Gunung Anak Krakatau kembali mengalami rangkaian erupsi sejak 4 September 2026. Aktivitas tersebut menghasilkan abu vulkanik dalam jumlah besar yang kemudian terbawa angin ke berbagai wilayah.
Berdasarkan pemantauan BMKG pada 6 September 2026, sebaran abu vulkanik Anak Krakatau terdeteksi melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Pada 7 September, abu masih terpantau menyebar terutama ke sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat dan selatan, Lampung, serta Bengkulu.
Aktivitas vulkanik juga tidak hanya terjadi di Anak Krakatau. Sejumlah gunung api lain di Indonesia, termasuk Semeru, Merapi, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung, juga berada dalam status aktivitas tinggi pada periode ini.
Karena itu, masyarakat yang tinggal di daerah terdampak abu vulkanik perlu lebih waspada terhadap kesehatan, khususnya saluran pernapasan.
BACA JUGA: Masker Diburu Saat Bencana, Wajarkah Penjual Ambil Untung Lebih Besar?
Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, membagikan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi risiko paparan abu. Ia mengingatkan bahwa meskipun abu terlihat tipis, jika terus-menerus terhirup, partikel tersebut dapat memicu reaksi alergi dan gangguan saluran pernapasan.
1. Tetap Pakai Masker Saat Keluar Rumah
Dr. Tirta menyarankan masyarakat tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, sekalipun abu vulkanik hanya terlihat tipis. Tujuannya untuk mengurangi partikel yang masuk ke saluran pernapasan.
2. Jangan Langsung Menyapu Abu
Jika abu menumpuk di halaman atau sekitar rumah, jangan langsung menyapunya dalam kondisi kering.
Menurut dr. Tirta, tindakan tersebut justru membuat partikel abu kembali beterbangan dan berpotensi memicu batuk serta sesak napas. Sebaiknya, basahi terlebih dahulu abu dengan air sebelum dibersihkan.
3. Bersihkan Wajah dengan Hati-hati
Abu yang menempel pada wajah sebaiknya segera dibersihkan menggunakan pembersih wajah dan air. Hindari langsung menggosok kulit karena partikel abu dapat menyebabkan iritasi atau lecet.
BACA JUGA: Penutupan Bandara Diperpanjang Akibat Erupsi Anak Krakatau, Kini Dampaknya Makin Meluas
4. Sementara Hindari Olahraga Outdoor
Bagi yang terbiasa jogging, bersepeda, atau berolahraga di luar ruangan, dr. Tirta menyarankan untuk sementara memindahkan aktivitas tersebut ke dalam ruangan. Aktivitas fisik membuat kita bernapas lebih banyak sehingga risiko menghirup abu juga meningkat.
Abu vulkanik mungkin terlihat seperti debu biasa, tetapi dampaknya terhadap kesehatan tidak boleh dianggap sepele. Jika wilayah tempat tinggal sedang terdampak erupsi dan sebaran abu, kurangi aktivitas di luar rumah dan lakukan perlindungan sederhana untuk menjaga saluran pernapasan.
Bencana sering datang tanpa memberi kita banyak waktu untuk bersiap. Karena itu, di tengah kabar erupsi dan sebaran abu vulkanik ini, kiranya kita tidak lengah menjaga diri dan orang-orang terdekat.
Kiranya Tuhan memelihara setiap keluarga yang terdampak, memberi kesehatan, ketenangan, dan hikmat untuk tetap waspada serta mengambil langkah yang tepat di tengah situasi yang terus berkembang.
BACA JUGA: Asap Karhutla Mengancam Kesehatan, Ini 7 Cara Melindungi Diri dan Keluarga
Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!