Dulu Dengar Suara Motor Ayahnya Pulang, Anak-Anak Langsung Menjauh, Kini Semua Berubah

Impact Story / 24 September 2026

Dulu Dengar Suara Motor Ayahnya Pulang, Anak-Anak Langsung Menjauh, Kini Semua Berubah
Sumber: Jawaban.com
Aprita L Ekanaru Official Writer
1588

Suara motor ayah mereka bahkan belum sampai di depan rumah. Namun kedua anak Pak Prawito Siregar sudah tahu siapa yang datang. Bukannya berlari menyambut, mereka justru memilih menjauh.

“Tadinya menjauh dari saya. Pokoknya motor dengar dari jauh aja sudah tahu mereka, ‘Oh ini sudah datang,’” kenang Pak Siregar.

 

BACA JUGA: Saat Ibu Yuni Berubah, Hubungan dengan Suami dan Anak Ikut Dipulihkan

 

Bagi Pak Siregar, respons anak-anaknya itu menjadi gambaran tentang bagaimana hubungan mereka dahulu. Sebagai ayah, ia dikenal mudah marah, emosional, dan temperamental. Namun jauh sebelum menjadi orang tua, ternyata ada luka masa kecil yang sudah lama ia bawa.

Pak Siregar kehilangan ayah sejak masih bayi. Ibunya harus berjuang seorang diri membesarkan tujuh anak. Dalam kondisi keluarga yang sulit, kedekatan dengan orang tua pun sangat terbatas.

Sejak duduk di sekolah dasar, Pak Siregar juga mengalami kekerasan dari abang-abangnya. Bahkan saat memasuki masa SMP, ia pernah diikat menggunakan karung dan dimasukkan ke kandang babi. Pengalaman tersebut meninggalkan luka yang terus terbawa hingga ia dewasa.

Setelah menikah dan memiliki dua anak laki-laki, Pak Siregar mulai menyadari bahwa trauma masa kecilnya memengaruhi cara ia merespons keluarga.

Ia mudah tersulut emosi. Ketika marah kepada istrinya, ia pernah memiliki dorongan untuk memukul, meskipun tidak sampai melakukannya. Kemarahannya kemudian dilampiaskan kepada benda di sekitarnya.

Pola yang sama juga muncul ketika mendidik anak. Saat kedua anaknya masih kecil dan bertengkar, Pak Siregar sering merespons dengan keras. Saat itu ia belum memahami cara mendidik anak selain dari pola pengasuhan yang pernah ia lihat dan alami sendiri.

“Dulu… yang ditahu adalah cara orang tua yang diturunkan,” katanya.

Tanpa disadari, luka yang pernah ia terima hampir diteruskan kepada anak-anaknya sendiri.

Perubahan mulai terjadi ketika Pak Siregar dan istrinya mengikuti The Parenting Project dan menyelesaikan seluruh tujuh modul. Ketika ditanya modul mana yang paling berkesan, Pak Siregar tidak bisa memilih satu.

“Semuanya itu mengena. Jadi enggak ada satupun yang saya pilih… semuanya saya ubah.”

Melalui The Parenting Project, ia mulai memahami bahwa pola pengasuhan yang diterima seseorang pada masa kecil tidak harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia mulai melihat kembali responsnya sebagai seorang ayah dan menyadari bahwa banyak hal yang pernah dilakukan kepada anak-anaknya ternyata keliru.

“Setelah saya mendengar ini… apalagi yang dulu-dulu itu ya salah.”

Pak Siregar juga mulai menyadari bahwa selama ini istrinya banyak bersabar dan mengalah ketika menghadapi temperamennya.

BagiPak Siregar, perubahan tidak cukup berhenti pada kesadaran. Ia memilih mengambil langkah untuk memperbaiki hubungan dengan anak-anaknya.

“Saya sudah minta maaf ke anak.”

Ia juga mulai melepaskan luka terhadap abang-abangnya. Jika sebelumnya pengalaman masa kecil itu masih menyisakan rasa sakit dan keinginan membalas, kini perasaan tersebut perlahan tidak lagi menguasainya.

“Untuk balas-balas dendam sudah enggak ada menurut saya.”

Di rumah, Pak Siregar pun berusaha menghentikan pola pengasuhan yang lama.

“Emosi sudah enggak, temperamen juga sudah enggak. Saya tidak mau berulang kayak dulu-dulu.”

Perubahan itu perlahan terasa dalam hubungan ayah dan anak. Anak-anak yang dahulu memilih menjauh ketika mendengar suara motor ayah mereka pulang, kini sudah mulai mau berbicara dan berinteraksi dengan Pak Siregar.

Ia pun belajar mengambil inisiatif untuk membangun kedekatan keluarga. Ketika ada kesempatan, ia mengajak istri dan anak-anaknya pergi bersama.

Hubungannya dengan anak sulung yang sedang kuliah di luar kota juga mulai berubah. Pak Siregar yang dahulu hampir tidak pernah menelepon kini mulai rajin menghubungi anaknya.

 

BACA JUGA: Ketika Ibu Maria Belajar Mengasuh dengan Kasih, Bukan Sekadar Aturan

 

“Tadinya saya enggak pernah nelpon. Ya sekarang mulai rajin nelpon, tanya kabarnya.”

Dari perjalanan itu, Pak Siregar belajar bahwa menjadi orang tua bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Namun orang tua masih dapat memilih untuk belajar, meminta maaf, dan memperbaiki hubungan dengan anak.

Ia tidak dapat mengubah apa yang terjadi pada masa kecilnya. Tetapi hari ini, ia bisa memilih agar luka tersebut tidak terus diwariskan kepada keluarganya.

 

Jika Anda juga rindu keluarga Anda dipulihkan, mari menjadi bagian dari The Parenting Project — program yang akan membekali Anda untuk membangun keluarga yang lebih sehat dengan menjadikan Kristus sebagai pusat.

Informasi lebih lanjut: www.theparentingproject.id atau hubungi via WhatsApp di 0811-1011-6556. Kami percaya setiap keluarga layak mengalami pemulihan.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?