Pentingnya Memiliki Iman Pribadi
Daud memiliki iman pribadi, artinya ia mengenal Tuhan melalui perjalanan dan pengalamannya sendiri. Iman personal bukan berarti kita tidak membutuhkan gereja, pendeta, komunitas, atau kesaksian orang lain. Semua itu tetap penting untuk menolong pertumbuhan rohani kita.
Namun, iman kita tidak boleh hanya bergantung pada pengalaman orang lain. Kita tidak bisa terus hidup dari iman orang tua, pasangan, pemimpin rohani, atau teman kita. Pada akhirnya, setiap orang perlu memiliki pengenalan pribadi kepada Tuhan.
Ayub pernah berkata: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” - Ayub 42:5.
Ayat ini menggambarkan perubahan dari sekadar mendengar tentang Tuhan menjadi mengenal-Nya secara pribadi.
Anda perlu sampai pada satu titik ketika Anda dapat berkata, “Saya percaya Tuhan setia bukan hanya karena saya mendengarnya dari orang lain, tetapi karena saya sendiri telah mengalami kesetiaan-Nya.”
Daud mengenal Tuhan bukan hanya sebagai Tuhan bangsanya, tetapi sebagai Tuhan yang menolongnya secara pribadi. Ia tahu bahwa Tuhan melihatnya di padang. Ia tahu bahwa Tuhan menyertainya ketika tidak ada orang lain di dekatnya.
Itulah yang membuat iman Daud tetap kuat ketika semua orang di sekelilingnya merasa takut.
Mazmur 23:1-4 menunjukkan pengenalan pribadi Daud kepada Tuhan: “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang... Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”
Daud dapat menulis tentang Tuhan sebagai Gembala karena ia sendiri memahami kehidupan seorang gembala. Ia tahu bagaimana seorang gembala menjaga, menuntun, melindungi, dan memelihara kawanan dombanya.
Pengalaman sehari-harinya menolong Daud mengenal karakter Tuhan dengan lebih dalam.
Libatkan Tuhan dalam Pekerjaan Sehari-hari
Salah satu cara membangun iman personal adalah dengan melibatkan Tuhan dalam aktivitas sehari-hari. Banyak orang memisahkan kehidupan rohani dari pekerjaan. Tuhan dianggap hanya berkaitan dengan ibadah, doa, pelayanan, atau aktivitas gereja. Sementara urusan kantor, bisnis, keluarga, dan keputusan sehari-hari dijalani sendiri.
Padahal, Tuhan ingin dilibatkan dalam seluruh bagian kehidupan kita. Kolose 3:23 berkata:
“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Ayat ini menegaskan bahwa pekerjaan sehari-hari juga memiliki nilai rohani. Ketika kita bekerja dengan jujur, bertanggung jawab, dan sepenuh hati, kita sedang melakukannya untuk Tuhan.
Daud mengalami pertumbuhan iman melalui pekerjaannya sebagai gembala. Ia tidak harus berada di tempat ibadah untuk mengalami Tuhan. Padang penggembalaan menjadi tempat ia belajar bergantung, taat, bertanggung jawab, dan berani.
Demikian juga dengan pekerjaan Anda saat ini. Tempat kerja, rumah, sekolah, usaha, atau tanggung jawab yang sedang Anda jalani dapat menjadi tempat Tuhan membentuk iman.
Ketika menghadapi tugas yang sulit, mintalah hikmat Tuhan. Ketika berhadapan dengan orang yang membuat Anda kesal, mintalah kesabaran. Ketika harus mengambil keputusan, tanyakan kehendak Tuhan. Yakobus 1:5 berkata: “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah... maka hal itu akan diberikan kepadanya.”
Sumber : Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!