Saat Luka Dipulihkan dan Kutuk Dipatahkan, Kisah Anak yang Memilih Mengampuni Ibunya

Saat Luka Dipulihkan dan Kutuk Dipatahkan, Kisah Anak yang Memilih Mengampuni Ibunya

Lori Official Writer
2888

Di tengah dunia yang bising oleh berbagai suara, Layanan Doa CBN hadir menjadi tempat berlabuh bagi mereka yang lelah dan terluka. Melalui tayangan media, video rohani, sosial media, hingga website, banyak jiwa menemukan jalan untuk mengenal kasih Tuhan secara pribadi. Tidak sedikit yang pertama kali hanya menonton atau membaca, lalu memberanikan diri menghubungi Layanan Doa—dan di sanalah perjalanan pemulihan dimulai. Salah satunya adalah Yordina.

 

Tumbuh dalam Luka dan Kepahitan

Sejak kecil, Yordina hidup dalam keluarga yang tidak biasa. Ibunya dikenal sebagai seorang dukun, mewarisi praktik okultisme dari kakeknya. Di mata masyarakat, itu dianggap kebanggaan. Namun bagi Yordina kecil, ibunya sedang melakukan sesuatu yang jahat dan berdosa setiap kali menyaksikan ritual-ritual yang dilakukan ibunya. 

Bukan hanya itu, luka demi luka terus tumbuh dalam hatinya atas setiap sikap dan perkataan ibunya. Hampir tak ada hari yang bisa ia dan adiknya lewati tanpa mendengar kata-kata penuh amarah dan negatif dari sang ibu. Kata-kata seperti “Kamu akan miskin seumur hidupmu!” dan “Kamu akan mati lebih dulu dari saya!” menjadi kalimat yang begitu melukai hatinya.  

Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru dipenuhi konflik. Ia menyimpan marah, benci, bahkan pernah terlintas keinginan untuk balas dendam kepada ibunya.

“Tahun 2019 itu saya benar-benar ada di titik tidak mau terima keluarga saya lagi. Saya bilang, lebih baik saya sendiri daripada harus terus hidup dalam keadaan seperti ini.”

Kepahitan itu semakin dalam ketika ia merasa tidak pernah benar-benar dikasihi. Semua bermula sejak ia menolak mewarisi praktik ibunya, dan karena itu ia sering dianggap pembangkang.

 

Baca Juga: Dari Pernikahan yang Penuh Luka Menuju Pelukan Kasih Tuhan yang Memulihkan

 

Berani Menghubungi Layanan Doa

Perjalanan iman Yordina mulai terjadi Ketika ia pertama kali menghubungi Layanan Doa CBN saat ibunya mengalami peristiwa pembacokan yang hampir merenggut nyawanya. Saat itu, Yordina meminta dukungan doa.

“Saya hubungi pelayanan CBN itu pertama kali waktu saya minta dukungan doa dari CBN karena mama dibacok sama orang umur 23 tahun. Kalau bisa dibilang waktu itu mama sudah hampir meninggal. Dan CBN memperkenalkan mama dengan pak John dan dia langsung melayani mama dan mengirimi doa untuk mama," kenang Yordina.  

Melalui pendampingan doa dan bimbingan rohani, ia juga secara pribadi mendapat bimbingan rohani tentang hubungannya yang penuh luka dengan sang ibu. Ia diingatkan bahwa Tuhan sendirilah yang memilih keluarganya saat ini. “Kita tidak bisa memilih siapa ayah dan ibu kita. Tetapi kita bisa memilih kepada siapa kita menyerahkan keluarga kita," demikian Yordina mengingat betul kalimat disampaikan tim Layanan Doa CBN.

Saat itulah, imannya semakin diteguhkan untuk terus berjuang dan berdoa untuk pertobatan ibunya. Bahkan masa-masa sakit yang dialami ibunya menjadi peluang bagi Yordina dan adiknya membersihkan semua alat dan barang yang biasa ibunya gunakan untuk praktik okultisme 

 

Baca Halaman Berikutnya --->

Ikuti Kami