Ibu Ruth, 32 tahun, mengira ia sudah menjadi ibu yang cukup baik.
Anaknya laki-laki, baru empat tahun, tumbuh sehat, dirawat dengan baik. Lima tahun pernikahan bersama suaminya berjalan tanpa guncangan besar. Kehidupan keluarga mereka tampak baik-baik saja dari luar.
Tapi ada satu hal yang belum ia sadari — sesuatu yang baru terlihat setelah ia duduk mengikuti The Parenting Project bersama suaminya di GIA Pandean Lamper.
"Saya baru sadar, kedekatan antara orang tua dan anak ternyata tidak otomatis. Itulah tugas kita sebagai orang tua — untuk menjadi dekat. Mendidik anak bukanlah hal yang mudah bagi kami," ungkap Ibu Ruth.
Pertanyaan Kecil yang Selalu Diabaikan
Anak laki-laki berusia empat tahun adalah sosok yang penuh rasa ingin tahu. Hampir setiap saat, ia bertanya — tentang ini, tentang itu, tentang hal-hal kecil di sekitarnya yang bagi orang dewasa terasa tidak penting.
"Ini apa, Ma? Itu apa? Kenapa begitu?"
Baca Juga: Saat Ibu Anastasia Sempat Merasa Gagal Menjadi Orangtua
Dan seperti kebanyakan orang tua yang sibuk, Ibu Ruth kerap merespons pertanyaan-pertanyaan itu dengan setengah perhatian — atau bahkan tidak merespons sama sekali. Bukan karena tidak peduli, tapi karena ia menganggapnya sepele. Masih anak kecil, pikirnya. Nanti juga mengerti sendiri.
Ia tidak tahu bahwa di balik setiap pertanyaan kecil itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar: kebutuhan sang anak untuk didengar, untuk merasa bahwa Mama benar-benar hadir bersamanya.
"Setelah ikut The Parenting Project ternyata itu momen penting yang harus ditanggapi. Bagi mereka itu bukan hal lucu — mereka benar-benar ingin tahu. Jadi sebagai orang tua, kita harus mau menanggapi sekecil apapun pertanyaannya supaya anak semangat dan merasa diperhatikan," kenang Ibu Ruth.
Selama ini, tanpa sadar, ia telah membiarkan momen-momen itu berlalu begitu saja.
Baca Juga: Dulu Marah ke Anak Sampai Diikat, Kini Ibu Nuraifa Belajar Didik Anak Tak Perlu Kekerasan
Komunikasi Satu Arah yang Tidak Pernah Terasa Bermasalah
Yang membuat kisah Ibu Ruth berbeda dari banyak kesaksian lain adalah ini: tidak ada konflik besar yang terjadi. Tidak ada teriakan keras, tidak ada tangisan yang memecah malam, tidak ada pertengkaran yang meninggalkan luka dalam.
Yang ada hanya kebiasaan yang tampak wajar — tapi perlahan mengikis kedekatan yang seharusnya dibangun.
Ketika ada yang tidak beres, Ibu Ruth berbicara. Tapi berbicara dalam satu arah: menegur, mengarahkan, memerintah. Anak mendengarkan — atau setidaknya tampak mendengarkan. Dan selesai.
Tidak ada ruang untuk anak bertanya balik. Tidak ada kesempatan untuk mendengar apa yang anak rasakan. Tidak ada dialog — hanya instruksi.
"Sebelumnya mungkin hanya marah-marah satu arah saja. Kita tidak bisa hanya memarahi — harus berkomunikasi supaya saling memahami apa yang diinginkan," ungkapnya jujur.
Ibu Ruth tidak menyadari bahwa komunikasi satu arah, meski tidak selalu berbentuk kemarahan, bisa menutup pintu hati seorang anak perlahan-lahan.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!