Ketika hasil SNBT 2025 diumumkan, hati Cesi seakan runtuh. Ia tinggal di Bekasi dan saat itu sedang membawa harapan besar untuk bisa masuk perguruan tinggi negeri. Namun kenyataan berkata lain: ia gagal. Yang membuat luka itu terasa lebih dalam, teman-temannya diterima. Bahkan adiknya pun berhasil masuk perguruan tinggi. Cesi merasa tertinggal, gagal, dan seolah-olah perjuangannya tidak berarti.
Ia tidak langsung menyerah. Cesi mencoba berbagai jalan lain, mulai dari kampus swasta, beasiswa, sampai jalur mandiri PTN. Namun satu per satu pintu itu tetap tertutup. Rentetan kegagalan itu membuatnya mulai kehilangan harapan. Dalam hatinya muncul pertanyaan yang berat, “Tuhan benar-benar dengar doaku nggak, ya?”
Kekecewaan itu perlahan memengaruhi imannya. Cesi mulai jarang ke gereja. Doa yang dulu menjadi tempatnya berharap berubah menjadi rutinitas yang terasa kosong. Sebagai anak Kristen, ia tahu bahwa berdoa dan beribadah itu penting, tetapi hatinya sedang terlalu lelah untuk sungguh-sungguh percaya.
Di tengah kondisi itu, Cesi melihat konten Superyouth di Instagram yang menguatkan tentang tidak menyerah dan tetap percaya kepada Tuhan. Dari sanalah ia akhirnya menghubungi layanan doa CBN melalui DM Instagram. Saat itu, ia belum sepenuhnya pulih. Ia masih kecewa, masih mencari jawaban, tetapi di dalam hatinya ada kerinduan kecil untuk tidak semakin jauh dari Tuhan.
Titik baliknya mulai terasa pada awal Januari 2026. Dalam doa bersama keluarga, Cesi mulai terdorong untuk memperbaiki diri dan kembali membangun hubungannya dengan Tuhan. Ia mulai rajin ke gereja, kembali berdoa dengan sungguh-sungguh, dan menyadari bahwa perjuangannya untuk SNBT 2026 tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan sendiri. “Aku harus usaha belajar terus dekat sama Tuhan,” begitu tekadnya.
Selama masa jeda itu, Cesi juga bekerja sebagai admin social media di sebuah salon. Awalnya mungkin terasa seperti keterlambatan. Namun ketika ia melihat kembali proses itu, ia sadar bahwa Tuhan sedang memberinya ruang untuk belajar sabar, memperbaiki diri, dan membentuk hatinya sebelum menerima apa yang ia rindukan.
Pada Mei 2026, kabar sukacita itu akhirnya datang. Cesi dinyatakan lolos SNBT PTN 2026. Bagi Cesi, keberhasilan itu bukan sekadar hasil belajar, tetapi bukti bahwa Tuhan bekerja dalam prosesnya. Kini ia memegang Amsal 16:3 sebagai rhema hidupnya: menyerahkan setiap rencana kepada Tuhan, sambil tetap berusaha dengan setia.
Dari kegagalan, Cesi belajar bahwa waktu Tuhan tidak pernah terlambat. Ada proses yang memang harus dilewati, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk membentuk hati yang lebih siap menerima jawaban doa.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!