Ibu Lastiar Lumbanraja, berusia 52 tahun dari Telukdalam, Nias Selatan, telah menjadi single parent setelah suaminya dipanggil Tuhan beberapa tahun yang lalu. Seminggu sebelum meninggal, suaminya meminta agar tidak dijadwalkan lagi untuk pelayanan. Dan dini hari pada pukul 01.00 WIB, sambil bernyanyi dan berdoa, suaminya pergi untuk selamanya.
Sejak saat itu, Ibu Lastiar berjuang sendirian membesarkan anak-anaknya seorang diri. Beberapa sudah merantau ke Jakarta. Yang tinggal bersamanya adalah Niscaya, anak bungsunya yang masih duduk di bangku SMA.
Telepon Tidak Diangkat, Emosi Meluap
Suatu hari, Ibu Lastiar mencoba menghubungi Niscaya, tapi teleponnya tidak diangkat. Khawatir dan panik, ia langsung menjemput putrinya ke rumah teman tempat Niscaya sedang mengerjakan tugas kelompok.
Tapi begitu bertemu, bukan pelukan yang keluar. Yang keluar adalah kemarahan.
Di depan orang-orang yang sedang berada di warungnya, Ibu Lastiar meluapkan emosinya. Dengan nada keras dan kata-kata yang menyakitkan, ia menegur Niscaya habis-habisan. "Buang saja telepon ini, tidak ada gunanya pegang telepon kalau tidak bisa mengangkat telepon!"
Niscaya tidak melawan atau berteriak. Di wajahnya tampak rasa malu yang meledak dengan tangisan. “Yang saya lihat di wajahnya: “Kenapa Mamaku marahin aku di depan orang? Dia menangis tapi tidak bersuara, hanya air mata yang keluar," kenang Ibu Lastiar.
Dalam hati, Ibu Lastiar merasa ada yang salah. Tapi ia belum tahu harus mulai dari mana.
Baca Juga: Saat Ayah Berhenti Marah, Anak-anak Mulai Lebih Mendengar. Stefanus Rohman Belajar di TPP
Berdoa Tapi Tanpa Sukacita
Sebenarnya, kebiasaan berdoa sudah ada di keluarga Ibu Lastiar. Setiap malam, bahkan dengan anak-anak yang merantau di Jakarta, mereka tetap berdoa bersama lewat video call.
Tapi ada yang terasa kosong.
"Mukanya tidak ada kebahagiaan, tidak ada sukacita. Jadi dalam hatiku “Percumalah kami berdoa kalau tidak dari hati”” ujarnya.
Doa ada, tapi kedekatan tidak ada. Rutinitas ada, tapi ketulusan belum hadir.
Langkah Awal Pemulihan Hadir Lewat Modul The Parenting Project
Sejak Februari 2026, gereja GKB Gosyen di Telukdalam secara resmi meluncurkan program pemuridan keluarga The Parenting Project. Kegiatan rutin ini berlangsung setiap Jumat malam pukul 20.00, dan Ibu Lastiar adalah salah satu pesertanya.
Pertemuan pertama membahas Modul 1 "Menjadi Teladan yang Baik." Saat menonton tayangan video, Ibu Lastiar seperti sedang melihat cermin. Ia menyadari bahwa setiap hari, tanpa sadar, anak-anaknya mengamati dan menyerap semua yang ia lakukan dan katakan. Dalam diskusi kelompok, kenangan tentang Niscaya yang menangis diam-diam di warung itu kembali hadir, dan kali ini, hatinya terbuka untuk melihatnya secara berbeda.
Baca Juga: Dulu Marah ke Anak Sampai Diikat, Kini Ibu Nuraifa Belajar Didik Anak Tak Perlu Kekerasan
Selama ini, meski Niscaya pernah menyampaikan betapa tidak nyamannya ditegur di depan umum, ada bagian dari diri Ibu Lastiar yang masih berpikir: "Anak-anak harus mendengarkan saya."
Tapi modul itu mengajarkan sesuatu yang berbeda. Melalui akronim di Modul 1, ia memutuskan untuk mengambil langkah untuk mengakui kesalahannya dan menunjukkan kasih lewat kata-kata yang baik.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Wah sangat diberkati :)