Ada beberapa emosi yang begitu menguras tenaga atau diam-diam merusak seperti rasa iri. Berbeda dengan kesedihan atau kemarahan yang biasanya muncul akibat kemalangan diri sendiri, rasa iri sepenuhnya dipicu oleh keberuntungan atau kelimpahan orang lain. Melihat rekan kerja mendapatkan promosi, tetangga membeli rumah, atau teman menemukan kebahagiaan sejati seharusnya bisa menumbuhkan harapan. Namun, bagi pikiran yang dipenuhi rasa iri, keberhasilan orang lain justru terasa seperti gerhana yang menutupi kehidupan mereka sendiri.
Rasa iri itu ibarat menyalakan api di ruang tamu sendiri hanya untuk membuat kesal orang yang lewat di udara dingin. Andalah yang menghirup asapnya, menderita luka bakar, dan akhirnya harus menyapu sisa-sisa abunya. Iri hati itu juga ibarat minum racun, namun mengharapkan orang lain yang sakit dan mati. Iri hati juga ibarat menggenggam bara api yang menyala hebat yang menyakitkan dan melukai orang yang menggenggamnya terlebih dahulu sebelum ia melemparkan bara api itu kepada orang yang tidak ia sukai.
Baca Juga: Hanyut Perlahan: Mengapa Niat Baik Pun Bisa Membuat Kita Menyimpang?
Dampak fisik dari kepahitan ini sangatlah parah. Jauh sebelum dunia medis modern mengaitkan sikap permusuhan kronis dengan tekanan darah tinggi, penurunan kekebalan tubuh, dan gangguan tidur, kearifan kuno telah mendiagnosis kondisi ini dengan sangat jelas. Amsal 14:30 menyatakan: “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.” Saat Anda terpaku pada apa yang dimiliki orang lain, sistem saraf Anda terjebak dalam respons “fight-or-flight” (lawan-atau-lari) yang terus-menerus. Vitalitas fisik Anda terkuras habis dari dalam—sementara orang yang Anda iri justru tidur nyenyak, sama sekali tidak menyadari pergulatan batin Anda.
Sejarah menyajikan gambaran tragis mengenai kehancuran akibat hal ini pada diri Presiden Richard Nixon. Nixon bangkit dari latar belakang sederhana hingga mencapai puncak kekuasaan politik, namun ia terus-menerus tersiksa oleh rasa iri terhadap John F. Kennedy. Nixon iri pada karisma alami, ketampanan, kekayaan, dan popularitas Kennedy yang tampak begitu mudah diraih. Bahkan setelah berhasil menduduki Gedung Putih, Nixon tidak mampu melepaskan rasa pahit itu. Rasa iri yang terus bercokol itu memicu paranoia mendalam yang menggerogoti stamina fisiknya, mengaburkan penilaiannya, serta mendorong keputusan-keputusan konfrontatif yang pada akhirnya menghancurkan masa kepresidenannya. Ia memegang jabatan tertinggi di negara itu, namun menghabiskan hari-harinya dengan terpenjara oleh kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Baca Juga: Mengetahui Kebenaran VS Menghidupinya: Mengapa Informasi Saja Tidak Dapat Membebaskan Anda?
Untuk lepas dari jerat tersebut, diperlukan kerendahan hati untuk menyadari bahwa keberhasilan orang lain bukanlah kekalahan bagi Anda. Contoh nyata dari perubahan sikap ini adalah Sylvester Stallone. Di puncak kariernya pada tahun 1980-an, Stallone sempat diliputi rasa iri yang mendalam terhadap saingan utamanya, Arnold Schwarzenegger. Stallone belakangan mengakui bahwa rasa irinya bersifat merusak: ia benci mendengar kabar tentang kesuksesan “box-office” Schwarzenegger, terobsesi dengan kondisi fisik pesaingnya itu, serta melakukan kesalahan karier yang impulsif akibat rasa dengki yang picik. Gesekan yang terus-menerus itu membuatnya terkuras secara emosional dan senantiasa diliputi kecemasan.
Pada akhirnya, Stallone menyadari bahwa persaingan yang ia ciptakan sendiri itu justru menggerogoti hidupnya. Ia secara sadar memilih untuk melepaskan rasa benci, berhenti terjebak dalam siklus perbandingan tiada henti, dan berfokus pada bidangnya sendiri sembari mengapresiasi kelebihan unik yang dimiliki Schwarzenegger. Melepaskan kepahitan itu ibarat meletakkan beban mental yang sangat berat, memulihkan energinya, dan memungkinkan kedua mantan pesaing tersebut menjalin persahabatan yang langgeng.
Langit memiliki ruang yang cukup luas bagi setiap bintang untuk bersinar tanpa harus meredupkan cahaya bintang lainnya. Saat Anda belajar untuk benar-benar turut bersukacita atas keberhasilan orang lain, Anda melumpuhkan racun rasa dengki sekaligus memberikan ketenangan yang menyehatkan bagi tubuh dan pikiran Anda sendiri.
Harry Lee MD; PsyD; BBS
Pastor & Gembala Restoration Christian Church – Los Angeles
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!