Dulu, ketika kedua putrinya masih kecil, Ibu Hastuti menjalani kehidupan keluarga yang penuh tekanan. Kondisi ekonomi belum mapan, pekerjaan tidak stabil, dan berbagai kebutuhan hidup terus menghimpit. Di tengah keadaan itu, ia harus belajar menjadi seorang ibu tanpa bekal pengasuhan dan pemahaman rohani yang cukup.
Tekanan tersebut perlahan memengaruhi caranya mengelola emosi. Tanpa disadari, kemarahan dan ketidaksiapannya sebagai orang tua ikut membentuk hubungan dengan anak pertamanya.
Kini, anak pertama Ibu Hastuti telah menikah dan tinggal jauh. Komunikasi di antara mereka tidak sedekat hubungannya dengan anak kedua yang masih tinggal bersamanya. Ia menduga masih ada luka batin yang tersimpan dalam hati anak pertamanya.
“Saya tidak menyalahkan anak saya. Saya bisa menerima dan menyadari kekurangan saya waktu itu,” ungkapnya.
Kesadaran itu semakin kuat setelah Ibu Hastuti dan suaminya mengikuti The Parenting Project. Meski baru menyelesaikan dua modul, ia belajar bahwa orang tua merupakan contoh pertama yang akan dilihat dan ditiru oleh anak. Ia pun memahami pentingnya mengelola emosi serta menanamkan karakter sejak dini.
Pengetahuan tersebut membuatnya menyesali masa lalu, tetapi ia tidak ingin berhenti dalam penyesalan. Di dalam hatinya tumbuh kerinduan untuk duduk bersama anak pertamanya dan berbicara dari hati ke hati.
“Saya ingin menyelesaikan semuanya karena akar-akar kepahitan itu sangat mengganggu,” katanya.
Kesempatan itu memang belum datang. Namun, Ibu Hastuti dan suaminya terus berdoa agar Tuhan membuka jalan bagi pemulihan. Ia juga berharap pelajaran yang diterimanya dapat diwariskan kepada anak-anaknya, sehingga kelak cucu-cucunya bertumbuh dalam kasih, perhatian, dan keluarga yang lebih sehat.
Jika Anda rindu keluarga Anda dipulihkan, mari menjadi bagian dari The Parenting Project – Anda akan diperlengkapi untuk membangun keluarga yang lebih sehat dengan menjadikan Kristus sebagai pusat.
Informasi lebih lanjut tentang The Parenting Project bisa kunjungi https://theparentingproject.id/ atau hubungi langsung via Whatsapp di 0811-1011-6556, kami percaya setiap keluarga layak mengalami pemulihan.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!