Setiap hari rasanya selalu ada yang harus dikerjakan. Bangun pagi, berangkat kerja, menyelesaikan tugas, mengurus rumah, mengejar target, membuka media sosial, lalu tiba-tiba hari sudah malam. Besok, pola yang sama kembali terulang.
Di tengah kesibukan seperti itu, pernahkah kita berhenti sebentar dan bertanya, sebenarnya waktu hidup kita selama ini habis untuk apa?
Ada orang yang memilih menggunakan sebagian waktunya untuk membantu korban bencana, menjadi relawan, mendampingi anak-anak, mengunjungi orang sakit, atau hadir bagi seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan. Di sisi lain, ada pula orang yang hampir seluruh waktunya terserap untuk mengejar kenyamanan, pencapaian, dan kepentingan pribadi.
Lalu bagaimana Alkitab memandang penggunaan waktu dalam hidup kita?
Waktu adalah Sesuatu yang Terbatas
Alkitab berulang kali mengingatkan bahwa hidup manusia tidak berlangsung selamanya. Karena itu, waktu bukan sesuatu yang bisa kita perlakukan seolah-olah persediaannya tidak akan pernah habis.
Mazmur 90:12 berkata, "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana."
Ayat ini bukan sekadar mengingatkan bahwa suatu hari manusia akan meninggal. Ada pesan yang lebih dalam, yaitu kesadaran bahwa hari-hari kita terbatas seharusnya memengaruhi cara kita menjalani kehidupan.
Semakin kita menyadari bahwa waktu tidak dapat diputar kembali, semakin penting pula pertanyaan tentang bagaimana kita menggunakannya.
Uang yang hilang mungkin masih bisa dicari kembali. Kesempatan tertentu mungkin masih bisa datang lagi. Tetapi satu jam yang sudah berlalu tidak pernah bisa dikembalikan.
Karena itu, dalam Efesus 5:15-16 Paulus mengingatkan, "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat."
Alkitab ternyata tidak hanya berbicara mengenai apa yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana kita menggunakan waktu yang tersedia.
Menggunakan Waktu dengan Baik Bukan Berarti Harus Selalu Sibuk
Ayat tentang menggunakan waktu sering kali disalahartikan sebagai tuntutan supaya seseorang harus terus produktif. Padahal, Alkitab tidak mengajarkan bahwa setiap menit harus diisi dengan pekerjaan atau pelayanan.
Yesus sendiri menyediakan waktu untuk beristirahat, berdoa, makan bersama orang lain, dan menjauh dari keramaian. Dalam Markus 6:31, Yesus bahkan mengajak murid-murid-Nya pergi ke tempat yang sunyi untuk beristirahat setelah mereka begitu sibuk melayani.
Jadi beristirahat bukanlah pemborosan waktu. Menghabiskan waktu bersama keluarga, menikmati percakapan dengan sahabat, menjaga kesehatan, tidur yang cukup, bahkan menikmati hidup juga memiliki tempatnya.
Persoalannya bukan apakah kita cukup sibuk. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah seluruh waktu hidup kita hanya berpusat pada diri sendiri.
Alkitab Mengajak Kita Melihat Kebutuhan Orang Lain
Filipi 2:4 mengatakan, "Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."
Perhatikan bahwa Alkitab tidak mengatakan kita tidak boleh memperhatikan kepentingan sendiri. Kita tetap perlu bekerja, memenuhi kebutuhan, beristirahat, menjaga kesehatan, dan mengurus keluarga.
Namun ada satu kata penting dalam ayat ini, yaitu "hanya". Hidup menjadi bermasalah ketika seluruh waktu, tenaga, perhatian, dan kemampuan kita hanya diarahkan untuk keuntungan diri sendiri.
BACA HALAMAN SELANJUTNYA>>
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!