Pernahkah kita berkata, “Aku percaya Tuhan akan menyediakan,” tetapi hati kita tetap dipenuhi rasa takut?
Kita sering mengucapkan kalimat itu saat sedang menghadapi pergumulan hidup. Ketika kebutuhan belum terpenuhi, doa belum dijawab, pekerjaan belum jelas, keuangan sedang sulit, atau masa depan terasa tidak pasti, kita berkata bahwa Tuhan pasti menyediakan. Namun, ketika Tuhan meminta kita melepaskan sesuatu yang sangat kita kasihi, di situlah iman kita benar-benar diuji.
BACA JUGA: Sering Takut Kehilangan? Saat Sadar Semua dari Tuhan, Hati Jadi Tenang
Sebab percaya bahwa Allah akan menyediakan bukan hanya tentang menunggu Tuhan memberi sesuatu. Percaya bahwa Allah akan menyediakan juga berarti berani menyerahkan kembali kepada Tuhan apa yang selama ini kita anggap paling berharga.
Inilah yang kita pelajari dari kisah Abraham dan Ishak dalam Alkitab. Abraham bukan hanya dikenal sebagai bapa orang beriman karena ia menerima janji Tuhan, tetapi juga karena ia berani taat ketika Tuhan meminta sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Dalam Kejadian 22, Tuhan menguji Abraham dengan perintah yang sangat sulit. Tuhan berkata kepada Abraham:
“Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran...” (Kejadian 22:2)
Perintah ini tentu bukan hal yang mudah diterima. Ishak bukan sekadar anak bagi Abraham. Ishak adalah anak perjanjian. Ishak adalah jawaban doa yang sudah lama dinantikan. Ishak adalah bukti bahwa Tuhan setia menggenapi janji-Nya, meskipun Abraham dan Sara sudah lanjut usia.
Dengan kata lain, Ishak adalah berkat besar dalam hidup Abraham.
Namun justru berkat itulah yang diminta Tuhan untuk dipersembahkan. Di titik ini, Abraham harus memilih, apakah hatinya melekat pada berkat Tuhan, atau melekat kepada Tuhan sendiri?
Pertanyaan yang sama juga penting untuk kita renungkan hari ini. Apakah kita sungguh mengasihi Tuhan, atau sebenarnya hanya mengasihi berkat-berkat yang Tuhan berikan?
Banyak orang percaya ingin diberkati oleh Tuhan. Kita berdoa supaya Tuhan memberkati keluarga, pekerjaan, pelayanan, keuangan, studi, kesehatan, dan masa depan kita. Tentu tidak salah meminta berkat Tuhan. Alkitab sendiri menunjukkan bahwa Tuhan adalah Bapa yang baik dan peduli terhadap kebutuhan anak-anak-Nya.
Namun masalahnya muncul ketika hati kita lebih melekat kepada berkat Tuhan daripada kepada Tuhan yang memberi berkat. Kita merasa aman bukan karena ada Tuhan, tetapi karena masih ada uang. Kita merasa tenang bukan karena percaya kepada Tuhan, tetapi karena semua rencana berjalan sesuai keinginan. Kita merasa bersyukur selama hidup baik-baik saja, tetapi mulai kecewa ketika Tuhan mengizinkan sesuatu diambil atau ditunda.
Di sinilah kisah Abraham menjadi teguran yang kuat bagi kita.
Abraham sangat mengasihi Ishak, tetapi ia tidak menjadikan Ishak sebagai pusat hidupnya. Ia tahu bahwa Ishak adalah pemberian Tuhan. Jika Tuhan yang memberi, maka Tuhan juga berhak meminta kembali. Abraham tidak memahami seluruh rencana Tuhan, tetapi ia tetap memilih untuk taat.
Iman Abraham bukan iman yang hanya percaya ketika semua mudah. Iman Abraham adalah iman yang tetap percaya ketika Tuhan meminta sesuatu yang paling sulit untuk dilepaskan.
Ketika Abraham berjalan menuju tanah Moria bersama Ishak, ia tidak membawa jawaban yang lengkap. Ia tidak tahu secara detail bagaimana Tuhan akan bekerja. Tetapi ada satu hal yang ia pegang kuat: Allah akan menyediakan.
Saat Ishak bertanya, “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” Abraham menjawab:
“Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” (Kejadian 22:8)
Kalimat ini bukan sekadar jawaban seorang ayah kepada anaknya. Ini adalah pernyataan iman. Abraham percaya bahwa Tuhan tidak mungkin gagal. Ia percaya bahwa Tuhan tetap baik, bahkan ketika perintah-Nya sulit dimengerti. Ia percaya bahwa jika Tuhan meminta sesuatu, Tuhan juga sanggup menyediakan jalan keluarnya.
Dan benar, pada akhirnya Tuhan menyediakan seekor domba jantan sebagai korban pengganti Ishak. Abraham tidak kehilangan anaknya. Tetapi melalui peristiwa itu, Tuhan menunjukkan sesuatu yang penting, yang Tuhan lihat bukan hanya tindakan Abraham, melainkan isi hatinya.
Apakah Abraham lebih mengasihi Ishak daripada Tuhan? Ternyata tidak. Hati Abraham melekat kepada Tuhan, bukan kepada berkat Tuhan.
Hari ini, kita juga memiliki “Ishak” dalam hidup kita. “Ishak” bisa berbentuk pekerjaan yang kita banggakan, pasangan yang kita kasihi, anak-anak, pelayanan, uang, jabatan, impian, rumah, kenyamanan, atau pencapaian yang membuat kita merasa aman. Semua itu bisa menjadi berkat Tuhan. Namun jika tidak dijaga, berkat itu bisa perlahan-lahan mengambil tempat Tuhan di hati kita.
Kita mungkin tidak sadar ketika mulai lebih takut kehilangan berkat daripada takut kehilangan kedekatan dengan Tuhan. Kita mungkin tidak sadar ketika doa kita lebih banyak berisi permintaan daripada kerinduan untuk mengenal Tuhan lebih dalam. Kita mungkin tidak sadar ketika sukacita kita lebih bergantung pada keadaan daripada pada kehadiran Tuhan.
Padahal berkat Tuhan seharusnya membawa kita semakin dekat kepada Tuhan, bukan membuat kita lupa kepada Sang Pemberi.
Melekat kepada Tuhan berarti percaya bahwa Dia cukup, bahkan ketika hidup belum berjalan sesuai harapan. Melekat kepada Tuhan berarti tetap taat, meskipun hati kita belum sepenuhnya mengerti. Melekat kepada Tuhan berarti berani berkata, “Tuhan, semua yang aku miliki berasal dari-Mu. Jika Engkau memberi, aku bersyukur. Jika Engkau meminta aku melepaskan, aku tetap percaya.”
Ini bukan hal yang mudah. Tetapi inilah iman yang dewasa.
Sering kali Tuhan menguji hati kita bukan karena Dia ingin mengambil kebahagiaan kita, tetapi karena Dia ingin memurnikan kasih kita. Tuhan ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun berkat yang menjadi berhala dalam hidup kita. Tuhan ingin kita menikmati pemberian-Nya, tetapi tidak diperbudak oleh pemberian itu.
Sebab ketika hati kita melekat kepada berkat, kita mudah hancur saat berkat itu terguncang. Tetapi ketika hati kita melekat kepada Tuhan, kita tetap memiliki pengharapan sekalipun keadaan berubah.
Uang bisa habis. Pekerjaan bisa berubah. Relasi bisa mengecewakan. Rencana bisa gagal. Namun Tuhan tetap setia. Janji-Nya tidak pernah gagal. Penyertaan-Nya tidak pernah berhenti. Dan pada waktu yang tepat, Allah akan menyediakan apa yang benar-benar kita perlukan.
Namun pertanyaannya, apakah kita berani percaya seperti Abraham?
Apakah kita tetap percaya ketika Tuhan belum menjawab doa kita? Apakah kita tetap taat ketika Tuhan meminta kita melepaskan sesuatu? Apakah kita tetap menyembah Tuhan ketika keadaan tidak berjalan seperti yang kita harapkan? Apakah kita tetap berkata, “Allah akan menyediakan,” bukan hanya saat menerima berkat, tetapi juga saat harus menyerahkan berkat itu kembali kepada Tuhan?
Abraham percaya kepada Allah, dan imannya diperhitungkan sebagai kebenaran. Iman Abraham bukan hanya terlihat saat ia menerima Ishak, tetapi saat ia rela menyerahkan Ishak. Dari Abraham, kita belajar bahwa iman sejati bukan sekadar percaya bahwa Tuhan bisa memberi, tetapi juga percaya bahwa Tuhan tetap baik ketika Dia meminta kita melepaskan.
BACA JUGA: Kamu Tidak Kurang, Inilah Cara Tuhan Menyembuhkan Insecurity-mu
Jadi hari ini, mari periksa hati kita. Jangan sampai kita lebih mengejar berkat Tuhan daripada Tuhan sendiri. Jangan sampai kita lebih takut kehilangan pemberian-Nya daripada kehilangan keintiman dengan-Nya. Jangan sampai hal-hal baik yang Tuhan berikan justru mengambil posisi utama di hati kita. Allah akan menyediakan. Itu benar. Tetapi Dia juga ingin kita belajar percaya, taat, dan melekat kepada-Nya lebih dari apa pun.
Karena pada akhirnya, berkat terbesar dalam hidup kita bukanlah apa yang ada di tangan kita, melainkan Tuhan yang selalu memegang hidup kita.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!