Ibu Budi akrab disapa ibu Tri, (53 tahun), tahu betul apa artinya berjuang untuk anak-anak. Setiap pagi ia bangun lebih awal dari semua orang di rumah — mengolah adonan, menyiapkan snack, memastikan pesanan ke pabrik terpenuhi. Semua itu ia lakukan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dua anak yang tengah berjuang menempuh kuliah di Solo dan Semarang.
Suaminya, Antonius Sujadi, bekerja sebagai guru SD. Penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tapi tidak cukup untuk menanggung biaya kuliah dua anak sekaligus. Maka Ibu Tri mengambil alih. Ia yang dulu pernah menjadi guru honor — dengan bayaran yang sangat kecil — memutuskan untuk keluar dan memulai usaha sendiri. Puji Tuhan! Usaha kecil ini terus berkembang.
"Puji Tuhan, makanan yang saya buat laris. Dari hasil jualan itu saya bisa membiayai dua anak yang kuliah di Solo dan di Semarang. Tuhan pelihara, Tuhan luar biasa — usaha saya bisa untuk biaya kuliah anak saya," ungkap Ibu Tri.
Baca Juga: Penantian Anak Terjawab, Kini Menjadi Orangtua Jadi Pelajaran yang Mengubah Pasangan Ini
Dari hasil usaha ini, anak pertamanya kini sudah lulus sarjana dan tengah menjalani masa profesi di Rumah Sakit Umum Jawa Tengah. Anak keduanya sedang di semester 6, dan bulan Juli mendatang akan menjalani PPL praktik di Malaysia — sebuah kesempatan yang Ibu Tri yakini sebagai jawaban doa.
Dua anaknya memang telah sukses menjalani Pendidikan dan kondisi ekonomi cukup baik lewat usaha yang ia bangun. Sehingga Ibu Tri merasa ia sudah melakukan yang terbaik.
Tapi ada satu hal yang hampir terlupakan: Si bungsu yang kehilangan perhatian.
Di rumah yang sama, ada anak ketiganya tumbuh sendirian. Sementara Ibu Tri sibuk mengolah snack dan suaminya berangkat mengajar lalu pulang sore, si bungsu menghabiskan hari-harinya tanpa banyak pendampingan.
Tidak ada yang secara sadar bermaksud mengabaikannya — tapi kenyataannya, perhatian dan kasih sayang yang ia terima jauh lebih sedikit dibanding kedua kakaknya.
Akibatnya, si bungsu mulai terbawa kepada pergaulan yang buruk. Prestasinya di sekolah kurang memuaskan. Yang paling menyedihkan bagi Ibu Tri, anaknya mulai jauh dari kehidupan rohani - sangat berbeda dari karakter kedua kakaknya yang sudah mandiri dan kuat secara rohani.
"Anak itu kurang perhatian. Dan membuat saya merasa berdosa, merasa bersalah. Karena perhatian saya kurang ke anak itu. Semuanya karena tuntutan ekonomi," akunya jujur.
Ibu Tri merasa ia sudah memberikan yang terbaik. Tapi ternyata yang terbaik secara materi belum tentu yang terbaik secara kasih sayang. Ada bagian dari hati anaknya yang tidak bisa dibeli dengan kerja keras. Sehingga tangki kasihnya menjadi kosong.
Modul yang Membuka Mata
Melalui program The Parenting Project yang dilakukan di gereja JKI Shalom Aletheia, mengingatkannya tentang Tangki Emosi Anak.
Pelajaran inilah yang berbicara langsung ke dalam hatinya. Ia belajar bahwa setiap anak memiliki tangki emosi yang perlu diisi — bukan hanya dengan materi dan fasilitas, tetapi dengan kehadiran, perhatian, dan sentuhan kasih sayang nyata dari orang tua.
Dan ketika ia merefleksikan modul itu, wajah anak ketiganya langsung terbayang.
"Saya sadar ini berkat Tuhan yang harus saya perhatikan. Saya harus menyediakan waktu khusus untuk dia - soal rohaninya, soal hubungannya dengan teman-teman," ujar Ibu Tri.
Baca Juga: "Mama Minta Maaf" Kalimat yang Memulihkan Hubungan Ibu Lastiar dan Putrinya
Rasa bersalah yang selama ini ia pendam perlahan berubah menjadi tekad. Bukan untuk menyesali waktu yang telah berlalu, melainkan untuk mengisi waktu yang masih ada dengan lebih baik.
Dari pelajaran ini, setiap Kamis ia mencoba mengajak si bungsu ke gereja. Itu bukan karena kewajiban, tapi karena ia ingin anaknya merasakan bahwa Mamanya hadir dan peduli. Ia juga mulai mendoakan satu pertanyaan yang sederhana namun dalam: "Anak ini punya talenta apa, Tuhan?"
Dan Tuhan menjawab.
Ibu Tri mendaftarkan si bungsu untuk belajar musik. Hasilnya, anak yang selama ini dianggap tertinggal dari kakak-kakaknya, anak yang pergaulannya lebih bebas dan imannya kurang bertumbuh — ternyata punya bakat yang bisa dikembangkan.
Kini, si bungsu telah terlibat mengiringi ibadah setiap hari Sabtu. Sesuatu yang membuat ibu Tri merasa bangga.
"Saya bangga pada anak ini. Karena anak ini ternyata dipakai Tuhan," kata Ibu Tri dengan haru.
Komitmen Baru yang Dimulai dari Kesadaran
Ibu Tri tidak berhenti di situ. Ia berkomitmen untuk terus hadir — bukan hanya secara fisik, tetapi secara emosional dan rohani. Waktu bermain si bungsu ia izinkan, tapi ia juga mengatur dan mendampingi. Perkembangan di sekolah ia pantau lebih aktif. Dan yang terpenting, ia menyadari bahwa menjadi orangtua bukan hanya soal memastikan anak makan, sekolah, dan lulus kuliah.
"Tanggung jawab sebagai orangtua bukan hanya merawat dan menyekolahkan — tapi bagaimana bisa mengisi tangki emosi mereka, sampai mereka memahami bahwa orangtua mengasihi mereka," ungkapnya.
Baca Juga: Saat Ibu Anastasia Sempat Merasa Gagal Menjadi Orangtua
Ibadah doa keluarga yang rutin setiap malam pun kini terasa berbeda — bukan sekadar rutinitas, melainkan momen kebersamaan yang terus berjalan dengan konsisten.
Meskipun ia telah bekerja keras untuk kedua anaknya yang sedang kuliah. Tetapi lewat The Parenting Project, ia belajar bahwa setiap anak butuh lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan yaitu mereka butuh tangki emosinya diisi, talentanya ditemukan, dan hatinya didampingi.
Pembaca yang terkasih, ada banyak hati orangtua yang telah dibentuk dan dipulihkan melalui pelajaran sederhana yang kami sediakan melalui 7 modul The Parenting Project.
Kami rindu Anda juga bisa mengalami hal yang sama dengan orangtua lainnya. Jika Anda tertarik untuk mengikuti program ini dan membantu Anda untuk membangun keluarga yang lebih sehat dengan menjadikan Kristus sebagai pusat, mari silahkan hubungi kami di:
WhatsApp 0811-1011-6556 atau kunjungi halaman website di www.theparentingproject.id.
Kami percaya setiap keluarga layak mengalami pemulihan!
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!