Tragedi Anak di NTT Sadarkan Adanya Krisis Kesehatan Mental, Menkes Buka Layanan Psikolog

Tragedi Anak di NTT Sadarkan Adanya Krisis Kesehatan Mental, Menkes Buka Layanan Psikolog

Claudia Jessica Official Writer
1979

Kasus bunuh diri seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, NTT, kembali menggugah perhatian publik terhadap kondisi kesehatan mental anak di Indonesia.

Peristiwa tragis yang dipicu tekanan ekonomi keluarga ini menjadi alarm keras bahwa persoalan kesehatan jiwa anak membutuhkan penanganan serius dan menyeluruh, tidak hanya di rumah sakit, tetapi hingga layanan kesehatan dasar.

Menanggapi kejadian tersebut, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menyampaikan bahwa pemerintah tengah menyiapkan penguatan layanan psikologi klinis di puskesmas. Langkah ini diambil sebagai respons atas temuan tingginya jumlah anak yang berisiko mengalami gangguan kesehatan mental.

 

BACA JUGA: Tragedi Anak SD Gantung Diri di NTT Jadi Alarm Kesehatan Mental Anak Nasional

 

“Kesehatan mental anak memang sudah kita lakukan skrining. Ada sekitar 10 juta anak yang berisiko terkena penyakit mental,” ujar Budi di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, selama ini banyak masalah kesehatan mental anak tidak terdeteksi karena keterbatasan layanan di tingkat dasar. Dengan kehadiran psikolog klinis di puskesmas, pemerintah berharap deteksi dan penanganan dapat dilakukan lebih dini, tanpa harus selalu bergantung pada rumah sakit rujukan.

Pemerintah juga memasukkan skrining kesehatan mental anak dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari hasil skrining tersebut, terlihat bahwa persoalan kesehatan jiwa anak jauh lebih besar dari yang selama ini diperkirakan.

“Sebelumnya kita tidak tahu ada masalah kejiwaan pada anak. Sekarang melalui skrining, kita tahu jumlahnya sangat besar,” tambah Budi.

Ia menekankan bahwa upaya penanganan tidak bisa dilakukan satu pihak saja. Kolaborasi antara puskesmas dan sekolah menjadi penting agar masalah psikologis anak dapat teridentifikasi lebih awal melalui lingkungan terdekat mereka.

 

BACA JUGA: Sepenting Apa Mengajarkan Mental Health Anak? Pelajaran Berharga dari Kasus Tragis di NTT

 

Sementara itu, psikiater anak dan remaja dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, menjelaskan bahwa anak usia 9–10 tahun berada pada fase yang rentan ketika menghadapi tekanan berat.

Pada usia ini, anak sudah mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen, tetapi belum mampu menimbang konsekuensi secara matang.

Ia menambahkan, “Cara berpikir anak masih hitam-putih, sehingga saat tertekan, mereka bisa sampai pada kesimpulan ekstrem bahwa menghilang akan menyelesaikan masalah.”

Menurut Lahargo, pencegahan harus dilakukan secara berlapis. Di dalam keluarga, orang tua perlu membangun komunikasi emosional dan memvalidasi perasaan anak.

Di sekolah, guru perlu dibekali pelatihan untuk mengenali tanda stres psikologis, disertai sistem konseling aktif dan budaya anti-perundungan yang nyata.

Di sisi lain, Kapolda NTT, Rudi Darmoko, menyatakan pihak kepolisian telah mengirim tim konselor psikologi untuk mendampingi keluarga korban di Kabupaten Ngada.

“Tim sudah kami kirim untuk memberikan pendampingan dan penguatan bagi keluarga korban,” ujarnya di Kupang.

 

BACA JUGA: Mengapa Kasus Bunuh Diri di Indonesia Didominasi oleh Remaja?

 

Tragedi anak di NTT ini menjadi pengingat bahwa perlindungan kesehatan mental anak perlu dimulai sejak dini, melalui kehadiran keluarga, sekolah, dan negara yang saling bekerja sama demi mencegah kejadian serupa terulang.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap keluarga yang sedang mengalami tekanan emosional, jawaban.com juga menyediakan layanan konseling dan pendampingan rohani.

Jika Anda, anak, atau anggota keluarga sedang berada dalam kondisi sulit dan membutuhkan tempat berbagi yang aman, jangan ragu untuk menghubungi Layanan Doa CBN melalui WhatsApp di 0822-1500-2424. Anda tidak sendirian, bantuan tersedia, dan harapan selalu ada.

Sumber : Berbagai Sumber

Ikuti Kami