Sering Bentak Anak, Ibu Karisah Menangis Setelah Belajar Cara Parenting yang Benar

Impact Story / 10 September 2026

Sering Bentak Anak, Ibu Karisah Menangis Setelah Belajar Cara Parenting yang Benar
Sumber: Jawaban.com
Aprita L Ekanaru Official Writer
1635

Bagi Ibu Karisah, menghadapi Bryan, anak bungsunya yang berusia 11 tahun, sering kali menguras emosi. Setiap kali ia mencoba memberi arahan, terutama soal bermain handphone atau belajar, percakapan sederhana bisa berubah menjadi pertengkaran.

Bryan kerap membantah dengan suara keras. Sebagai ibu, Ibu Karisah pun terpancing emosi dan membalas dengan nada yang tidak kalah tinggi.

“Kalau saya bilangin anak saya, dia pasti membantah, jawabnya dengan keras ke saya. Jadi saya juga sebagai orang tua pasti emosi, tambah marah,” kenangnya.

 

BACA JUGA: “Mama Juga Main Handphone,” Jawaban Anak Ini Jadi Teguran bagi Ibu Dian

 

Dalam kemarahannya, bahkan pernah keluar kata-kata kasar yang kemudian ia sesali.

“Saya marah-marah anak saya, pokoknya kata-kata yang kasar, misalkan, ‘Kamu ini dasar bodoh.’”

Alih-alih membuat Bryan menurut, cara tersebut justru membuat keadaan semakin sulit. Saat diminta belajar, misalnya, pertengkaran sering membuat Bryan akhirnya tidak jadi belajar sama sekali.

 

Saat Sebuah Modul Membuatnya Menangis

Cara pandang Ibu Karisah mulai berubah setelah ia mengikuti The Parenting Project. Salah satu materi yang paling membekas baginya adalah tentang “tangki emosi anak”.

Materi itu membuatnya melihat kembali bagaimana selama ini ia memperlakukan Bryan. Ia mulai menyadari bahwa bentakan dan kata-kata keras yang dianggapnya sebagai bentuk mendisiplinkan anak ternyata meninggalkan dampak berbeda.

Kesadaran itu begitu kuat hingga membuatnya menangis di gereja.

“Setelah saya tahu mengenai tangki emosi anak yang saya pelajari, benar-benar sampai saya nangis di gereja. Oh ternyata cara mendidik anak saya itu salah,” ungkapnya.

Bagi Ibu Karisah, pembelajaran itu terasa lebih dari sekadar kelas parenting. Ia merasa Tuhan sedang menegurnya secara pribadi.

Bahkan ketika pulang ke rumah, ia kembali menangis saat melihat Bryan dan mengingat berbagai perkataan kasar yang pernah keluar dari mulutnya.

“Tuhan tegur saya dengan Parenting Project itu. Tuhan tegur saya, mendidik anak itu jangan kayak gitu, harus dengan lemah lembut, harus dengan pelan-pelan.”

 

“Mami Minta Maaf”

Ibu Karisah kemudian melakukan sesuatu yang mungkin tidak mudah bagi sebagian orang tua. Ia menghampiri anaknya dan meminta maaf sambil menangis penuh penyesalan.

“Selama ini saya mendidik Adik salah. Mami minta maaf.”

Bryan pun menangis mendengar permintaan maaf ibunya. Momen itu menjadi titik baru dalam hubungan mereka. Sejak saat itu, Ibu Karisah mulai belajar menyampaikan arahan dengan lebih tenang. Ketika waktunya berhenti bermain handphone, makan, atau belajar, ia tidak lagi langsung menggunakan bentakan.

Perubahan cara berbicara itu ternyata membawa respons yang berbeda dari Bryan. Kini ketika diminta belajar, Bryan mulai melakukannya tanpa ibunya harus bersuara keras. Saat waktu bermain handphone selesai, ia lebih mudah meletakkannya. Bahkan ketika dipanggil atau diminta membantu, Bryan menjadi lebih responsif.

“Sekarang ada perubahannya. Nilainya di sekolah juga bagus,” tutur Ibu Karisah.

Perubahan itu perlahan turut memengaruhi suaminya. Meski tidak mengikuti seluruh sesi The Parenting Project, Ibu Karisah membagikan apa yang dipelajarinya kepada sang suami. Menurut pengamatannya, kebiasaan membentak anak di rumah pun mulai berkurang.

Bagi Ibu Karisah, perubahan keluarganya bermula ketika ia berani mengakui bahwa bukan hanya anak yang perlu berubah. Sebagai orang tua, ia pun perlu belajar.

“Saya yang tadinya tidak tahu jadi tahu bagaimana cara parenting yang baik untuk anak.”

Dari sebuah teguran, permintaan maaf, dan keberanian untuk mengubah cara memperlakukan anak, hubungan Ibu Karisah dan Bryan perlahan dipulihkan.

 

BACA JUGA: Setelah Anak Dewasa, Ibu Hastuti Baru Menyadari Luka yang Pernah Ia Tinggalkan

 

Jika Anda juga rindu keluarga Anda dipulihkan, mari menjadi bagian dari The Parenting Project — program yang akan membekali Anda untuk membangun keluarga yang lebih sehat dengan menjadikan Kristus sebagai pusat.

Informasi lebih lanjut: www.theparentingproject.id atau hubungi via WhatsApp di 0811-1011-6556. Kami percaya setiap keluarga layak mengalami pemulihan.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?