Nama Erling Haaland mencuri perhatian dunia setelah menjadi pahlawan Norwegia di Piala Dunia 2026. Dua golnya ke gawang Brasil membawa Norwegia menang 2-1 pada babak 16 besar dan melaju ke perempat final untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Kemenangan ini bukan hanya menjadi cerita besar dalam dunia sepak bola, tetapi juga membuka kembali sisi lain dari perjalanan Haaland tentang bagaimana keluarga membentuk mental dan karakternya sejak kecil.
Dibesarkan dalam Keluarga Atlet
Erling Haaland lahir dalam keluarga yang sangat dekat dengan dunia olahraga. Ayahnya, Alf-Inge Haaland, adalah mantan pesepak bola profesional yang pernah bermain di Premier League. Sementara ibunya, Gry Marita Braut, dikenal sebagai mantan atlet heptathlon dari Norwegia.
BACA JUGA: 7 Negara Mayoritas Kristen di World Cup 2026, Ada yang Jadi Kuda Hitam!
Dengan latar belakang seperti itu, wajar jika Haaland akrab dengan olahraga sejak kecil. Namun yang menarik, orang tuanya tidak membesarkannya dengan tekanan untuk menjadi bintang.
Mereka justru memberi ruang bagi Haaland untuk mencoba banyak hal, menikmati proses, dan menemukan sendiri apa yang benar-benar ia sukai. Sikap ini menjadi pelajaran penting bagi orang tua, bahwa anak bukanlah proyek ambisi orang tua, melainkan pribadi yang Tuhan percayakan untuk dibimbing, didampingi, dan diarahkan dengan kasih.
Mendukung Tanpa Terlalu Mengontrol
Salah satu pelajaran parenting yang menonjol dari keluarga Haaland adalah sikap sang ayah. Alf-Inge pernah menceritakan bahwa ia tidak ingin terlalu banyak mencampuri latihan maupun pertandingan Erling. Ia memilih berada di belakang, mempercayakan proses latihan kepada pelatih, dan membiarkan anaknya belajar dari pengalaman.
Sikap ini menunjukkan bahwa dukungan orang tua tidak selalu berarti harus terus memberi instruksi. Kadang, anak justru membutuhkan ruang untuk bertumbuh, mengambil keputusan, dan belajar menghadapi tantangan dengan caranya sendiri.
BACA JUGA: Gol Viral Messi Bawa Argentina Comeback, Iman Katoliknya Jadi Sorotan Dunia
Hal ini sejalan dengan panggilan orang tua untuk mendidik anak di jalan yang benar, bukan dengan paksaan, tetapi dengan hikmat, kesabaran, dan teladan. Seperti dalam Amsal 22:6 mengingatkan, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
Disiplin yang Dibangun Sejak Dini
Di balik tubuh kuat dan insting tajam Erling Haaland, ada kebiasaan disiplin yang dibangun sejak muda. Ia dikenal sangat memperhatikan pola makan, tidur, hidrasi, latihan, dan pemulihan tubuh. Semua itu bukan kebiasaan instan, melainkan hasil dari proses panjang.
Haaland juga tidak hanya bermain sepak bola saat kecil. Ia pernah mencoba olahraga lain seperti atletik, handball, dan golf. Pengalaman ini membantu membentuk kemampuan fisik, koordinasi, dan mental kompetitifnya.
Disiplin juga merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter. Firman Tuhan mengajarkan bahwa ketekunan, penguasaan diri, dan tanggung jawab adalah nilai yang harus dilatih dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang dibiasakan hidup disiplin sejak kecil akan lebih siap menghadapi tekanan, kegagalan, dan tanggung jawab yang lebih besar di masa depan.
BACA JUGA: Seru-seruan Nonton World Cup Tanpa Bikin Badan Tumbang, Begini Caranya
Perjalanan Erling Haaland bisa menjadi pengingat bagi kita semua bahwa keberhasilan anak bukan hanya soal pencapaian, popularitas, atau prestasi yang terlihat. Yang lebih penting adalah karakter, kerendahan hati, ketekunan, dan kemampuan menggunakan talenta yang Tuhan berikan dengan bertanggung jawab.
Setiap anak memiliki talenta yang berbeda. Tugas orang tua bukan memaksa anak menjadi seperti yang mereka inginkan, tetapi menolong anak mengenali panggilan dan potensi yang Tuhan taruh dalam hidupnya.
Karena itu, kenali potensi anak, dampingi mereka dengan sabar, bangun kebiasaan baik, dan jangan sampai ambisi orang tua mengambil alih perjalanan anak. Sebab keberhasilan sejati bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga karakter yang terbentuk di sepanjang proses.
Membesarkan anak bukan perjalanan yang mudah. Jika Anda membutuhkan dukungan, kekuatan, atau teman untuk berdoa dalam pergumulan sebagai orang tua, hubungi Layanan Doa CBN. Kami siap mendengarkan dan mendoakan Anda agar tetap kuat mendampingi anak dalam kasih Tuhan.
Klik tombol Live Chat di pojok kanan bawah atau WhatsApp: 0822-1500-2424
Sumber : Berbagai Sumber
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!