Awalnya hanya satu pinjaman online. Prosesnya cepat, mudah, dan terasa seperti solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan sesaat. Namun siapa sangka, keputusan yang tampak sederhana itu justru membawa Ibu Iren ke dalam salah satu masa tergelap dalam hidupnya.
Dalam waktu hanya empat bulan, ia terjerat hingga 58 aplikasi pinjaman online dengan total utang mencapai sekitar Rp120 juta. Yang mengejutkan, sebagian besar pinjaman tersebut berasal dari pinjol ilegal yang menawarkan pencairan dana sangat mudah, tetapi memiliki bunga dan tekanan penagihan yang sangat mencekik.
BACA JUGA: Dari Anak Penjudi yang Bunuh Diri hingga Dipulihkan Tuhan, Inilah Kisah Henry Kurniawan
Ibu Iren mengakui bahwa masalah ini bukan berawal dari kebutuhan mendesak, melainkan dari gaya hidup dan keinginan untuk mempertahankan standar hidup tertentu. Selama bertahun-tahun, ia menyimpan rahasia keuangan dari suaminya. Ketika menginginkan sesuatu, ia memilih mencari pinjaman daripada terbuka kepada pasangan.
Awalnya semua tampak terkendali.
Namun ketika satu pinjaman jatuh tempo, ia harus mengambil pinjaman lain untuk menutupnya. Lubang yang satu ditutup dengan lubang baru. Siklus ini terus berulang hingga jumlah utangnya membengkak tanpa bisa dihentikan.
Saat pinjol legal tidak lagi memberikan pinjaman, ia beralih ke pinjol ilegal. Dari sinilah badai yang sesungguhnya dimulai.
Penagihan datang tanpa henti. Telepon, pesan, hingga ancaman menyebar ke kontak keluarga dan teman-temannya. Foto dan data pribadinya beredar. Nama baik keluarga dipertaruhkan. Bahkan ia mengaku takut keluar rumah karena merasa dipermalukan di mana-mana.
Di tengah tekanan yang luar biasa itu, muncul pikiran untuk meninggalkan rumah. Ia merasa telah menjadi beban bagi suami dan anak-anaknya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Ketika rahasia itu akhirnya terbongkar, suaminya tidak mengusir atau meninggalkannya. Dengan penuh kasih, suaminya berkata bahwa mereka akan menghadapi semuanya bersama-sama. Dukungan dari suami dan anak-anak menjadi kekuatan terbesar yang membuatnya tetap bertahan ketika hidup terasa berada di ambang kehancuran.
Meski begitu, perjalanan keluar dari jerat pinjol tidak terjadi dalam semalam.
Di tengah ketakutan, rasa malu, dan tekanan dari debt collector, Ibu Iren mulai mencari pertolongan. Pencariannya membawanya kepada sebuah komunitas yang membimbingnya bukan hanya soal cara melunasi utang, tetapi juga tentang memulihkan hati, karakter, dan pola pikirnya terhadap uang.
Di sanalah ia belajar bahwa akar masalah utang bukan sekadar soal keuangan, tetapi juga identitas diri, gaya hidup, dan relasi dengan Tuhan.
Perlahan-lahan, ia mulai mengubah cara hidupnya. Ia belajar hidup sederhana, mengatur keuangan dengan disiplin, bernegosiasi dengan para kreditur, dan menghadapi setiap konsekuensi dengan jujur. Prosesnya tidak mudah. Butuh waktu bertahun-tahun. Namun satu per satu masalah mulai terselesaikan.
Hari ini, Ibu Iren bukan hanya berhasil bangkit dari jerat pinjol, tetapi juga aktif mendampingi orang lain yang mengalami pergumulan serupa.
Kisahnya menjadi bukti bahwa tidak ada situasi yang terlalu hancur untuk dipulihkan ketika seseorang berani jujur, meminta pertolongan, dan berjalan bersama Tuhan.
BACA JUGA: Terlilit Utang 500 Juta, Hampir Cerai, Hingga Tuhan Pulihkan Keluarga Ibu Ini
Bagaimana proses lengkap Ibu Iren keluar dari jerat 58 pinjol? Apa langkah-langkah praktis yang membantunya bangkit dari utang Rp120 juta? Dan bagaimana peran komunitas dalam pemulihannya?
Tonton video selengkapnya di bawah ini dan temukan harapan bahwa keluar dari utang dan memulai hidup baru itu mungkin terjadi.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!