Diduga Terdampak Asap Karhutla, Orang Utan Sempurna Mati! Apakah Tuhan Peduli pada Hewan?

Kata Alkitab / 8 September 2026

Diduga Terdampak Asap Karhutla, Orang Utan Sempurna Mati! Apakah Tuhan Peduli pada Hewan?
Sumber: gambar hanya ilustrasi dari Canva.com
Aprita L Ekanaru Official Writer
2215

Kematian seekor orang utan Kalimantan bernama Sempurna menjadi kabar memilukan dari Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Orang utan jantan dewasa itu ditemukan pada 30 Agustus 2026 dalam kondisi sangat lemah di sebuah parit kering di area perkebunan kelapa sawit. Ia tidak mampu berdiri, bergerak terbatas, dan mengalami kesulitan bernapas.

Tim BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia kemudian mengevakuasinya. Sempurna sempat mendapat terapi oksigen dan cairan intravena sebelum dibawa ke pusat rehabilitasi. Namun kondisinya terus menurun hingga ia dinyatakan mati pada sore hari. Hasil nekropsi menunjukkan perubahan patologis pada paru-paru, jantung, dan ginjal. Kondisi paru-parunya diduga berkaitan dengan paparan asap yang berpotensi menyebabkan kekurangan oksigen akut dalam tubuh.

 

BACA JUGA: Karhutla Makin Mengkhawatirkan, Inilah Mandat Manusia terhadap Alam Menurut Alkitab

 

Kisah Sempurna mengingatkan kita bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak pada manusia. Ketika hutan terbakar, satwa juga kehilangan tempat berlindung, sumber makanan, bahkan udara yang aman untuk bernapas.

Lalu muncul sebuah pertanyaan yang mungkin jarang kita pikirkan. Apakah Tuhan juga peduli pada hewan?

 

Hewan Juga Bagian dari Ciptaan yang Disebut Baik

Sejak awal Alkitab, hewan tidak pernah digambarkan sebagai sesuatu yang tidak berarti. Dalam Kejadian 1, Allah menciptakan berbagai makhluk hidup di laut, udara, dan darat. Setelah menciptakan semuanya, Allah melihat bahwa ciptaan-Nya itu baik.

Manusia memang memiliki posisi yang unik. Kejadian 1:26-28 menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah serta menerima mandat untuk berkuasa atas ciptaan. Namun “berkuasa” bukan berarti manusia mendapat izin untuk memperlakukan alam dan satwa sesuka hati.

Mandat itu justru mengandung tanggung jawab. Kejadian 2:15 menyebut manusia ditempatkan di taman untuk “mengusahakan dan memelihara” taman tersebut. Artinya, kekuasaan manusia atas ciptaan seharusnya mencerminkan karakter Sang Pencipta, bukan menjadi alasan untuk mengeksploitasi.

 

Tuhan Memperhatikan Kehidupan Hewan

Amsal 12:10 berkata, “Orang benar memperhatikan hidup hewannya, tetapi belas kasihan orang fasik itu kejam.”

Ayat ini menarik karena Alkitab menghubungkan kebenaran seseorang dengan caranya memperlakukan makhluk hidup. Kepedulian terhadap hewan bukan hanya urusan aktivis lingkungan atau pecinta satwa. Belas kasih terhadap ciptaan juga dapat menjadi bagian dari karakter orang yang hidup benar di hadapan Tuhan.

Pemeliharaan Tuhan terhadap hewan juga terlihat dalam Mazmur 147:9. Pemazmur mengatakan bahwa Tuhan memberi makanan kepada hewan dan kepada anak-anak burung gagak yang berseru kepada-Nya.

Yesus pun menggunakan burung sebagai gambaran pemeliharaan Bapa. Dalam Matius 6:26, Ia mengajak murid-murid melihat burung-burung di langit yang tidak menabur atau menuai, tetapi tetap diberi makan oleh Bapa di surga.

Tentu, Yesus juga menegaskan bahwa manusia jauh lebih berharga daripada burung. Alkitab tidak menyamakan posisi manusia dengan hewan. Namun perkataan itu justru menunjukkan satu hal penting. Jika burung saja tidak luput dari perhatian Tuhan, berarti kehidupan hewan bukan sesuatu yang tidak diperhatikan-Nya.

 

Bahkan Tuhan Menyebut Ternak dalam Belas Kasihan-Nya

Salah satu bagian Alkitab yang mengejutkan terdapat dalam Yunus 4:11. Ketika Yunus marah karena Tuhan tidak menghukum Niniwe, Tuhan menjelaskan mengapa Ia mengasihani kota tersebut.

Tuhan menyebut lebih dari 120 ribu manusia yang tidak dapat membedakan tangan kanan dari tangan kiri, lalu menambahkan, “dengan ternaknya yang banyak.”

Mengapa ternak disebut?

Karena belas kasihan Tuhan ternyata menjangkau seluruh ciptaan yang hidup di dalam kota itu. Tuhan bukan hanya melihat manusia. Ia juga mengetahui keberadaan makhluk-makhluk lain yang akan ikut mengalami kehancuran apabila kota tersebut dihukum.

 

Kalau Tuhan Peduli, Bagaimana dengan Kita?

Kematian Sempurna seharusnya membuat kita memikirkan kembali hubungan manusia dengan alam. Karhutla sering dibahas dari sisi kerugian ekonomi, kualitas udara, atau kesehatan manusia. Semua itu penting. Namun di balik hutan yang terbakar, ada makhluk hidup yang tidak bisa melakukan konferensi pers, mengungsi dengan kendaraan, atau meminta pertolongan ketika habitatnya berubah menjadi asap.

Mereka ikut menanggung konsekuensi dari apa yang terjadi pada lingkungan. Dalam kasus orang utan, hilangnya hutan bukan sekadar kehilangan pepohonan. Hutan adalah rumah, tempat mencari makan, berpindah, beristirahat, dan berkembang biak. Ketika ruang hidup itu rusak, satwa bisa terdorong mendekati perkebunan atau permukiman, sehingga risiko konflik dengan manusia juga meningkat.

Sebagai orang percaya, menjaga ciptaan bukan berarti menempatkan alam lebih tinggi daripada manusia. Sebaliknya, kita menjaga ciptaan karena kita menghormati Pemiliknya. Kepedulian itu bisa dimulai dari hal sederhana, seperti tidak mendukung tindakan yang merusak habitat, mengelola sampah dengan bertanggung jawab, tidak memperjualbelikan satwa liar, serta mendukung upaya konservasi yang melindungi kehidupan.

 

BACA JUGA: 8 Ayat Alkitab Tentang Manusia Harus Merawat Ciptaan Tuhan

 

Mazmur 24:1 menegaskan, “TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya.” Bumi ini bukan milik kita untuk diperlakukan tanpa batas. Kita hanyalah pengelola dari sesuatu yang pada akhirnya tetap menjadi milik Tuhan.

Karena itu, pertanyaan “Apakah Tuhan peduli pada hewan?” memiliki jawaban yang cukup jelas dari Alkitab. Ya, Tuhan peduli pada ciptaan-Nya. Ia memberi makan, memelihara, dan bahkan memasukkan kehidupan hewan dalam gambaran belas kasihan-Nya.

Pertanyaan berikutnya justru ditujukan kepada kita. Jika Tuhan peduli, apakah kita juga mau peduli?

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?