Gereja yang sehat bukan hanya gereja yang memiliki banyak jemaat, program yang ramai, atau fasilitas yang lengkap. Ukuran utamanya terlihat dari cara gereja mengajarkan kebenaran, membangun kehidupan rohani jemaat, menangani dosa, dan memulihkan orang dengan kasih.
Salah satu bagian penting dalam kehidupan gereja adalah disiplin. Topik ini memang sering dianggap tidak nyaman karena berkaitan dengan teguran, koreksi, dan pertanggungjawaban. Namun, ketika dilakukan dengan cara yang benar, disiplin justru menjadi salah satu ciri-ciri gereja yang sehat.
Disiplin gereja bukan bertujuan mempermalukan atau menyingkirkan seseorang. Tujuannya adalah menolong orang percaya menyadari kesalahannya, bertobat, dan kembali bertumbuh dalam hubungan yang benar dengan Tuhan dan sesama.
Berikut enam ciri gereja yang sehat yang dapat dilihat dari cara gereja menjalankan pembinaan dan disiplin.
BACA JUGA: Anak Muda Mulai Bosan dengan Worship Megah, Tren Ini Jadi Jawabannya
1. Berani Menyampaikan Kebenaran
Gereja yang sehat tidak membiarkan dosa hanya demi menghindari konflik. Ketika ada perilaku yang bertentangan dengan firman Tuhan, gereja perlu menanganinya dengan bijaksana.
Namun, kebenaran harus disampaikan dalam kasih. Teguran tidak boleh digunakan untuk mempermalukan, melampiaskan kemarahan, atau menunjukkan kekuasaan pemimpin.
Ibrani 12:11 menjelaskan bahwa disiplin memang tidak terasa menyenangkan pada saat dijalankan, tetapi kemudian menghasilkan buah kebenaran dan damai sejahtera.
2. Tidak Membedakan Orang
Salah satu ciri-ciri gereja yang sehat adalah tidak memperlakukan seseorang berdasarkan status, jabatan, kekayaan, atau kedekatannya dengan pemimpin.
Setiap jemaat, termasuk pemimpin, tetap perlu hidup dalam pertanggungjawaban. Tidak ada seorang pun yang berada di atas firman Tuhan.
Disiplin juga tidak berarti seseorang kehilangan kasih Tuhan atau tidak boleh lagi mendengar firman. Bahkan, orang yang sedang dibina tetap membutuhkan ruang untuk mendengar kebenaran, menerima pertolongan, dan menemukan jalan pertobatan.
3. Membantu Jemaat Bertumbuh dalam Hikmat
Gereja yang sehat tidak hanya memberikan teguran, tetapi juga menjelaskan alasan di balik koreksi tersebut.
Kitab Amsal berkali-kali mengajarkan bahwa orang yang menerima didikan akan bertumbuh dalam pengetahuan dan hikmat. Sebaliknya, menolak koreksi dapat membuat seseorang terus berjalan dalam kesalahan.
Karena itu, proses pembinaan perlu disertai pendampingan. Jemaat perlu ditolong untuk memahami apa yang salah, bagaimana memperbaikinya, dan langkah apa yang harus dilakukan agar tidak mengulanginya.
BACA JUGA: Gentle Parenting Tuh Alkitabiah Gak Ya?
4. Menunjukkan Kasih Bapa
Teguran yang sehat lahir dari kasih, bukan kebencian. Wahyu 3:19 berkata, “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”
Ayat ini menunjukkan bahwa kasih tidak selalu berbentuk penerimaan tanpa batas. Terkadang kasih juga hadir dalam bentuk koreksi yang menolong seseorang kembali ke jalan yang benar.
Gereja yang sehat tidak menutupi masalah hanya untuk menjaga citra. Namun, gereja juga tidak menjadikan kesalahan seseorang sebagai bahan pembicaraan atau tontonan publik.
Sumber : crosswalk.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!