Kabar Audi Marissa dan Anthony Xie berpisah mengejutkan publik. Setelah menjalani pernikahan selama hampir enam tahun, Audi diketahui mengajukan gugatan cerai terhadap Anthony Xie ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 11 Agustus 2026.
Perpisahan ini menarik perhatian karena rumah tangga Audi Marissa dan Anthony Xie sebelumnya relatif jauh dari pemberitaan konflik besar. Kuasa hukum Anthony bahkan mengungkapkan bahwa pasangan ini telah berusaha mempertahankan pernikahan selama kurang lebih satu tahun sebelum akhirnya tidak menemukan titik temu. Keduanya juga disebut sudah tidak tinggal serumah sebelum gugatan perceraian diajukan.
Kita tentu tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tangga mereka. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan penyebab perpisahan Audi dan Anthony berdasarkan apa yang terlihat dari luar.
Namun, kasus ini bisa menjadi pengingat bagi setiap pasangan. Apakah pernikahan selalu retak karena pertengkaran besar? Atau sebenarnya ada keretakan yang tumbuh perlahan tanpa disadari?
BACA JUGA: Sudah Berkali-kali Memaafkan, Tapi Pasangan Tidak Berubah. Harus Bagaimana?
Pernikahan Bisa Retak Tanpa Banyak Pertengkaran
Penelitian hubungan yang dilakukan Dr. John Gottman bersama Robert Levenson menemukan pola yang disebut emotional disengagement atau penarikan diri secara emosional.
Pola ini bukan selalu ditandai dengan pertengkaran hebat. Justru pasangan dapat kehilangan respons positif ketika berinteraksi, seperti ketertarikan, kasih sayang, humor, dan empati. Dalam penelitian longitudinal Gottman, pasangan yang mengalami pola ini dapat perlahan menjalani kehidupan yang semakin terpisah secara emosional.
Dalam kehidupan sehari-hari, jarak emosional dalam pernikahan bisa terlihat sederhana. Suami dan istri masih tinggal bersama, masih mengurus anak, bekerja, bahkan pergi ke gereja bersama. Namun percakapan mulai hanya membahas tagihan, jadwal anak, pekerjaan rumah, atau kebutuhan sehari-hari.
Firman Tuhan menggambarkan pernikahan lebih dalam daripada sekadar dua orang yang hidup dalam satu rumah. Kejadian 2:24 menyatakan bahwa laki-laki akan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi “satu daging”.
Karena itu, salah satu pertanyaan penting dalam pernikahan bukan hanya, “Apakah kami masih sering bertengkar?” Tetapi juga, “Apakah kami masih saling mengenal dan terhubung satu sama lain?”
Waspadai Luka yang Perlahan Mengubah Cara Kita Melihat Pasangan
Gottman juga menemukan empat pola komunikasi berbahaya dalam hubungan yang dikenal sebagai The Four Horsemen, yaitu criticism, contempt, defensiveness, dan stonewalling.
Kritik membuat masalah berubah menjadi serangan terhadap karakter pasangan. Sikap defensif membuat seseorang lebih sibuk membela diri daripada mendengarkan. Stonewalling terjadi ketika pasangan memilih menutup diri dan berhenti merespons.
Sementara itu, contempt atau sikap merendahkan disebut Gottman sebagai prediktor perceraian yang paling kuat. Bentuknya bisa berupa ejekan, penghinaan, sarkasme, atau memperlakukan pasangan seolah dirinya lebih baik.
Menariknya, firman Tuhan juga memperingatkan agar luka dan kemarahan tidak terus dibiarkan.
Efesus 4:26-27 berkata, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”
Ini tidak berarti semua konflik harus selesai dalam satu hari. Namun ada prinsip penting bahwa kemarahan yang terus dipelihara dapat membuka ruang bagi kerusakan yang lebih besar dalam hubungan.
Efesus 4:31-32 kemudian mengingatkan kita untuk membuang kepahitan, kemarahan, pertikaian dan fitnah, lalu menggantinya dengan keramahan, kasih mesra dan pengampunan.
Konflik sebenarnya tidak selalu menjadi tanda bahwa sebuah pernikahan gagal. Bahkan Gottman menemukan bahwa banyak masalah dalam hubungan bersifat berulang dan tidak pernah benar-benar “hilang”.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika konflik membuat pasangan perlahan berubah dari orang yang dikasihi menjadi orang yang terus dipandang sebagai musuh.
Jangan Tunggu Sampai Pernikahan Terlalu Jauh
Perpisahan Audi Marissa dan Anthony Xie tidak seharusnya menjadi ruang bagi kita untuk menebak-nebak kesalahan salah satu pihak. Sebaliknya, kabar ini bisa menjadi kesempatan bagi pasangan menikah untuk melihat kembali kondisi hubungan masing-masing.
Yesus berkata dalam Matius 19:6, “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
Pernikahan memang membutuhkan komitmen untuk bertahan. Namun komitmen bukan hanya tentang tetap berada dalam satu rumah. Pernikahan juga perlu dirawat melalui komunikasi, kerendahan hati, pengampunan dan kesediaan untuk kembali mendekat ketika jarak mulai muncul.
BACA JUGA: Bukan Komunikasi, Bunda Teresa Sebut 2 Hal Ini yang Membuat Pernikahan Bertahan
Jika tanda pernikahan bermasalah mulai terlihat, jangan menunggu hingga kata “cerai” menjadi percakapan sehari-hari. Mulailah berbicara dari hati ke hati. Bereskan luka yang selama ini ditumpuk. Bila komunikasi terus menemui jalan buntu, mencari bantuan dari konselor pernikahan, mentor rohani, atau orang yang kompeten juga bisa menjadi langkah yang bijaksana.
Sebab pernikahan yang retak tidak selalu dimulai dengan pertengkaran besar. Terkadang semuanya bermula dari percakapan yang semakin sedikit, luka yang dibiarkan, dan dua hati yang perlahan menjauh.
Karena itu, selama masih ada kesempatan untuk memperbaiki hubungan, jangan abaikan jarak kecil yang mulai muncul. Rawat kembali kedekatan, belajar mendengar, memilih mengampuni, dan memperjuangkan kesatuan yang Tuhan percayakan dalam pernikahan.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!