Jangan Jadikan Anak Emas! Pola Asuh yang Salah Bisa Membentuk Pribadi Tanpa Empati

Parenting / 7 July 2026

Jangan Jadikan Anak Emas! Pola Asuh yang Salah Bisa Membentuk Pribadi Tanpa Empati
Sumber: AI Generative Content
Claudia Jessica Official Writer
882

Kasus kekerasan yang terjadi belakangan ini kembali menjadi pengingat serius bagi banyak orang tua. Di balik tindakan seseorang yang menyakiti orang lain, sering kali ada proses panjang pembentukan karakter yang tidak terjadi dalam satu malam.

Banyak orang mungkin bertanya, bagaimana seseorang bisa tumbuh menjadi pribadi yang tega melakukan kekerasan? Tentu kita tidak bisa menyimpulkan seluruh penyebab hanya dari satu sisi.

Namun dari sudut pandang parenting, kasus seperti ini bisa menjadi peringatan bahwa pola asuh yang keliru dapat berdampak besar terhadap cara anak memandang dirinya, orang lain, dan batas benar-salah dalam hidupnya.

Anak Emas Bukan Berarti Selalu Benar

Salah satu pola asuh yang sering dianggap sepele adalah menjadikan anak sebagai “anak emas”. Anak yang selalu dimaklumi, selalu dibela, dan tidak pernah diajar menerima konsekuensi bisa tumbuh dengan pemahaman yang salah dengan berpikir bahwa dirinya selalu benar.

 

BACA JUGA: “Luka” yang Tak Disadari: Biaya Tersembunyi Menjadi “Anak Emas”

 

Kasih sayang tentu penting. Namun kasih sayang yang tidak disertai disiplin justru bisa merusak karakter anak. Ketika anak berbuat salah tetapi terus dibenarkan, ia kehilangan kesempatan untuk belajar bertanggung jawab. Ketika anak menyakiti orang lain tetapi orang tua selalu mencari alasan untuk membelanya, perlahan nuraninya bisa tumpul.

Anak Perlu Belajar Konsekuensi

Anak perlu diajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Ia perlu tahu bahwa meminta maaf bukan tanda kelemahan, mengakui kesalahan bukan sesuatu yang memalukan, dan menghormati orang lain adalah bagian penting dari kehidupan.

Mental anak dibentuk oleh pengasuhan setiap hari. Anak belajar empati ketika orang tua mengajarkan dia memikirkan perasaan orang lain. Anak belajar kebenaran ketika orang tua berani berkata “itu salah” dengan tegas. Anak belajar kasih ketika ia dikoreksi tanpa dipermalukan.

Disiplin Bukan Kekerasan

Alkitab juga menegaskan pentingnya disiplin dalam mendidik anak. Amsal 13:24 berkata, “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.”

Ayat ini bukan pembenaran untuk melakukan kekerasan kepada anak. Sebaliknya, ayat ini mengingatkan bahwa kasih yang sejati tidak membiarkan anak hidup tanpa koreksi.

Namun disiplin juga harus dilakukan dengan kasih, bukan dengan kemarahan yang melukai hati anak. Efesus 6:4 mengingatkan, “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

 

BACA JUGA: Benarkah Tuhan Punya Anak Emas? Kalau Tidak, Kenapa Kita Masih Belum Diberkati?

 

Kasih Tidak Berarti Berkompromi dengan Kesalahan

Orang tua perlu menjaga keseimbangan. Jangan menyakiti hati anak dengan kata-kata kasar, perbandingan, atau hukuman yang merusak mentalnya. Namun jangan juga berkompromi dengan kesalahan anak hanya karena kasihan, takut anak menangis, atau merasa anak tersebut paling istimewa.

Karena itu, orang tua perlu menyadari bahwa tugas mendidik anak bukan hanya membuat mereka bahagia hari ini, tetapi membentuk mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab di masa depan.

Anak yang dikasihi perlu dipeluk, didengar, dan dihargai. Tetapi anak yang dikasihi juga perlu ditegur, diarahkan, dan diajar hidup dalam kebenaran.

Untuk membantu orang tua mendidik anak sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan Firman Tuhan, CBN Indonesia menghadirkan program The Parenting Project (TPP). Melalui prgram pemuridan The Parenting Project, orang tua diajak untuk belajar membangun relasi yang lebih sehat dengan anak, mendisiplinkan tanpa melukai, dan membentuk karakter anak sejak dini.

Cari tahu lebih lanjut tentang The Parenting Project dan mulai langkah baru untuk menjadi orang tua yang mendidik dengan kasih dan kebenaran. Kunjungi: https://theparentingproject.id/

 

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?