Kita mungkin merasa sudah mengenal Yesus karena sudah lama mendengar tentang Dia, membaca kisah-Nya, atau aktif di gereja. Tapi tanpa disadari, cara kita melihat Yesus bisa dibentuk oleh pengalaman masa lalu, pengajaran yang pernah kita dengar, budaya, bahkan kekecewaan saat doa tidak berjalan seperti yang kita harapkan.
Dari situlah muncul berbagai gambaran tentang Yesus yang sebenarnya tidak sepenuhnya sesuai dengan Alkitab. Kalau memakai istilah yang lebih dekat dengan kita sekarang, anggapan-anggapan ini bisa disebut sebagai “hoax tentang Yesus”. Bukan hoax dalam arti berita bohong yang sengaja dibuat, melainkan pemahaman keliru yang terus diulang hingga akhirnya dipercaya sebagai kebenaran.
Masalahnya, cara kita melihat Yesus akan memengaruhi cara kita berhubungan dengan-Nya. Karena itu, mari kembali kepada Alkitab dan melihat apakah beberapa anggapan yang selama ini kita percaya tentang Yesus benar-benar sesuai dengan firman Tuhan.
1. Hoax: Yesus Akan Marah Ketika Kita Gagal
Ada orang yang membayangkan Yesus sebagai Pribadi yang sedikit-sedikit marah. Salah langkah, Tuhan marah. Jatuh dalam dosa, Tuhan langsung menjauh.
Yesus memang tidak pernah berkompromi dengan dosa. Namun, cara-Nya memperlakukan orang berdosa justru dipenuhi kasih dan belas kasihan.
Ketika seorang perempuan yang tertangkap berbuat zinah dibawa kepada-Nya, Yesus tidak membenarkan dosanya. Tetapi Dia juga tidak mempermalukan dan menghancurkannya.
“Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes 8:11)
Yesus menegur orang yang berdosa, tetapi tujuan-Nya adalah membawa manusia kepada pertobatan dan pemulihan, bukan sekadar menghukum.
BACA JUGA: Fun Fact: 5 Hal Baru yang Cuma Bisa Kamu Dapatkan di The Passion of the Christ Versi Baru
2. Hoax: Kalau Kita Berdoa dengan Benar, Yesus Pasti Mengabulkan Semua Permintaan
Kadang hubungan dengan Tuhan tanpa sadar berubah seperti transaksi.
Saya sudah berdoa. Saya sudah berpuasa. Saya sudah percaya. Jadi, Tuhan seharusnya memberikan apa yang saya minta.
Padahal, Yesus sendiri menunjukkan bahwa doa bukan cara untuk memaksa Tuhan mengikuti keinginan kita. Di Taman Getsemani, Yesus berdoa:
“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:39)
Doa bukan alat agar Tuhan mengikuti kehendak kita. Doa merupakan tempat kita belajar menyerahkan kehendak kepada-Nya.
3. Hoax: Penderitaan Berarti Tuhan Sedang Menghukum Kita
Ketika sesuatu yang buruk terjadi, kita bisa cepat menyimpulkan, “Apa salah saya sampai Tuhan melakukan ini?”
Yesus pernah menjawab pola pikir seperti ini ketika murid-murid melihat seorang yang buta sejak lahir. Mereka bertanya siapa yang berdosa hingga orang itu lahir buta. Tetapi Yesus menjawab dengan mengejutkan:
“Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yohanes 9:3)
Tidak semua penderitaan merupakan hukuman langsung atas dosa tertentu. Dunia yang kita tinggali memang tidak bebas dari penderitaan, tetapi Tuhan tetap dapat bekerja di tengah keadaan yang sulit.
4. Hoax: Tuhan Tidak Akan Pernah Memberi Masalah yang Melebihi Kemampuan Kita
Kalimat ini sangat populer. Tapi, ada masa ketika hidup memang terasa jauh melampaui kemampuan kita. Paulus bahkan pernah mengakui bahwa tekanan yang dialaminya begitu berat sampai ia merasa tidak sanggup lagi menanggungnya.
“Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami.” (2 Korintus 1:8)
Lalu ia menjelaskan bahwa pengalaman itu membuat mereka tidak lagi mengandalkan diri sendiri, melainkan Allah.
Kekristenan tidak menjanjikan bahwa kita selalu cukup kuat menghadapi semuanya. Justru ada masa ketika kita menyadari bahwa kita membutuhkan kekuatan Tuhan.
BACA JUGA: 10 Ayat Ini Ingatkan Kita Soal Siapa Yesus yang Sebenarnya
5. Hoax: Kalau Tuhan Diam, Berarti Dia Tidak Peduli
Pernah berdoa berkali-kali tetapi keadaan seperti tidak berubah? Dalam kondisi seperti itu, sangat mudah berpikir bahwa Tuhan tidak peduli.
Salah satu gambaran paling jelas tentang hati Yesus terlihat ketika Lazarus meninggal. Ketika melihat Maria dan orang-orang di sekitarnya menangis, Alkitab mencatat sesuatu yang sangat sederhana:
“Maka menangislah Yesus.” (Yohanes 11:35)
Yesus tahu Lazarus akan dibangkitkan. Namun, Dia tetap hadir dalam kesedihan mereka.
Diamnya Tuhan tidak otomatis berarti ketidakpedulian. Kita mungkin belum melihat apa yang sedang Dia kerjakan, tetapi karakter-Nya tidak berubah.
Sumber : crosswalk.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!