Masker Diburu Saat Bencana, Wajarkah Penjual Ambil Untung Lebih Besar?

Finance / 8 September 2026

Masker Diburu Saat Bencana, Wajarkah Penjual Ambil Untung Lebih Besar?
Sumber: Canva.com
Aprita L Ekanaru Official Writer
1487

Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat kebutuhan masker melonjak di sejumlah wilayah. Di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, warga ramai mencari masker setelah abu vulkanik menyebar, bahkan salah satu pedagang mengaku telah menjual ratusan boks. Sementara itu, di Jakarta Selatan, harga masker dilaporkan mulai naik sekitar 30 persen mengikuti kenaikan harga dari distributor.

Fenomena ini sebenarnya mudah dipahami dari sisi ekonomi. Ketika permintaan suatu barang melonjak sementara pasokan terbatas, harga berpotensi ikut naik. Bagi penjual masker, tingginya permintaan tentu juga menjadi peluang bisnis untuk meningkatkan penjualan dan keuntungan.

Namun ketika produk yang dijual sedang sangat dibutuhkan masyarakat, khususnya mereka yang terdampak bencana, muncul pertanyaan lain. Sampai sejauh mana peluang tersebut pantas dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan lebih besar?

 

BACA JUGA: Jastip PRJ Ramai! Jangan Malu, Ini Cara Ubah Peluang Kecil Jadi Berkat

 

Harga Naik Belum Tentu Berarti Memanfaatkan Keadaan

Tidak semua kenaikan harga masker otomatis berarti penjual sedang mengambil keuntungan dari musibah.

Harga dapat berubah karena stok dari distributor berkurang, biaya pengadaan meningkat, atau rantai distribusi terganggu. Dalam situasi seperti ini, penjual mungkin memang perlu menyesuaikan harga agar bisnisnya tetap berjalan.

Masalahnya berbeda ketika harga sengaja dinaikkan jauh di atas kewajaran hanya karena penjual mengetahui pembeli sedang terdesak dan tidak memiliki banyak pilihan.

Dalam kondisi bencana, masker bukan lagi sekadar produk biasa. Masker menjadi alat perlindungan yang dibutuhkan banyak orang untuk mengurangi risiko paparan abu dan partikel di udara. Bahkan BNPB mengimbau masyarakat terdampak abu vulkanik Anak Krakatau untuk menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Di sinilah keuntungan dan kepentingan banyak orang perlu dipertimbangkan bersama.

 

Bisnis Tetap Butuh Untung, Tetapi Ada Integritas yang Harus Dijaga

Alkitab tidak mengajarkan bahwa mencari keuntungan melalui bisnis adalah sesuatu yang salah. Namun cara mendapatkan keuntungan tetap menjadi hal yang penting.

Amsal 11:1 mengatakan, “Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat.”

Prinsip ini mengingatkan bahwa aktivitas ekonomi juga perlu dijalankan dengan kejujuran dan keadilan. Bagi seorang pebisnis, kesempatan mendapatkan keuntungan tidak harus selalu berarti mengambil keuntungan sebesar-besarnya.

Ada perbedaan antara mendapatkan profit yang wajar dan memaksimalkan keuntungan karena orang lain sedang berada dalam kesulitan.

Bahkan saat permintaan sedang tinggi, pebisnis dapat memilih untuk mempertahankan margin yang sehat, tidak menimbun stok, membatasi pembelian agar masker tersedia bagi lebih banyak orang, atau menyisihkan sebagian produk untuk membantu masyarakat terdampak.

 

BACA JUGA: Kalau Mau Kaya, Jangan Cuma Kejar Uang! Albertus Axel Ungkap Alasannya

 

Saat Peluang Bisnis Menjadi Ujian Integritas

Bencana memang dapat menciptakan permintaan baru dalam pasar. Namun bagi orang percaya, situasi seperti ini juga dapat menjadi ujian bagaimana prinsip iman diterapkan dalam keputusan keuangan.

Pertanyaannya bukan hanya, “Berapa besar keuntungan yang bisa saya dapatkan hari ini?” tetapi juga, “Apakah cara saya memperoleh keuntungan tetap adil bagi orang yang sedang membutuhkan?”

Sebab bisnis yang sehat bukan hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga membangun kepercayaan. Dan terkadang, memilih keuntungan yang wajar di tengah krisis justru menunjukkan nilai bisnis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengejar cuan sesaat.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?