Geva, anak usia 7 tahun yang aktif di School of Life GKMI Ekaristi, Pringsewu, Lampung punya kebiasaan yang membuat orang-orang di sekitarnya kewalahan. Setiap kali keinginannya tidak terpenuhi, ia langsung ngambek, menangis, dan marah-marah.
Tidak hanya di rumah. Di sekolah pun begitu. Ketika teman-temannya membawa jajanan tertentu dan Geva menginginkan yang sama persis, situasi bisa langsung memanas. "Dia marah. Aku maunya jajan kayak gitu. Harus kayak gitu," cerita Ibu Dian menirukan Geva kecil yang tidak mau berkompromi. Sang ibu bahkan harus repot-repot mencari tahu merek jajanan yang sama agar Geva tidak meledak. "Saya harus nanya-nanya ke temannya — jajannya mereknya ini, ini. Harus nyari yang sama persis," ungkapnya. Lama-kelamaan, teman-teman mulai enggan bermain bersamanya karena tidak tahu kapan emosinya akan meledak lagi.
Di rumah pun tidak berbeda. "Kalau misalkan keinginan dia gak bisa diturutin, dia kayak diam, ngambek. Di deketin dikit-dikit — siapa salah kayak gitu," tutur Ibu Dian. Ngambek Geva bisa berlangsung lama — sampai ia sendiri yang menemukan jalan keluarnya, atau sampai orang tuanya berhasil mengalihkan perhatiannya dengan sesuatu yang lain.
Baca Juga: Bagaimana Perubahan Siona Setelah Pindah Rumah, Membuat Kakek dan Neneknya Terharu
Berubah Karena Pelajaran Dari Kisah Nuh dan Yusuf
Saat bergabung di School of Life GKMI Ekaristi, Geva mulai mengenal kisah-kisah Alkitab lewat Superbook. Dua kisah yang paling ia sukai dan paling membekas adalah Nabi Nuh "Bahtera Penyelamat" dan Yusuf "Si Penafsir Mimpi".
Ketika ditanya apa yang ia ingat dari kisah Nuh, Geva menjawab dengan riang "Bikin bahtera. Selamat dan bahagia." Dari Yusuf ia ingat, "Dimasukin ke sumur." Dua kisah tentang orang-orang yang menghadapi situasi sulit namun tetap percaya dan berdoa kepada Tuhan, dan pada akhirnya Tuhan tidak mengecewakan mereka.
Dari sanalah sebuah kalimat sederhana tertanam di hati Geva, "Meminta kepada Tuhan."
Ibu Dian pun mulai menggunakan kisah-kisah itu untuk berbicara kepada hati putrinya. "Nabi Nuh sama binatang-binatangnya selamat karena percaya. Yusuf juga percaya. Jadi kalau kamu mau apa-apa, kita berdoa dulu sama Tuhan. Kalau belum bisa beli, gak boleh marah-marah dulu. Harus sabar — besok, minggu depan, bulan depan, baru kita bisa beli," tuturnya.
Baca Juga: Saat Kisah Tipuan Si Ular Inspirasi Anak 12 Tahun Ini Tinggalkan Kebiasaan Buruknya
Dari Kebiasaan Ngambek Kini Memilih Berdoa
Kini setiap kali Geva menginginkan sesuatu, ia tidak lagi langsung meledak. Ia berdoa. "Yaudah, kita berdoa dulu ya. Tuhan kasih berkat, berarti kita bisa beli," begitu yang kini keluar dari mulut kecilnya.
Ibu Dian bersyukur menyaksikan perubahan itu. "Karakternya sudah berubah. Ego mau minta sesuatu yang dulu harus dituruti, sekarang sudah mau mulai memahami alasan yang orang tua sampaikan. Ia lebih bisa mengontrol diri," ungkapnya. Geva kini juga rajin menghafal ayat Firman Tuhan — dan cara bicaranya pun menjadi lebih sopan dan rohani dari sebelumnya.
Tutor School of Life pun melihat perubahan yang sama. "Dulu Geva suka menangis saat bermain dengan teman-temannya atau keinginannya tidak terpenuhi — tapi sekarang sangat jarang terjadi. Geva semakin baik mengelola emosi dalam dirinya. Ia juga selalu berjuang untuk menghafal ayat Firman Tuhan dan sangat antusias saat melihat cerita-cerita Superbook," tuturnya.
Anak yang dulu bisa ngambek seharian hanya karena jajan yang tidak sesuai keinginannya, kini punya cara baru yang jauh lebih indah — bukan marah-marah, melainkan berdoa dan bersabar.
Karena Geva sudah belajar dari Nuh dan Yusuf: Tuhan selalu mendengar doa orang yang percaya dan sabar menanti jawaban-Nya.
Terima kasih karena sudah terus mendukung kami membagikan kabar baik bagi seluruh generasi di Indonesia. Pekerjaan ini masih panjang, terus dukung kami untuk menghadirkan kisah Alkitab melalui Superbook bagi setiap anak di gereja-gereja lokal di Indonesia.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!