Kasus Febiona Purba (16), siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sempat menjadi perhatian publik setelah ia diduga mengalami gangguan ingatan usai menjadi korban keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut keterangan keluarga yang diberitakan dari detik.com, Febiona awalnya menjalani perawatan akibat keracunan. Setelah pulang, ia disebut mengalami kejang dan kemudian menunjukkan perubahan perilaku serta gangguan ingatan. Namun saat itu Kementerian Kesehatan menegaskan belum dapat memastikan apakah gangguan tersebut memang berkaitan langsung dengan keracunan MBG.
Perkembangan selanjutnya membawa kabar baik. Setelah menjalani pemeriksaan di RSCM Jakarta, dokter pada 16 September 2026 menyatakan fungsi kognitif, memori jangka pendek dan jangka panjang Febiona dalam kondisi baik. Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) juga tidak menunjukkan adanya gangguan.
BACA JUGA: MBG Sajikan Menu UPF, Dr. Tan Dorong Program MBG Sajikan Makanan Lokal Bergizi untuk Anak
Meski begitu, kasus ini menjadi pembelajaran bagi kita semua. Apakah keracunan makanan memang bisa memengaruhi fungsi otak hingga menyebabkan gangguan daya ingat?
Kebanyakan Keracunan Menyerang Saluran Pencernaan
Praktisi kesehatan anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, menjelaskan bahwa keracunan makanan akibat cemaran bakteri atau kuman umumnya memicu gejala pada saluran pencernaan.
Tubuh berusaha mengeluarkan penyebab gangguan tersebut melalui muntah atau diare. “Kebanyakan kasus karena keracunan, reaksi tubuh adalah mengeluarkan lewat muntah atau diare,” jelasnya sebagaimana dikutip dari DetikHealth.
Karena itu, ketika muncul keluhan seperti kejang atau gangguan ingatan, penyebabnya perlu ditelusuri lebih jauh dan tidak bisa langsung dianggap sebagai efek biasa dari keracunan makanan.
Dalam membahas kasus Febiona, Prof. Damayanti mengatakan kemungkinan masih terdapat faktor lain yang belum diketahui. Artinya, penting untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum menentukan hubungan antara makanan yang dikonsumsi dengan gangguan neurologis yang muncul setelahnya.
BACA JUGA: Kasus Keracunan MBG Marak Lagi, Ajarkan Anak Kenali 7 Ciri Makanan Basi Ini
Keracunan Makanan Bisa Berdampak pada Sistem Saraf
Secara medis, keracunan makanan dalam kondisi tertentu dapat menimbulkan komplikasi pada sistem saraf dan fungsi otak. Namun, gangguan ingatan tidak otomatis dapat disimpulkan sebagai akibat langsung dari keracunan makanan. Penyebabnya tetap perlu ditentukan melalui pemeriksaan medis yang menyeluruh.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa sebagian besar penyakit akibat makanan memang bersifat ringan. Namun pada kasus tertentu, penyakit bawaan makanan dapat menimbulkan komplikasi serius, termasuk meningitis serta kerusakan otak dan saraf.
Salah satu contohnya adalah infeksi bakteri Listeria monocytogenes. Jika infeksi menjadi invasif dan menyebar keluar dari saluran pencernaan, penderitanya dapat mengalami sakit kepala, leher kaku, kebingungan, kehilangan keseimbangan hingga kejang.
Dehidrasi dan Elektrolit Juga Bisa Memengaruhi Otak
Gangguan fungsi otak juga tidak selalu terjadi karena kuman atau racun langsung menyerang otak. Muntah dan diare berat akibat keracunan makanan dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit.
Dehidrasi berat dapat memicu kebingungan hingga penurunan kesadaran. Sementara gangguan kadar natrium dalam darah atau hiponatremia juga dapat menyebabkan perubahan kondisi mental, kebingungan, bahkan kejang pada kondisi yang berat.
BACA JUGA: Profil dr. Tan Shot Yen, Komisi DPR IX yang Menyoroti Menu MBG untuk Pertumbuhan Anak
Bagaimana dengan Kondisi Febiona?
Perkembangan terbaru menunjukkan hasil yang melegakan. Setelah menjalani pemeriksaan lanjutan di RSCM Jakarta, dokter menyatakan fungsi memori jangka pendek maupun jangka panjang Febiona dalam kondisi baik, sementara pemeriksaan EEG juga tidak menunjukkan adanya gangguan.
Jadi, keracunan makanan dalam kondisi tertentu memang dapat memengaruhi sistem saraf dan fungsi otak, tetapi gangguan daya ingat bukanlah dampak yang otomatis terjadi pada setiap kasus keracunan makanan.
Gejala neurologis dapat disebabkan oleh banyak faktor, hubungan sebab-akibat hanya bisa ditentukan melalui pemeriksaan medis yang menyeluruh, bukan semata-mata karena gejalanya muncul setelah seseorang mengalami keracunan.
Sebagai orang percaya, kita diingatkan untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan saat melihat sebuah peristiwa. Hikmat berarti mau mencari kebenaran dengan hati-hati, menghargai proses pemeriksaan medis, sekaligus tetap menunjukkan kepedulian kepada mereka yang sedang mengalami masa sulit.
Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!