting sama dengan tidak memiliki aturan. Padahal justru sebaliknya, orang tua tetap harus memberikan batasan yang jelas, hanya saja perlu disampaikan dengan cara yang lebih tenang dan konsisten.

Pada gentle parenting, disiplin tidak selalu dilakukan dengan memberikan hukuman atau meninggikan suara. Orangtua harus memimpin alur percakapan dengan pendekatan yang komunikatif, tentu dibutuhkan kesabaran ekstra untuk bisa mewujudkannya.

Komunikasi dengan jujur dan memberi respect

Komunikasi menjadi bagian penting dalam gentle parenting. Orang tua perlu mengajak anak berbicara dengan terbuka dan menghargai mereka sebagai individu. Dengan demikian, anak belajar memahami alasan di balik atutan yang Anda buat, bukan karena takut dimarahi.

 

BACA JUGA: Banyak Orang Tua Tidak Sadar Mereka Mewariskan Trauma ke Anak

 

Apa bedanya dengan VOC parenting?

Belakangan ini juga muncul istilah yang cukup viral di media sosial yaitu VOC parenting. Istilah ini sebenarnya bukan konsep resmi dalam ilmu parenting, melainkan istilah sindiran yang menggambarkan pola asuh yang sangat keras dan otoriter.

Disebut VOC parenting karena dianalogikan seperti cara kolonial VOC memerintah pada masa penjajahan dengan memegang kontrol penuh, keras, dan sering menggunakan ketakutan sebagai alat untuk mendisiplinkan.

Pada pola parenting ini, anak biasanya diminta untuk selalu patuh tanpa banyak penjelasan. Ketika anak melakukan kesalahan, respons yang muncul bisa berupa teriakan, hukuman, atau kata-kata yang membuat anak merasa takut.

Di sinilah gentle parenting menawarkan pendekatan dan dampak yang berbeda.

 

BACA JUGA: Mana yang Kamu Pilih Waktu Anak Lakukan Kesalahan, Memberi Hukuman atau Konsekuensi?

 

Mengapa banyak orang tua mulai beralih?

Ada beberapa alasan mengapa gentle parenting semakin diminati oleh banyak keluarga.

Pertama, berbagai penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pola asuh yang penuh empati membantu anak tumbuh lebih aman secara emosional. Anak yang merasa dipahami biasanya lebih mampu mengatur emosi dan memiliki hubungan yang lebih sehat dengan orang lain.

Kedua, banyak orang tua dari generasi milenial dan Gen Z menyadari bahwa mereka dulu dibesarkan dengan pola asuh yang sangat keras. Sebagian merasa ada jarak emosional dengan orang tua mereka. Karena itu, mereka ingin menciptakan pengalaman yang berbeda bagi anak-anaknya.

Ketiga, di era digital saat ini, informasi tentang perkembangan otak anak dan regulasi emosi semakin mudah diakses. Orang tua mulai memahami bahwa pendekatan yang keras tidak selalu menjadi cara paling efektif dalam mendidik anak.

 

BACA JUGA: 5 Alasan Pentingnya Orang Tua Memahami Bahasa Kasih Anak Agar Tercipta Hubungan yang Kuat

 

Gentle parenting bukan berarti anak tidak pernah ditegur atau tidak diberikan konsekuensi jika berperilaku kurang baik atau melakukan kesalahan. Justru gentle parenting mengajarkan anak untuk memahami sebab dan akibat dari setiap pilihan yang mereka buat, bukan memberikan hukuman agar anak merasa jera.

Kalau kamu butuh dukungan doa atau bimbingan untuk bisa menerapkan gentle parenting untuk anakmu, Layanan Doa CBN bisa dukung kamu. Ga perlu malu, WhatsApp kita sekarang 0822-1500-2424.

Sumber : Berbagai Sumber

Ikuti Kami