Dari Luka Penolakan, Menemukan Damai di Dalam Tuhan

Impact Story / 3 July 2026

Dari Luka Penolakan, Menemukan Damai di Dalam Tuhan
Sumber: Ilustrasi Canva.com
Aprita L Ekanaru Official Writer
872

Sejak kecil, T hidup dengan luka yang diam-diam membentuk cara ia memandang dirinya sendiri. Ia tumbuh di tengah keluarga yang tidak selalu memberi rasa aman. Sebagai anak kedua yang memiliki ayah berbeda dari adik-adiknya, T merasa diperlakukan tidak sama. Dalam ingatannya, ia tinggal bersama ayah tiri dan kerap mengalami perlakuan keras, sementara sosok ibu yang ia harapkan dapat membelanya justru terasa jauh.

“Dari kecil saya sudah menerima banyak perilaku atau sikap dari orang tua yang membedakan,” ungkap T.

Luka itu tidak berhenti ketika ia beranjak dewasa. Dalam relasinya dengan sang ibu, T merasa selalu dituntut hadir ketika dibutuhkan, tetapi tidak mendapat ruang yang sama untuk didengarkan. Ia merasa disisihkan, terutama ketika hal-hal penting dalam keluarga lebih sering dibicarakan dengan adik-adiknya.

BACA JUGA: Ketika Kegagalan SNBT Menjadi Jalan Tuhan Membentuk Hati Cesi

 

“Setiap dia butuh saya, harus ada. Tapi kenapa saya disisihkan, nggak diperhatiin?”

Rasa tertolak itu kemudian terbawa dalam perjalanan hidup T. Beberapa keputusan besar, termasuk dalam pernikahan, ia akui lahir dari keinginan untuk keluar dari kericuhan rumah. Namun pelarian itu tidak menyelesaikan luka yang sudah lama mengendap. T pernah mengalami perceraian, menjalani hidup sebagai single parent, dan harus berjuang mencari nafkah untuk anak-anaknya.

Pada satu masa, ketika ia keluar dari rumah dan mengontrak, T merasa berada di titik yang sangat rendah. Ia bingung, tertipu oleh teman yang menjanjikan rencana usaha, dan merasa tidak memiliki pegangan yang kuat.

“Saya udah down banget, lagi betul-betul dalam kondisi yang bingung.”

Titik terdalam dalam hidup T muncul setelah ibunya meninggal pada masa Covid. Kehilangan itu tidak hanya membawa duka, tetapi juga membuka kembali persoalan keluarga, warisan, kata-kata tajam, dan luka lama yang belum selesai. Hidupnya terasa seperti benang kusut. Masalah ekonomi, relasi keluarga yang retak, dan rasa sepi membuat hatinya semakin berat.

Di masa itu, T juga sempat jatuh sakit. Suatu malam, ia terbangun dan mendengar siaran rohani di televisi. Ketika pengkhotbah mengajak orang yang sedang sakit untuk menaruh tangan ke arah televisi dan berdoa, T tidak benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Namun entah mengapa, ia mengikuti ajakan itu.

“Saya ikut. Saya taruh tangan yang kanan, saya amin, saya menangis semua saya keluarkan di situ.”

 

BACA JUGA: GMIT Motamaro Alami Pertumbuhan Luar Biasa Setelah Menggunakan CBN Disciple

 

Keesokan paginya, sesuatu berubah. T mulai bisa mencium aroma yang sebelumnya tidak dapat ia rasakan. Pengalaman itu menjadi salah satu momen yang mulai membuka hatinya. Meski belum langsung mengambil keputusan iman, ada sesuatu yang mulai disentuh Tuhan dalam hidupnya.

Beberapa waktu kemudian, T melihat konten TikTok SOLUSI yang menampilkan kisah-kisah orang yang mengalami pemulihan. Konten itu terus muncul di berandanya. Awalnya ia ragu untuk menghubungi. Ia belum siap bercerita. Namun pergumulannya semakin berat, dan akhirnya ia membuka profil tersebut lalu menghubungi nomor Layanan Doa CBN/SOLUSI.

Saat itu, pergumulan yang terlihat di permukaan adalah kebutuhan ekonomi dan keinginan menjual tanah. Namun di balik itu, T sebenarnya sedang membawa luka batin yang jauh lebih dalam.

“Secara fisik itu mental saya udah hancur.”

Ketika konselor Layanan Doa menawarkan untuk mendoakannya secara Kristen, T tidak menolak. Ia merasa doa-doa yang selama ini ia lakukan belum memberi perubahan yang ia cari. Di dalam hatinya, ia hanya merindukan satu hal: ketenangan.

“Dalam hati nggak ada apa-apa, jadi coba aja.”

Namun saat doa itu dinaikkan, T merasakan sesuatu yang berbeda. Ia menangis. Beban yang selama ini ia tahan mulai keluar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ada orang yang sungguh-sungguh mau mendengarkan, mendoakan, dan menerima dirinya tanpa menghakimi.

“Saya ngerasa saya diterima.”

Dari pertemuan sederhana melalui Layanan Doa, T mulai mencari tahu lebih dalam tentang Tuhan Yesus. Ia belajar melalui konten visual, pelajaran Alkitab, dan kemudian mulai terhubung dengan komunitas. Melalui pendampingan dari Ibu Eka dan Ibu Lydia, T dituntun untuk membaca firman Tuhan sesuai dengan pergumulan yang sedang ia hadapi.

Proses itu berlangsung intens dari Oktober hingga Januari. T tidak hanya menerima dukungan secara emosional, tetapi juga mulai memahami arti hidup baru, pribadi Yesus, dan baptisan. Semakin ia mengenal Tuhan, semakin besar kerinduannya untuk melangkah lebih dalam.

“Saya ngerasa nggak ada beban. Terus saya kepengen cari lebih dalam lagi.”

Pada Januari, T akhirnya mengambil keputusan untuk dibaptis. Keputusan itu bukan sekadar perpindahan keyakinan, tetapi langkah iman dari seseorang yang selama ini hidup dengan luka, penolakan, dan beban masa lalu, lalu mulai menemukan damai yang selama ini ia cari.

Setelah mengenal Tuhan Yesus, T mulai memandang masa lalunya dengan cara yang berbeda. Ia tidak menyangkal bahwa ingatan menyakitkan itu masih ada. Namun ia tidak lagi ingin hidup dalam dendam. Ia tidak ingin terus menyalahkan orang tua, mantan pasangan, atau orang-orang yang pernah menyakitinya.

“Saya juga sudah nggak mau menyalahkan, saya juga nggak mau dendam.”

Perubahan paling nyata dalam hidup T terlihat dari hatinya yang mulai tenang. Ia belajar mengampuni, belajar menahan diri, dan belajar tidak membalas luka dengan luka. Ia juga menyadari bahwa dirinya pun memiliki kekurangan dan masih terus membutuhkan pemulihan dari Tuhan.

Kini, kerinduan T bukan hanya agar dirinya dipulihkan, tetapi juga agar anak-anaknya tidak mewarisi luka yang sama. Ia tidak ingin pola kemarahan, penolakan, dan kepahitan yang pernah ia alami kembali terjadi dalam keluarganya.

“Jangan sampai anak-anak saya yang sekarang sama saya mendapatkan hal yang sama.”

 

BACA JUGA: Berawal dari 47 Anak, Pelayanan Ibu Ruth Bertumbuh Jadi Berkat bagi Desa Kecil Ini

 

Bahkan anak bungsunya yang berusia 12 tahun mulai menunjukkan rasa ingin tahu tentang pribadi Tuhan. Bagi T, hal itu mungkin terlihat kecil, tetapi sangat berarti. Sebab pemulihan yang Tuhan kerjakan dalam dirinya mulai memberi dampak bagi keluarganya.

Perjalanan iman T masih terus bertumbuh. Ia masih berhati-hati untuk bersaksi secara publik. Namun satu hal yang kini ia syukuri: melalui Layanan Doa CBN/SOLUSI, Tuhan mempertemukannya dengan orang-orang yang mau mendengarkan, mendoakan, mendampingi, dan menolongnya menemukan damai yang selama ini ia rindukan.

Dari hati yang pernah merasa tertolak, T kini belajar bahwa di dalam Tuhan, ia diterima. Dari masa lalu yang penuh luka, ia mulai menemukan keberanian untuk mengampuni. Dan dari hidup yang pernah terasa hancur, Tuhan perlahan membangun kembali harapan yang baru.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?