Kehidupan jalanan pernah membawa Pratisna (Sibagz) ke titik yang sangat gelap.
Ia merantau setelah lulus SMP pada tahun 2004. Awalnya, ia hanya ingin mencari pekerjaan karena hidup di kampung terasa sulit. Namun tanpa keluarga, saudara, dan jaringan di kota, Pratisna akhirnya menemukan tempat diterima di komunitas jalanan.
Dari sanalah hidupnya berubah. Ia tumbuh bersama kehidupan yang keras, penuh risiko, dan jauh dari rasa aman. Hinaan, pukulan, bahkan luka fisik menjadi bagian dari kesehariannya.
“Kehidupan di jalanan sangat mengerikan. Saya juga sering dihina orang, diinjak, dipukul, diludahi,” ungkapnya.
Namun saat itu, Pratisna justru merasa bangga dengan pilihan hidupnya. Ia merasa sedang memperjuangkan kebebasan, meski sebenarnya banyak hal yang ia lakukan hanya menjadi pembenaran atas luka dan kekosongan di dalam dirinya.
“Saya masih dengan bangganya melakukan itu dan saya berteriak tentang apa itu kebebasan,” katanya.
Titik terberat terjadi ketika ia beberapa kali mengalami overdosis. Tubuhnya sempat berada dalam kondisi kritis, muntah darah, dan hampir kehilangan nyawa. Ia bahkan pernah tergeletak tidak sadarkan diri di sebuah lahan kosong sebelum akhirnya ditolong seseorang yang tidak ia kenal.
Pengalaman itu membuat Pratisna mulai berpikir ulang tentang hidupnya. Mengapa Tuhan masih memberinya kesempatan hidup setelah berkali-kali dekat dengan kematian?
Satu kalimat yang ia baca kemudian menjadi perenungan besar dalam hidupnya.
“Manusia itu ternyata hanya seperti uap, sebentar terlihat, sebentar hilang.”
Dari situ, Pratisna mulai bertanya pada dirinya sendiri. Jika hidup hanya sebentar, apa yang harus ia lakukan dengan waktu yang masih Tuhan beri?
Pratisna kemudian memutuskan untuk kembali ke masyarakat dan mulai melihat kebutuhan di daerahnya. Dari sana lahir langkah yang tidak biasa. Pratisna belajar bertani bersama teman-teman komunitas punk. Bahkan untuk memulai, ia sampai menggadaikan sertifikat rumah orang tuanya senilai Rp25 juta.
Awalnya, masyarakat memandang mereka sebelah mata karena penampilan mereka yang penuh tato dan piercing (tindik). Meski demikian, Pratisna yakin perubahan hidupnya bukan karena kekuatannya sendiri.
“Saya hidup ini bukan sebuah kekuatan saya sendiri, tetapi ini sebuah anugerah yang saya terima dari Tuhan,” ujarnya.
Bagaimana Pratisna bangkit dari jalanan dan menemukan panggilan hidupnya? Saksikan kisah lengkap Pratisna hanya di YouTube Solusi TV.
Sumber : YouTube Solusi TVIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!