Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia memasuki awal September 2026. BNPB melaporkan kebakaran antara lain terjadi di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, serta Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Di saat yang sama, titik panas juga masih menjadi perhatian di wilayah Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Lampung. BMKG bahkan mencatat konsentrasi titik panas pada akhir Agustus masih banyak ditemukan di Kalimantan, disusul Sumatera, Papua, dan Maluku.
Kondisi ini bukan hanya mengancam lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat akibat paparan asap dan partikel halus PM2,5 yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak perlu mengurangi paparan asap sebisa mungkin.
Paparan asap karhutla dapat memicu berbagai keluhan, mulai dari mata perih, tenggorokan terasa gatal, batuk, sakit kepala hingga sesak napas. Pada kondisi tertentu, asap juga dapat memperburuk asma dan penyakit jantung.
BACA JUGA: Belum Genap Sebulan, 4 Bencana Besar Ini Menerjang Indonesia Sepanjang Agustus 2026
Anak-anak, lansia, ibu hamil serta orang dengan penyakit paru atau jantung termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami dampak kesehatan. Apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan dari asap karhutla?
1. Kurangi aktivitas di luar rumah
Ketika kondisi udara dipenuhi asap, sebisa mungkin batasi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga dan aktivitas fisik berat. Saat tubuh melakukan aktivitas berat, frekuensi dan kedalaman pernapasan meningkat sehingga lebih banyak udara yang masuk ke paru-paru. Organisasi kesehatan dunia, WHO, menyarankan masyarakat mengikuti informasi kualitas udara serta mengurangi aktivitas luar selama kondisi asap berat.
2. Gunakan masker yang tepat
Jika harus beraktivitas di luar, gunakan respirator seperti N95 yang terpasang rapat pada wajah. National Institute for Occupational Safety and Health (NIOS) menjelaskan bahwa respirator N95 dirancang untuk menyaring partikel sangat kecil, termasuk PM2,5 dari asap kebakaran. Masker kain, bandana maupun masker bedah tidak memiliki kemampuan perlindungan yang sama karena umumnya tidak menutup wajah dengan rapat.
3. Jaga udara di dalam rumah tetap bersih
Tutup pintu dan jendela ketika asap di luar sedang pekat. Jika menggunakan pendingin ruangan, gunakan mode sirkulasi ulang atau recirculate agar udara luar tidak terus masuk. Penggunaan pembersih udara dengan filter HEPA juga dapat membantu mengurangi partikel di dalam ruangan.
4. Hindari sumber polusi tambahan di rumah
Saat kualitas udara luar buruk, jangan menambah beban polusi di dalam rumah. WHO menyarankan menghindari merokok, penggunaan produk aerosol berlebihan serta aktivitas memasak seperti menggoreng atau memanggang yang menghasilkan banyak asap. Langkah sederhana ini dapat membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan tetap lebih baik.
5. Pantau kualitas udara sebelum beraktivitas
Asap yang tidak terlihat bukan berarti udara sudah aman. Partikel halus dapat menyebar jauh dari lokasi kebakaran. Karena itu, perhatikan informasi kualitas udara dan peringatan dari pemerintah atau otoritas setempat sebelum beraktivitas di luar rumah. WHO menekankan bahwa asap kebakaran bahkan dapat memengaruhi masyarakat yang berada jauh dari titik api.
BACA JUGA: Karhutla Makin Mengkhawatirkan, Inilah Mandat Manusia terhadap Alam Menurut Alkitab
6. Beri perhatian ekstra kepada kelompok rentan
Anak-anak memiliki paru-paru yang masih berkembang, sedangkan lansia lebih berisiko memiliki gangguan jantung atau paru sebelumnya. Ibu hamil serta penderita penyakit kronis juga perlu lebih berhati-hati. Selama asap masih pekat, kelompok ini sebaiknya meminimalkan paparan dan berada di ruangan dengan udara yang lebih bersih.
7. Jangan abaikan gejala yang muncul
Batuk, mata perih atau tenggorokan gatal bisa menjadi tanda tubuh terpapar asap. Namun, jika muncul sesak napas, mengi, nyeri dada, jantung berdebar atau keluhan yang semakin berat, segera cari pertolongan medis. Melindungi kesehatan selama karhutla bukan hanya soal menggunakan masker, tetapi juga mengenali batas tubuh dan mengurangi paparan sejak awal.
Sebagai orang percaya, kita berharap masyarakat yang terdampak asap karhutla tetap diberikan kesehatan dan perlindungan di tengah kondisi yang tidak mudah ini. Mari doakan juga berdoa agar kebakaran dapat segera dikendalikan sehingga kualitas udara kembali membaik dan aktivitas masyarakat bisa pulih.
Kiranya pemerintah serta pihak terkait terus memberi perhatian serius kepada warga terdampak, terutama kelompok rentan, dengan menyediakan perlindungan kesehatan dan bantuan yang mereka butuhkan. Di tengah situasi seperti ini, kepedulian kepada sesama menjadi salah satu bentuk kasih yang bisa kita nyatakan bersama.
Sumber : Berbagai SumberIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!