Tidak semua luka terlihat oleh mata. Ada luka yang tersimpan sejak masa kecil dan diam-diam memengaruhi cara seseorang memandang dirinya, mencari kasih sayang, bahkan membangun rumah tangga. Itulah yang dialami Gabriela Rumagit, atau yang akrab disapa Geby.
Di balik senyum dan kesaksiannya hari ini, ada perjalanan panjang yang dipenuhi luka, penolakan, dan pencarian kasih yang salah arah.
Sejak kecil, Geby tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis. Ayahnya hadir secara fisik, tetapi tidak hadir sebagai sosok ayah yang seharusnya. Kehidupan yang dekat dengan alkohol, kekerasan, dan pertengkaran membuat rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru terasa seperti neraka.
Lebih menyakitkan lagi, ia sering menerima label yang menghancurkan identitasnya.
"Anak sial."
"Anak gagal."
"Anak pemberontak."
Kalimat-kalimat itu terus tertanam dalam pikirannya hingga dewasa.
Tanpa disadari, luka tersebut membentuk cara Geby melihat dirinya. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak layak dikasihi dan tidak berharga. Akibatnya, saat ada seseorang yang memberikan perhatian, meskipun dengan motivasi yang salah, ia mudah jatuh hati karena sedang mencari kasih sayang yang tidak ia dapatkan di rumah.
Ketika dewasa, Geby berpikir pernikahan akan menjadi jalan keluar dari semua penderitaan masa kecilnya. Ia berharap menemukan "pangeran" yang akan membawanya keluar dari kehidupan yang menyakitkan.
Namun kenyataannya jauh berbeda.
Rumah tangga yang dibangun justru menjadi sumber luka baru. Suaminya memiliki berbagai masalah serius, mulai dari perselingkuhan, kebiasaan buruk, hingga karakter yang sulit dikendalikan. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Gebi merasa seperti keluar dari neraka lama dan masuk ke neraka yang baru.
Yang membuat situasi semakin buruk, dirinya sendiri ternyata belum dipulihkan dari luka masa lalu.
Ia menjadi pribadi yang penuh kemarahan, tuntutan, pemberontakan, dan kepahitan. Ketika suaminya berbuat salah, ia memilih membalas. Saat suaminya menyakiti, ia menyakiti balik.
Perselingkuhan dibalas perselingkuhan. Kepahitan dibalas kepahitan. Dosa dibalas dosa. Bukannya membaik, rumah tangga mereka justru semakin hancur.
Hingga suatu malam, setelah semua usaha balas dendam itu dilakukan, Gebi mengalami momen yang mengubah hidupnya. Di tengah kehancuran tersebut, ia mendengar suara Tuhan yang sederhana namun sangat kuat.
"Geb, yang sedang kamu sakiti bukan suamimu. Yang sedang kamu sakiti adalah Aku."
Kalimat itu menghancurkan tembok pertahanan yang selama ini dibangunnya.
Ia mulai menyadari bahwa selama ini dirinya berusaha memperbaiki segala sesuatu dengan caranya sendiri, sementara hatinya sendiri belum pernah dipulihkan.
Perjalanan pertobatan itu tidak mudah.
Tuhan mengajarinya melepaskan hak untuk membalas, belajar mengampuni, mengasihi tanpa syarat, dan berdamai dengan luka masa kecil yang selama puluhan tahun ia bawa.
Perlahan, Tuhan mulai memulihkan hati yang hancur itu.
Yang menarik, sebelum memulihkan rumah tangganya, Tuhan terlebih dahulu memulihkan dirinya.
Hari ini Geby melihat bahwa luka masa lalu tidak harus menjadi identitas seseorang. Bahkan mereka yang pernah merasa tidak berharga sekalipun tetap memiliki masa depan di dalam Tuhan.
Kini ia menggunakan media sosial untuk membagikan kisah pemulihan dan pengharapan kepada banyak orang yang sedang bergumul dengan luka keluarga, pernikahan, dan penolakan.
Bagaimana perjalanan lengkap Geby dari anak yang merasa tidak dicintai hingga mengalami pemulihan bersama Tuhan? Bagaimana rumah tangganya yang hampir hancur bisa dipulihkan? Dan apa yang Tuhan ajarkan melalui semua luka masa lalunya?
Tonton video selengkapnya di bawah ini dan temukan bagaimana Tuhan sanggup memulihkan hati yang terluka, keluarga yang hancur, dan rumah tangga yang tampaknya sudah tidak memiliki harapan.
Sumber : Solusi TV | Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!