Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat karhutla menjadi salah satu kejadian bencana yang mendominasi pada akhir Agustus 2026.
Dalam laporan 27 Agustus, kebakaran antara lain terjadi di Aceh Tengah, Belitung Timur, Sukabumi, dan Aceh Besar. Sehari kemudian, karhutla kembali dilaporkan di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.
Ancaman ini semakin serius di tengah musim kemarau. Di Kalimantan Timur saja, BMKG mencatat 13.273 titik panas sepanjang 1-23 Agustus 2026. Pemerintah bahkan melakukan operasi modifikasi cuaca untuk membantu menangani kekeringan dan karhutla.
BACA JUGA: Belum Genap Sebulan, 4 Bencana Besar Ini Menerjang Indonesia Sepanjang Agustus 2026
Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan sekadar pepohonan. Habitat satwa rusak, udara tercemar asap, tanah kehilangan fungsi alaminya, sementara masyarakat sekitar ikut menanggung dampaknya.
Mengapa manusia yang bergantung pada alam justru bisa menjadi pihak yang merusaknya?
Alkitab menunjukkan bahwa persoalan manusia dan alam sudah muncul sejak awal sejarah manusia. Setelah manusia jatuh dalam dosa, bukan hanya hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya yang terganggu. Firman Tuhan dalam Kejadian 3:17-19 menunjukkan bahwa tanah pun ikut terkena dampaknya.
Dosa membuat manusia cenderung menempatkan kepentingannya sendiri di atas segala sesuatu. Alam yang seharusnya dikelola dapat berubah menjadi sesuatu yang bisa dieksploitasi demi keuntungan, kemudahan, atau kepentingan sesaat bagi individu atau kelompok tertentu.
Padahal sejak awal, manusia tidak pernah ditempatkan Tuhan sebagai pemilik mutlak bumi.
Manusia Diberi Kuasa, Tapi Bukan Berarti Bebas Merusak
Tuhan menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan memberi manusia kuasa atas makhluk hidup serta bumi. (Kejadian 1:26-28)
Namun kata “berkuasa” tidak bisa dipahami sebagai izin untuk memperlakukan alam sesuka hati. Manusia mendapat otoritas dari Tuhan, sehingga cara manusia menggunakan otoritas itu seharusnya juga mencerminkan karakter Sang Pencipta.
Kejadian 2:15 menjelaskan, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
Ada dua tugas yang berjalan bersama, yaitu mengusahakan dan memelihara.
Mengusahakan berarti manusia diperbolehkan mengolah tanah, bertani, membangun, dan menggunakan sumber daya alam bagi kehidupannya. Namun Tuhan tidak berhenti pada kata “mengusahakan”. Manusia juga diminta memeliharanya.
BACA JUGA: Kebakaran Akibat Fenomena El Nino, Bisakah Kita Mencegah Kebakaran?
Artinya, mengambil manfaat dari alam tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab untuk menjaganya.
Mazmur 24:1 kembali mengingatkan, “TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”
Hutan, tanah, sungai, udara, tumbuhan, dan satwa bukanlah milik manusia sepenuhnya. Semua itu adalah ciptaan Tuhan yang dipercayakan kepada manusia untuk dikelola.
Karena itu, menjaga alam bukan hanya urusan aktivis lingkungan. Sebagai orang percaya, kita perlu menjaga lingkungan sebagai bentuk ketaatan kita kepada Tuhan.
Kita bisa mulai melakukannya dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang sederhana. Tidak membakar lahan atau sampah sembarangan, tidak membuang sampah ke alam, menggunakan sumber daya dengan bijaksana, mengurangi pemborosan, serta mendukung upaya pemulihan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab tersebut.
Karhutla menjadi pengingat bahwa tindakan manusia terhadap alam selalu membawa konsekuensi. Saat hutan rusak, manusia dan makhluk hidup lainnya ikut merasakan akibatnya.
Tuhan memang memberi manusia kuasa atas bumi. Namun kuasa itu bukan izin untuk menghabiskannya. Bumi adalah titipan Tuhan yang harus kita usahakan sekaligus pelihara.
Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!