Di balik kesuksesan Henry Kurniawan sebagai pengusaha kaos polo dan konten kreator yang dikenal banyak orang, tersimpan cerita masa kecil yang penuh luka. Tidak banyak yang tahu bahwa ia tumbuh dalam keluarga yang jauh dari gambaran rumah yang hangat dan damai.
Sejak kecil, Henry hidup dalam ketakutan. Ayahnya mengalami kecanduan judi dan kerap melakukan kekerasan di rumah. Baginya, pulang ke rumah bukanlah sesuatu yang menyenangkan, melainkan momen yang dipenuhi kecemasan. Bentakan, barang pecah, dan pertengkaran menjadi pemandangan yang begitu akrab dalam kesehariannya.
Akibatnya, Henry tumbuh menjadi pribadi yang pemalu, minder, dan penuh ketakutan. Ia bahkan tidak pernah benar-benar merasakan kehadiran seorang ayah yang bisa menjadi panutan dalam hidupnya.
Luka itu semakin dalam ketika sang ayah meninggal dunia karena bunuh diri. Alih-alih merasa kehilangan, yang muncul di hati Henry saat itu justru rasa malu. Ia merasa kematian ayahnya menjadi aib yang harus dipikul. Perasaan itu terus terbawa hingga dewasa dan tanpa disadari membentuk cara pandangnya terhadap hidup, keluarga, dan masa depan.
Cobaan belum berhenti di situ. Saat masih kuliah, ibunya didiagnosis menderita kanker. Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, keluarga mereka harus berjuang keras membiayai pengobatan. Hingga akhirnya sang ibu meninggal dunia dan meninggalkan berbagai tanggung jawab yang harus dipikul Henry di usia muda.
Rumah keluarga belum lunas. Adiknya masih membutuhkan biaya sekolah. Sementara Henry sendiri belum memiliki penghasilan yang cukup untuk menopang semuanya.
Di titik itulah ia merasa benar-benar sendirian. Meski dibesarkan dalam lingkungan religius, Henry mengaku pernah menjadi sosok yang skeptis terhadap Tuhan. Bahkan ketika diajak ke gereja oleh calon istrinya, ia pernah menganggap gereja hanyalah tempat yang tidak sesuai dengan pemikirannya saat itu.
Namun ketika semua pegangan hidup seolah hilang, Henry mengambil langkah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur dan mengakui bahwa dirinya tidak lagi mampu menghadapi hidup dengan kekuatannya sendiri.
Sejak saat itu, ia mulai mengalami berbagai pertolongan yang tidak terduga. Mulai dari ditemukannya polis asuransi peninggalan sang ibu yang mampu melunasi utang keluarga, hingga berbagai kesempatan usaha yang perlahan mengubah masa depannya. Bahkan bisnis yang ia jalankan saat ini berawal dari rangkaian peristiwa yang menurutnya merupakan bagian dari campur tangan Tuhan.
Yang lebih luar biasa, Tuhan tidak hanya memulihkan kondisi ekonominya, tetapi juga menyembuhkan luka hati yang selama bertahun-tahun tersimpan terhadap sang ayah.
Hari ini, Henry memilih untuk memutus rantai luka yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Ia bertekad menjadi ayah yang penuh kasih bagi keluarganya dan menggunakan hidupnya untuk bersaksi tentang kebaikan Tuhan.
Bagaimana perjalanan lengkap Henry dari masa kecil yang penuh kekerasan hingga mengalami pemulihan dan kesuksesan? Bagaimana Tuhan menjamah hidupnya ketika ia berada di titik terendah?
Tonton kesaksian selengkapnya di video di bawah ini dan temukan bahwa tidak ada hidup yang terlalu hancur untuk dipulihkan oleh Tuhan.
Sumber : Solusi TVIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!