Mudah untuk mengaku memiliki pengabdian kepada iman yang dimiliki saat matahari bersinar dan hidup berjalan mulus. Namun, pengabdian yang sejati dan setia jarang sekali terbentuk dalam kenyamanan. Pengabdian semacam itu ibarat jangkar yang diturunkan jauh ke dalam pasir yang terus bergerak—tak terlihat, teruji berat, dan sama sekali tak tergoyahkan saat badai kehidupan menerjang. Sementara kesetiaan yang dangkal berubah-ubah mengikuti arah angin kepentingan pribadi, pengabdian yang setia tetap tertambat pada sebuah janji kepada seseorang, atau kepada panggilan yang lebih tinggi, terlepas dari pengorbanan pribadi yang harus ditanggung.
Dalam kisah Alkitab, hanya sedikit cerita yang mampu menggambarkan keteguhan hati yang tenang dan tak tergoyahkan ini sebaik kisah seorang janda muda asal Moab bernama Rut.
Standar Tertinggi: Keteguhan Hati Rut yang Tak Goyah
Kitab Rut bermula pada masa kelam yang penuh kelaparan dan duka mendalam. Naomi, seorang wanita Israel yang tinggal di Moab, telah kehilangan suami serta kedua putranya. Dalam keadaan sangat kekurangan di negeri asing, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Betlehem. Ia memohon kepada kedua menantunya yang berasal dari Moab, Orpa dan Rut, untuk tetap tinggal bersama keluarga mereka sendiri, tempat di mana mereka mungkin bisa mendapatkan keamanan dan suami baru.
Orpa mencium Naomi sebagai tanda perpisahan lalu berbalik pergi—sebuah pilihan yang sangat logis dan masuk akal demi kelangsungan hidupnya. Namun, Rut menolak untuk beranjak. Tanggapannya menjadi salah satu pernyataan pengabdian tulus yang paling kuat dalam sejarah manusia.
Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” – Rut 1:16-17
Kesetiaan Rut bukanlah sesuatu yang bersifat transaksional. Ia tidak mengikuti Naomi karena mengharapkan kekayaan, keamanan, atau kehidupan yang mudah. Justru, dengan melintasi perbatasan menuju Israel sebagai seorang janda asing yang hidup dalam kemelaratan, ia melangkah langsung ke dalam kerentanan, kemiskinan, dan penolakan sosial. Namun, ia menautkan identitas, masa depan, dan imannya kepada Naomi serta Allah Israel. Kesetiaannya merupakan benang yang tak putus, terjalin melewati duka, gegar budaya, dan masa depan yang tak pasti.
Baca Juga: Belajar dari Elia Cara Melalui Krisis Ekstrem Dalam Hidup
Untuk memahami wujud nyata hal ini dalam sejarah modern, kita bisa menengok kehidupan Harriet Tubman. Kisah hidupnya memiliki kemiripan yang luar biasa dan langsung dengan kisah Rut.
Jika Rut memilih meninggalkan tanah kelahirannya serta merangkul kemiskinan dan kerentanan demi pengabdiannya kepada Naomi, Harriet Tubman melakukan hal yang justru sebaliknya: ia telah meraih keselamatan dan kebebasan penuh bagi dirinya sendiri, namun dengan sukarela kembali terjun ke dalam bahaya ekstrem demi pengabdian murni kepada orang lain.
Mewujudkannya dalam Tindakan: Sebuah Contoh Sejarah tentang Pengabdian
Untuk memahami wujud nyata hal ini dalam sejarah modern, kita dapat menengok kehidupan Harriet Tubman.
Pada tahun 1849, Tubman melarikan diri dari kenyataan kejam perbudakan di Maryland dan berhasil melintasi perbatasan negara bagian menuju Pennsylvania. Ia telah sampai di tempat perlindungan yang sesungguhnya. Ia aman, bebas, dan memiliki kesempatan langka untuk membangun kehidupan yang tenang serta tenteram bagi dirinya sendiri di wilayah Utara.
Namun, pengabdian sejati tidak pernah berorientasi pada kepentingan diri sendiri. Didorong oleh iman yang mendalam dan tak tergoyahkan serta kesetiaan yang kuat terhadap keluarga dan kaumnya, Tubman menyadari bahwa kebebasannya terasa hampa jika orang-orang yang dicintainya masih terbelenggu. Ibarat jangkar yang dilemparkan ke perairan paling berbahaya, tekadnya tidak pernah goyah.
Baca Juga: Hadir dan Memancarkan Terang Bagi Sesama
Selama satu dekade berikutnya, Tubman secara sukarela kembali ke wilayah Selatan Amerika sekitar 19 kali. Ia berani menghadapi risiko akibat Undang-Undang Budak Buronan (“Fugitive Slave Act”), besarnya imbalan bagi siapa pun yang dapat menangkapnya, serta ancaman penangkapan dan eksekusi yang terus mengintai. Berperan sebagai pemandu yang cerdas dalam jaringan “Underground Railroad” (jalur pelarian rahasia bagi budak), ia secara pribadi memandu lebih dari 70 orang budak menuju kebebasan.
Tubman sama sekali tidak memperoleh keuntungan materi dengan kembali ke wilayah Selatan; ia justru mempertaruhkan segala hal yang telah susah payah ia capai. Jika Rut memilih meninggalkan tanah kelahirannya dan merangkul kemiskinan demi Naomi, Tubman melakukan hal sebaliknya—ia rela meninggalkan keamanan yang telah ia perjuangkan demi kembali terjun ke dalam bahaya, semata-mata karena pengabdian yang tulus kepada sesama.
Sebuah Kontras: Pergeseran Kesetiaan dan Pengabdian yang Runtuh
Ketika pengabdian bersifat bersyarat, ia akan runtuh di bawah tekanan. Sejarah menyajikan sebuah kontras yang tragis dalam kehidupan Benedict Arnold.
Pada masa awal Perang Revolusi Amerika, Arnold adalah seorang jenderal yang brilian, sangat sukses, dan tampak berdedikasi bagi Tentara Kontinental. Ia menggunakan uang pribadinya untuk membiayai kebutuhan pasukan, memimpin serangan-serangan yang berani, serta mengalami luka parah dalam pertempuran demi membela negara yang baru saja berdiri itu.
Namun, “pengabdian” Arnold sangat bergantung pada ego pribadinya, hasrat akan pengakuan, dan kondisi keuangannya. Ketika ia merasa diabaikan dalam hal promosi jabatan dan menghadapi tumpukan utang, kesetiaannya pun lenyap. Alih-alih tetap setia di tengah kesulitan dan gesekan politik, ia justru memilih untuk mengkhianati negaranya.
Arnold melakukan negosiasi rahasia dengan pihak Inggris untuk menyerahkan benteng strategis Amerika di West Point, dengan imbalan bayaran yang sangat besar serta posisi tinggi di Angkatan Darat Inggris. Rencananya terbongkar, dan namanya pun tercatat dalam sejarah sebagai sinonim abadi bagi seorang pengkhianat.
Kisah Arnold menunjukkan apa yang terjadi ketika pengabdian tidak memiliki landasan moral yang kuat. Begitu harga yang harus dibayar secara pribadi terasa terlalu mahal dan imbalan yang didapat terlalu kecil, kesetiaannya beralih kepada pihak mana pun yang menawarkan kesepakatan lebih menguntungkan.
Baca Juga: Merasa Stagnan Karena Terjebak di Tempat yang Sama? Begini Cara untuk Keluar…
Manfaat Luar Biasa dari Hidup dengan Pengabdian yang Setia
Memilih jalan pengabdian yang mendalam dan penuh pengorbanan jarang sekali mudah, namun manfaat jangka panjangnya sangatlah besar, mampu mengubah baik individu itu sendiri maupun generasi mendatang.
• Warisan yang Melampaui Zaman: Pengabdian Rut yang sederhana namun setia mengubah jalannya sejarah. Dengan tetap mendampingi Naomi, ia akhirnya bertemu dan menikah dengan Boas, menjadi nenek buyut Raja Daud, serta menempatkan dirinya secara langsung dalam garis keturunan Yesus Kristus. Demikian pula, pengabdian Harriet Tubman mengukuhkan dirinya sebagai ikon kebebasan yang abadi. Pengabdian sejati memiliki dampak yang meluas jauh melampaui apa yang dapat kita lihat saat ini.
• Kedamaian Batin dan Kejernihan Pikiran yang Mendalam: Ketika pengabdian Anda bersifat tanpa syarat, Anda terhindar dari pergulatan mental yang melelahkan akibat terus-menerus menimbang ulang kesetiaan berdasarkan situasi yang berubah-ubah. Mereka yang didorong oleh pengabdian mutlak menjalani hidup dengan kedamaian mendalam yang sulit dijelaskan, karena jalan hidup mereka telah ditetapkan—terlepas dari apakah mereka sedang menghadapi jalan yang mulus ataupun badai yang dahsyat.
• Integritas Karakter yang Kokoh dan Tak Tergoyahkan: Pengabdian membentuk karakter yang tangguh dan tak terpatahkan. Individu yang hidup dengan pengabdian setia menjadi pilar bagi keluarga, organisasi, dan komunitas mereka. Mereka menjadi sosok yang dapat diandalkan serta tempat bernaung yang aman bagi orang lain, karena nilai-nilai inti mereka tidak berubah-ubah demi kenyamanan pribadi ataupun tekanan dari luar.
Menjalani hidup dengan pengabdian setia berarti menerima kebenaran bahwa ada hal-hal yang layak diperjuangkan dan dipertahankan, bahkan ketika hal itu terasa menyakitkan. Sikap ini menukarkan rasa aman sesaat—yang didapat dengan hanya mementingkan diri sendiri—demi kenyataan kokoh dan abadi dari sebuah kehidupan yang bermakna serta mewariskan nilai-nilai luhur.
Harry Lee MD; PsyD; BBS
Pastor & Gembala Restoration Christian Church – Los Angeles
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!