Puluhan Tahun Menjadi Ayah, Bapak Warso Baru Menyadari Cara Mendidiknya Perlu Diubah

Impact Story / 1 October 2026

Puluhan Tahun Menjadi Ayah, Bapak Warso Baru Menyadari Cara Mendidiknya Perlu Diubah
Sumber: Jawaban.com
Aprita L Ekanaru Official Writer
406

Lebih dari 43 tahun menjalani rumah tangga membuat Bapak Warso memiliki banyak pengalaman sebagai suami dan ayah. Bersama istrinya, ia membesarkan seorang anak yang kini berusia 42 tahun.

Sejak bayi, anak mereka pernah mengalami kejadian yang berdampak pada kondisi otak dan sarafnya. Meski demikian, Bapak Warso bersyukur karena anaknya dapat bertumbuh cukup mandiri, bisa berjalan, bahkan pernah bersekolah di sekolah luar biasa.

Peran Bapak Warso sebagai orang tua ternyata tidak berhenti pada anak kandungnya. Ia dan istrinya juga beberapa kali menerima anak-anak yang dititipkan kepada mereka sejak usia sangat kecil hingga usia sekolah.

 

BACA JUGA: Dulu Dengar Suara Motor Ayahnya Pulang, Anak-Anak Langsung Menjauh, Kini Semua Berubah

 

Di rumah itu, anak-anak tersebut diperlakukan seperti keluarga sendiri. Kebutuhan makan, mandi, belajar, sekolah, bahkan hal sederhana seperti potong rambut ikut diperhatikan.

“Daycare kampung lah. Lebih kekeluargaan, menolong,” katanya.

Di balik kepeduliannya terhadap anak-anak, Bapak Warso menyadari ada satu kebiasaan yang cukup lama melekat dalam dirinya: mudah marah dan berbicara dengan nada tinggi.

“Saya itu suka marah. Kadang-kadang sampai emosi dengan nada tinggi.”

Istrinya beberapa kali harus mengingatkan saat cara bicaranya mulai keras. Bapak Warso juga menyadari bahwa pola pengasuhan yang diterimanya dari orang tua dahulu turut memengaruhi caranya mendidik.

Hal itu semakin terlihat saat pandemi Covid-19. Ketika mendampingi anak-anak belajar melalui ponsel, ia mudah emosi jika mereka tidak fokus dan justru membuka hal lain.

Saat Bapak Warso dan istrinya mengikuti The Parenting Project di gereja. Meski anak kandung mereka sudah dewasa, Bapak Warso merasa masih perlu belajar karena masih ada anak-anak yang mereka dampingi.

Dari tujuh modul yang diikutinya, materi tentang cara menegur anak menjadi salah satu yang paling membekas.

“Setelah ikut parenting, ternyata ini juga salah.”

Ia mulai memahami bahwa ketegasan tetap diperlukan, tetapi tidak harus selalu disampaikan dengan kemarahan.

“Kalau memang harus keras, ya keras, tapi kembali lagi dengan lemah lembut.”

 

Belajar Memahami Sebelum Bereaksi

Perubahan paling besar yang ia rasakan adalah caranya melihat kondisi anak. Jika dahulu perilaku tertentu mudah membuatnya jengkel, kini ia belajar memahami keterbatasan anak sebelum bereaksi.

“Kalau dulu lihat sikap begitu, kadang-kadang jengkel. Sekarang saya bisa memaklumi dan tahu kondisinya.”

Perubahan itu juga terasa dalam hubungannya dengan sang istri. Mereka semakin belajar menahan diri, saling meminta maaf, dan tidak membiarkan konflik berkembang menjadi saling menyerang.

“Saya minta maaf, istri juga minta maaf kalau memang masing-masing ada kesalahan.”

Kini, apa yang dipelajari Bapak Warso tidak hanya diterapkan di rumah. Dalam persekutuan bapak-bapak, ia juga kerap mengingatkan pentingnya menjadi ayah yang sungguh-sungguh memperhatikan keluarga dan hidup dekat dengan Tuhan.

“Menjadi Bapak yang baik, menjadi Bapak yang takut akan Tuhan, menjadi Bapak yang sungguh-sungguh memperhatikan keluarga.”

Bagi Bapak Warso, menjadi orang tua ternyata bukan soal seberapa lama seseorang sudah membesarkan anak. Bahkan setelah puluhan tahun, selalu ada ruang untuk belajar, berubah, dan menjadi lebih baik.

“Jangan mengandalkan pintar atau sukses dalam pekerjaan. Andalkan selalu Tuhan.”

 

BACA JUGA: “Saya Sudah Capek” — Perjalanan Ibu Sintike Saat Rumah Tangganya Hampir Hancur

 

Jika Anda juga rindu keluarga Anda dipulihkan, mari menjadi bagian dari The Parenting Project — program yang akan membekali Anda untuk membangun keluarga yang lebih sehat dengan menjadikan Kristus sebagai pusat.

Informasi lebih lanjut: www.theparentingproject.id atau hubungi via WhatsApp di 0811-1011-6556. Kami percaya setiap keluarga layak mengalami pemulihan.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?