Bagi Nathanael Aprilio Huang (9), atau yang akrab dipanggil Lio, belajar membedakan mana yang benar dan salah tidak selalu terjadi lewat peristiwa besar. Kadang, pelajaran itu datang dari kejadian sederhana di sekolah, seperti saat berada di kantin bersama teman.
Suatu hari, Lio sedang ingin membeli makanan. Namun di tengah situasi itu, ia diajak temannya untuk mengambil satu permen Yupi tanpa membayar. Awalnya, Lio sebenarnya tidak mau. Tetapi karena ajakan teman, ia akhirnya ikut melakukannya.
“Awalnya sih gak mau, cuma diajak sama teman,” cerita Lio.
BACA JUGA: Anak 9 Tahun Ini Gak Takut Diejek Lagi Setelah Nonton Kisah Musa di Superbook
Kejadian itu hanya terjadi sekali. Namun dari pengalaman itu, Lio mulai belajar bahwa tidak semua ajakan teman harus diikuti. Ada keputusan yang terlihat kecil, tetapi sebenarnya menunjukkan apakah seseorang mau melakukan yang benar atau tidak.
Kesadaran itu mulai terlihat ketika suatu hari temannya kembali mengajak melakukan hal yang sama. Kali ini, Lio tidak ikut. Ia justru berani menegur temannya.
“Pas teman Lio mau ajak Lio curi, Lio bilang, ‘Kamu ngapain? Dosa,’” ungkapnya.
Bagi Lio, mencuri bukan sekadar salah karena melanggar aturan. Ia mulai memahami bahwa mencuri adalah dosa di hadapan Tuhan. Pemahaman itu semakin kuat ketika ia menyaksikan tayangan Superbook dalam episode “Kasih Terbesar”, yang menceritakan penderitaan, kematian, dan kebangkitan Tuhan Yesus.
Lio masih mengingat kisah itu dengan cukup jelas. Ia bercerita tentang Tuhan Yesus yang berdoa di Taman Getsemani, dibawa kepada Pilatus, dicambuk, dipermalukan, memikul salib ke Bukit Golgota, hingga akhirnya disalibkan. Bahkan, Lio mengingat perkataan Tuhan Yesus di kayu salib.
“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan,” katanya saat menceritakan kembali kisah itu.
BACA JUGA: GMIT Motamaro Alami Pertumbuhan Luar Biasa Setelah Menggunakan CBN Disciple
Saat menonton bagian pengorbanan Tuhan Yesus, hati Lio tersentuh. Ia bahkan sempat menangis. Baginya, salib bukan hanya cerita yang ia tonton, tetapi bukti kasih Tuhan yang besar bagi manusia.
“Tuhan Yesus mati di atas kayu salib untuk kita semua, untuk menebus kita semua,” ucap Lio.
Melalui kisah itu, Lio mulai memahami bahwa dosa bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa saja. Tuhan Yesus sudah berkorban untuk menebus dosa manusia, termasuk dirinya. Karena itu, ia belajar untuk tidak mengulangi perbuatan yang salah.
Sekarang, Lio tidak hanya tahu bahwa mencuri itu tidak baik. Ia juga mulai berani mengingatkan temannya ketika diajak melakukan hal yang salah. Perubahan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi di hati seorang anak, keberanian untuk berkata “tidak” adalah langkah iman yang penting.
Bagi Lio, Tuhan Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat. Dari Superbook, ia belajar bahwa kasih Yesus di kayu salib memanggilnya untuk hidup lebih benar.
BACA JUGA: Jadi Pemalu dan Minder Karena Diejek, Gifani Sekarang Paham Dirinya Berharga Karena Tuhan
Kisah Lio menunjukkan bahwa firman Tuhan yang disampaikan dengan cara yang dekat dan mudah dipahami dapat menolong anak-anak belajar memilih yang benar sejak dini.
Melalui Superbook, semakin banyak anak dapat mengenal kasih Tuhan Yesus, memahami nilai kebenaran, dan bertumbuh menjadi pribadi yang berani menolak hal yang salah.
Mari dukung pelayanan Superbook agar lebih banyak anak di berbagai daerah dapat mendengar kabar baik, mengalami kasih Tuhan, dan dibentuk hidupnya melalui firman Tuhan.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!