Kefamiliaran adalah narkotika yang ampuh. Psikologi dan jiwa manusia sama-sama memiliki hasrat kuat akan keseimbangan homeostasis—kita lebih memilih penderitaan yang dapat diprediksi daripada kebebasan yang asing (unfamiliar freedom). Ketika seseorang menghabiskan waktu bertahun-tahun berperan sebagai “sang pelarian,” “si pembuat kekacauan,” atau “sang penyabot sejati,” pola perilaku destruktif tersebut perlahan mengeras menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya: sebuah identitas inti.
Disfungsi, jika dijalani cukup lama, berubah menjadi bentuk keamanan yang menyimpang. Anda tahu persis apa yang akan terjadi akibat krisis yang Anda ciptakan sendiri. Anda mengenali betul seluk-beluk sudut-sudut gelap tempat Anda bersembunyi.
Namun, apa yang terjadi ketika pelarian itu berakhir? Apa yang terjadi saat Anda melangkah keluar dari bayang-bayang, Anda telah sepenuhnya dimaafkan, sehat secara klinis, dan berdiri dalam kejelasan cahaya yang menyilaukan?
Pengalaman yang muncul sering kali bukanlah kelegaan seketika, melainkan rasa pening luar biasa yang membuat disorientasi. Belajar melangkah dengan identitas yang benar-benar baru (asing) merupakan perubahan psikologis dan spiritual yang sangat besar. Hal ini menuntut bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan penataan ulang jiwa secara menyeluruh.
Pertama kali saya mengamati “Phantom Limb Pain” saya masih kuliah kedokteran di Berlin Barat – Jerman dan sejak itu saya mengamati begitu banyak orang yang diamputasi anggota tubuhnya mengalami “Phantom Limb Pain.”
Ketika seseorang yang diamputasi kehilangan kakinya, mereka sering kali masih merasakan gatal atau nyeri tajam (Phantom Limb Pain) di tempat anggota tubuh itu sebelumnya berada. Peta saraf di otak belum diperbarui untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan fisik yang baru.
Fenomena yang persis sama terjadi selama transformasi spiritual dan psikologis. Kita bisa menyebutnya sebagai disfungsi “Anggota Tubuh Semu.”
Anda mungkin telah sepenuhnya dibebaskan, dibenarkan, dan dimerdekakan, namun pikiran Anda secara refleks masih berusaha meraih belenggu lama. Saat terjadi kesalahan, jalur saraf lama kembali aktif dan berbisik, “Lihat? Kamu tetap saja orang yang kacau.” Saat keintiman terasa terlalu dekat, mekanisme pertahanan diri yang primitif berteriak, “Larilah sebelum mereka melihat siapa dirimu yang sebenarnya.”
Rasul Paulus memahami ketegangan yang menyiksa antara masa lalu yang telah mengakar kuat dan masa kini yang telah ditebus. Ia menekankan perlunya perombakan total secara kognitif dan spiritual:
“17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia. 22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, 23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, 24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” — Efesus 4:17, 22-24
Perhatikan urutannya: Anda harus secara sadar menanggalkan manusia lama, menjalani pembaruan pikiran secara menyeluruh, dan kemudian secara aktif mengenakan identitas baru. Jika Anda tidak dengan sengaja mengenakan manusia baru itu, Anda secara alami akan menggigil kedinginan dan kembali meraih kain compang-camping masa lalu Anda, karena hanya pakaian itulah yang Anda tahu cara memakainya.
Pertentangan Batin yang Paling Hakiki
Berdiri dalam Terang berarti rahasia Anda telah lenyap, rasa bersalah Anda telah ditebus, dan lembaran hidup Anda telah bersih kembali.
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” — 2 Korintus 5:17
Realitas teologisnya terjadi seketika; namun, asimilasi psikologisnya merupakan disiplin harian. Pertentangan batin muncul karena kita mencampuradukkan masa lalu dengan jati diri kita. Masa lalu Anda adalah catatan tentang apa yang telah terjadi; jati diri Anda adalah pernyataan tentang siapa diri Anda sebenarnya. Untuk menjembatani kesenjangan ini, Anda harus belajar mengamati dorongan lama untuk melarikan diri atau melakukan sabotase diri tanpa harus meleburkan diri dengannya. Kesadaran metakognitif ini memungkinkan Anda untuk berkata: “Saat ini aku merasakan dorongan untuk melarikan diri karena itulah mekanisme pertahanan diriku di masa lalu. Namun, hal itu bukan lagi jati diriku yang sekarang."
Dua Jalan Pembentukan Kembali Jati Diri
Sejarah menyajikan studi kasus yang sangat kontras mengenai individu-individu yang menghadapi krisis jati diri semacam ini. Satu orang berhasil menyerap Terang untuk membangun kembali kehidupannya yang hancur; sementara yang lain tetap menjadi tawanan bagi jati diri yang diliputi rasa rendah diri dan paranoia, bahkan saat ia sedang duduk di atas takhta.
Sosok yang Mengalaminya Langsung: John Newton
Sebelum menciptakan himne paling terkenal di dunia, “Amazing Grace”, John Newton adalah sosok yang benar-benar gemar merusak dan melarikan diri dari kenyataan. Ia adalah seorang pelaut yang kasar dan pemberontak, yang pada akhirnya menjadi kapten kapal pengangkut budak. Ia tidak sekadar terlibat dalam kejahatan masyarakat; ia bahkan sangat dibenci oleh rekan-rekannya sendiri karena lidahnya yang tajam dan jahat, kata-katanya yang menghujat, serta ketiadaan pedoman moral sama sekali dalam dirinya. Ia telah sepenuhnya menyatukan identitas dirinya dengan sosok orang buangan yang bejat.
Ketika Newton selamat dari badai dahsyat di laut pada tahun 1748, peristiwa itu memaksanya untuk diam sepenuhnya. Sang Terang menembus realitasnya yang kelam. Ia tidak hanya sekadar berganti pekerjaan; ia menjalani proses perombakan identitas yang berat dan memakan waktu puluhan tahun.
Newton harus belajar memandang dirinya bukan sebagai pedagang budak yang hina, melainkan sebagai anak Allah yang dikasihi dan diampuni. Ia beralih dari seorang pedagang manusia menjadi pendeta yang ditahbiskan dan seorang aktivis penghapusan perbudakan yang gigih, bekerja bahu-membahu bersama William Wilberforce. Ia menulis ulang kisah hidupnya sepenuhnya. Saat menatap cermin di masa tuanya, ia tidak lagi melihat sosok “si perusak” atau “sang monster.” Ia melihat sebuah monumen kasih karunia, karena ia membiarkan identitasnya didefinisikan sepenuhnya oleh Sang Terang.
Sosok yang Menolaknya: Raja Saul
Sebuah kontras yang tragis tampak pada diri Saul, raja pertama Israel. Saul mengawali perjalanannya dengan penanda rohani yang luar biasa: Allah secara harfiah memberinya hati yang baru dan mengubahnya menjadi pribadi yang berbeda (1 Samuel 10:6-9). Ia diangkat dari seorang pemuda desa yang tidak dikenal—yang sedang mencari keledai yang hilang—menjadi penguasa berdaulat atas sebuah bangsa. Cahaya perkenanan ilahi bersinar terang atas dirinya.
Namun, secara psikologis, Saul tidak pernah berhenti memandang dirinya melalui lensa kekurangan, rasa tidak aman, dan ketidakberartian. Ia tetap menjadi “pemuda kecil yang bersembunyi di antara barang-barang.” (1 Samuel 10:22). Karena ia tidak pernah membiarkan pikirannya diperbarui agar selaras dengan kenyataan barunya, pola-pola identitas lamanya terus mendominasi.
Saat menghadapi tantangan, ia kembali pada mekanisme pertahanan diri lamanya: melimpahkan kesalahan kepada orang lain, panik, dan melakukan tindakan merusak diri sendiri yang berakibat fatal. Ketika Daud muda mulai meraih kemenangan, “imposter syndrome” (perasaan sebagai penipu/tidak layak) yang mengakar kuat dalam diri Saul berubah menjadi paranoia yang memicu hasrat untuk membunuh.
Bahkan ketika nabi Samuel menghadapkannya pada kebenaran yang nyata, Saul memilih untuk melindungi citra publiknya alih-alih mengalami pertobatan sejati. Ia berpegang erat pada ilusi kendali. Saul meninggal sebagai sosok yang hancur dan terasing di Gunung Gilboa; sebuah contoh tragis tentang seseorang yang menerima panggilan baru yang luar biasa namun memilih untuk mati di dalam penjara yang sempit dan gelap dari identitas lamanya yang belum diperbarui.
Berjalan dalam Terang
Membangun kembali identitas yang hancur menuntut Anda untuk menerima kerentanan yang muncul saat menjadi sehat secara batin. Hal ini berarti mengakui bahwa peperangan telah usai, sipir penjara telah membuka gerbang, dan pengadilan telah menyatakan Anda tidak bersalah.
Berhentilah menoleh ke belakang—ke sel-sel penjara tempat Anda biasa menyabotase diri sendiri—untuk memastikan siapa diri Anda. Cermin kebenaran Allah menyatakan bahwa Anda bersih, diampuni, dan memiliki tujuan hidup. Melangkahlah ke depan, terimalah rasa canggung akibat kebebasan baru Anda, dan biarkan Sang Terang menentukan arah hidup Anda mulai hari ini dan seterusnya.
Harry Lee MD; PsyD; BBS
Pastor & Gembala Restoration Christian Church – Los Angeles
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!