Belajar dari Ayah Peter Pan, Sudahkah Kita Menyiapkan Masa Depan Anak Saat Kita Tiada?

Parenting / 17 September 2026

Belajar dari Ayah Peter Pan, Sudahkah Kita Menyiapkan Masa Depan Anak Saat Kita Tiada?
Sumber: Munhakdongne Publishing Group
Aprita L Ekanaru Official Writer
1621

Ada satu pertanyaan yang mungkin tidak ingin terlalu cepat dipikirkan oleh orang tua, tetapi suatu hari tetap perlu dihadapi. Bagaimana kehidupan anak kita jika suatu saat kita sudah tidak ada?

Pertanyaan inilah yang menjadi pergumulan besar Jeon Gyeong-cheol, pria Korea Selatan yang dikenal sebagai “Ayah Peter Pan”. Selama 27 tahun, ia membesarkan seorang diri putranya, Je-won, yang memiliki autisme berat. Meski telah tumbuh menjadi pria dewasa, kemampuan kognitif Je-won berada di kisaran anak usia dua sampai tiga tahun. Karena itulah sang ayah menggambarkannya seperti Peter Pan, anak yang seolah tidak pernah menjadi dewasa.

 

BACA JUGA: Tak Selalu Bilang “Boleh” atau “Tidak”, Ini 8 Cara Irfan dan Jennifer Bachdim Didik Anak

 

Pada April 2025, kehidupan mereka berubah. Jeon didiagnosis kanker hati stadium akhir dan diperkirakan hanya memiliki waktu hidup sekitar enam bulan. Sejak saat itu, ada satu hal yang lebih ia cemaskan daripada penyakitnya sendiri. Siapa kelak yang akan menjaga Je-won setelah dirinya pergi?

 

Kasih yang Memikirkan Hari Ketika Kita Tak Lagi Ada

Alih-alih hanya memikirkan sisa hidupnya, Jeon justru menggunakan waktunya untuk mencari tempat yang dapat merawat Je-won. Ia mendatangi berbagai fasilitas dan pusat kesejahteraan bagi penyandang disabilitas, tetapi perjalanan itu tidak mudah. Berulang kali ia menghadapi penolakan. Pengalaman tersebut kemudian ia tuliskan dalam sebuah buku. Ia juga terus menyuarakan perlunya sistem pendampingan yang lebih baik bagi orang dengan disabilitas perkembangan berat.

Jeon akhirnya meninggal pada 5 September 2026. Hingga akhir hidupnya, masa depan sang anak tetap menjadi salah satu hal terbesar yang ia perjuangkan.

Kisah Jeon memang memiliki konteks yang sangat khusus. Tidak semua anak membutuhkan pendampingan seumur hidup seperti Je-won. Namun pertanyaan yang ditinggalkannya relevan bagi banyak orang tua. Apakah kita hanya sedang merawat anak untuk hari ini, atau juga sedang mempersiapkan hidupnya saat kelak kita tidak lagi berada di sisinya?

 

Mempersiapkan Anak Bukan Berarti Berhenti Melindungi

Saat anak masih kecil, wajar jika orang tua menjadi pusat kehidupannya. Kita menyiapkan kebutuhannya, mengingatkan jadwalnya, menyelesaikan banyak persoalan, bahkan sering mengambil keputusan untuknya. Namun seiring anak bertumbuh, bentuk kasih juga perlu bertumbuh.

Anak perlu diberi kesempatan melakukan hal-hal yang sudah mampu ia kerjakan sendiri. Ia perlu belajar mengambil keputusan sesuai usianya, bertanggung jawab, mengelola uang, menghadapi kegagalan, meminta pertolongan, sampai mengenali siapa saja yang aman untuk dipercaya.

Bukan karena orang tua ingin menjauh. Justru karena kita menyadari bahwa kehadiran kita tidak akan berlangsung selamanya.

Bagi anak yang membutuhkan pendampingan khusus, bentuk persiapannya tentu berbeda. Kemandirian tidak selalu berarti mampu melakukan semuanya sendiri. Karena itu, orang tua juga perlu membangun sistem pendukung yang lebih luas, mulai dari keluarga, komunitas, tenaga profesional, hingga orang-orang yang benar-benar memahami kebutuhan anak.

 

BACA JUGA: Anak Saya Biasa-Biasa Saja, Haruskah Saya Khawatir?

 

Jangan Menjadi Satu-satunya Dunia Anak

Kadang kasih membuat orang tua ingin selalu hadir dan menyelesaikan semuanya. Namun salah satu warisan terpenting yang dapat kita berikan adalah memastikan kehidupan anak tetap memiliki pijakan ketika kita sudah tidak ada.

Kita bisa mulai dengan pertanyaan sederhana. Siapa yang anak percaya selain ayah dan ibu? Keterampilan apa yang perlu mulai ia pelajari? Apakah ia tahu harus meminta bantuan kepada siapa saat menghadapi masalah? Apakah ada keluarga atau komunitas yang benar-benar mengenalnya?

Kita tidak perlu menunggu sampai usia tua atau keadaan darurat untuk mulai memikirkannya.

Dari kisah “Ayah Peter Pan”, kita diingatkan bahwa kasih orang tua bukan hanya tentang menjaga anak selama kita hidup. Kasih juga berarti mempersiapkan mereka agar tetap memiliki orang, kemampuan, dan pijakan untuk menjalani hidup ketika suatu hari kita tak lagi berada di sana.

Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.com
Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?