Dalam kitab Wahyu, Yesus menyampaikan pesan kepada tujuh jemaat yang berada di Asia Kecil. Masing-masing menerima penilaian yang berbeda. Ada yang dipuji, ditegur, bahkan diperingatkan dengan sangat keras.
Dari ketujuh jemaat tersebut, Filadelfia dan Laodikia memberikan gambaran yang sangat kontras.
Filadelfia memiliki kekuatan yang tidak seberapa, tetapi tetap setia kepada Tuhan. Sementara Laodikia merasa dirinya kaya dan tidak kekurangan apa pun, tetapi justru dinilai miskin secara rohani.
Kalau dua gereja ini ada di zaman sekarang, gereja seperti mana yang ingin kita pilih? Atau mungkin, kehidupan iman seperti apa yang sedang kita jalani?
Filadelfia, Tidak Kuat Tetapi Tetap Setia
Kepada jemaat Filadelfia, Yesus berkata,
“Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.” (Wahyu 3:8)
Kalimat ini menarik karena Tuhan tidak mengatakan bahwa Filadelfia adalah gereja paling besar, paling kaya, atau paling berpengaruh. Justru Tuhan mengakui bahwa kekuatan mereka “tidak seberapa”.
Namun, ada dua hal yang membuat mereka berkenan di hadapan Tuhan, mereka menuruti firman Tuhan dan tidak menyangkal nama-Nya.
Artinya, kesetiaan Filadelfia tidak bergantung pada situasi yang nyaman. Mereka tetap memegang iman meskipun berada dalam keterbatasan dan menghadapi tekanan.
Yesus juga berkata bahwa Ia telah membuka sebuah pintu bagi mereka yang tidak dapat ditutup oleh siapa pun. (Ayat 8)
BACA JUGA: Banyak yang Gak Tahu, Yesus Menyebut 7 Gereja Ini di Kitab Wahyu
Ini menunjukkan bahwa kesempatan dan jalan yang Tuhan berikan tidak selalu diberikan kepada mereka yang paling kuat. Tuhan dapat memakai orang-orang yang terlihat kecil, selama mereka tetap setia.
Filadelfia mengingatkan kita bahwa ukuran keberhasilan rohani bukan selalu seberapa besar pelayanan kita, seberapa ramai gereja kita, atau seberapa dikenal nama kita. Tuhan melihat apakah kita tetap memegang firman-Nya ketika ketaatan menjadi tidak mudah.
Laodikia, Merasa Kaya Tetapi Miskin Rohani
Berbeda dengan Filadelfia, jemaat Laodikia menerima teguran keras.
“Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!” (Wahyu 3:15)
Laodikia dikenal sebagai jemaat yang “suam-suam kuku”. Mereka berkata, “Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa.” Namun Tuhan justru berkata bahwa mereka tidak menyadari bahwa keadaan rohani mereka melarat, miskin, buta, dan telanjang.
Di sinilah bahayanya.
Seseorang masih bisa datang ke gereja, menyebut dirinya Kristen, menyanyikan lagu pujian, bahkan terlibat dalam pelayanan, tetapi perlahan kehilangan ketundukan kepada Tuhan.
Iman akhirnya menjadi sekadar identitas, bukan sesuatu yang benar-benar menentukan cara hidup.
BACA JUGA: Mengenal Ciri-Ciri Kristen yang Suam Kuku
Sikap suam-suam kuku juga bisa muncul ketika firman Tuhan mulai disesuaikan dengan kenyamanan pribadi. Kita hanya menerima bagian yang menyenangkan, tetapi mengabaikan bagian yang menegur. Ketika firman bertentangan dengan keinginan kita, bukannya hidup kita yang berubah, justru firman yang berusaha kita kompromikan.
Masalah Laodikia bukan karena mereka sama sekali tidak mengenal Tuhan. Mereka justru merasa baik-baik saja secara rohani, padahal hubungan mereka dengan Tuhan sedang kehilangan kedalaman.
Ironisnya, dalam Wahyu 3:20, Yesus digambarkan berdiri di depan pintu dan mengetuk. Gambaran ini ditujukan kepada sebuah jemaat.
Kristus ada di luar pintu gereja yang membawa nama-Nya.
Kalau Harus Memilih, Kita Mau Menjadi yang Mana?
Filadelfia mengajarkan bahwa Tuhan tidak mencari gereja yang sempurna. Dia mencari umat yang setia.
Laodikia mengingatkan bahwa bahaya terbesar dalam kehidupan rohani bukan hanya meninggalkan gereja, tetapi merasa dekat dengan Tuhan sementara hati sebenarnya semakin jauh dari-Nya.
Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar, “Gereja mana yang saya datangi setiap minggu?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah hidup saya masih tunduk kepada firman Tuhan?”
Kita mungkin tidak memiliki kekuatan besar seperti yang dibayangkan dunia. Kita mungkin mempunyai keterbatasan, pergumulan, dan kelemahan. Namun seperti Filadelfia, kita tetap bisa memilih untuk memegang firman Tuhan dan tidak menyangkal nama-Nya.
Pada akhirnya, jauh lebih baik menjadi orang percaya dengan “kekuatan yang tidak seberapa” tetapi tetap setia, daripada merasa memiliki semuanya tetapi kehilangan kepekaan terhadap suara Tuhan.
Jadi, kalau hari ini kita diminta memilih, mau menjadi seperti Laodikia atau Filadelfia?
Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!