Hari-hari ini, banyak orang bergumul bukan karena mereka tidak punya kemampuan, tetapi karena mereka merasa tidak cukup. Mungkin kamu pernah ada di posisi itu, punya talenta, punya kesempatan, bahkan mungkin sudah mencapai banyak hal, tetapi tetap saja ada rasa tidak aman di dalam hati. Seolah-olah apa pun yang kamu lakukan tidak pernah cukup untuk membuatmu merasa benar-benar diterima. Jika kamu pernah merasakan itu, izinkan saya berkata: Tuhan mengerti, dan Dia punya jawaban untuk menyembuhkan hatimu.
BACA JUGA: Takut Masa Depan di Usia 20-an? Ini Cara Tetap Tenang
Rasa tidak aman atau insecurity sering kali berakar pada ketakutan. Ada yang takut gagal, takut ditolak, takut dibandingkan, bahkan takut tidak cukup baik. Ketakutan ini perlahan membentuk cara kita melihat diri sendiri, dan tanpa sadar kita mulai membangun identitas kita di atas sesuatu yang tidak stabil, pengakuan orang lain, prestasi, atau penampilan. Padahal Alkitab mengajarkan sesuatu yang berbeda. Dalam 1 Yohanes 4:18 dikatakan, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan; sebab kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.” Artinya, rasa takut dan rasa tidak aman tidak bisa disembuhkan oleh hal-hal luar, melainkan oleh kasih Tuhan yang bekerja dari dalam hati kita.
Kalau kita kembali ke kisah awal manusia dalam Kejadian 3:7–10, kita melihat bagaimana insecurity pertama kali muncul. Setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, dikatakan bahwa mereka sadar bahwa mereka telanjang, lalu mereka menjadi takut dan bersembunyi dari Tuhan. Sebelumnya, mereka sudah telanjang tetapi tidak merasa malu. Namun setelah dosa masuk, ada perubahan besar dalam diri mereka. Mereka mulai merasa tidak aman, malu, dan mencoba menutupi dirinya. Ini menunjukkan bahwa dosa bukan hanya memisahkan manusia dari Tuhan, tetapi juga merusak identitas manusia. Sejak saat itu, manusia hidup dalam usaha terus-menerus untuk menutupi rasa tidak aman yang ada di dalam dirinya.
Tanpa sadar, kita melakukan hal yang sama hari ini. Kita menutupi rasa tidak aman dengan pencapaian, dengan kesuksesan, dengan penampilan, bahkan dengan kehidupan rohani. Tapi semua itu tidak pernah benar-benar menyembuhkan luka di dalam hati. Karena luka itu bersifat internal, maka penyembuhannya juga harus datang dari dalam. Itulah sebabnya kasih Tuhan menjadi satu-satunya solusi yang sejati.
BACA JUGA: Belum Sukses di Usia 25? Tenang, Alkitab Punya Garis Waktu Berbeda
Yesus memberikan gambaran yang sangat indah tentang hal ini melalui perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15. Anak bungsu itu meninggalkan rumah bapanya, menghabiskan semua yang ia miliki, dan akhirnya jatuh ke titik terendah dalam hidupnya. Ketika ia menyadari keadaannya, ia ingin kembali, tetapi dengan identitas yang sudah rusak. Ia tidak lagi merasa layak disebut anak, bahkan ia hanya ingin menjadi seorang upahan. Ini sangat menggambarkan bagaimana insecurity bekerja, ia membuat kita kehilangan jati diri kita yang sebenarnya.
Namun ketika anak itu kembali, respons bapanya sangat mengejutkan. Dalam Lukas 15:20 dikatakan, “Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” Sang ayah tidak menunggu anak itu memperbaiki diri terlebih dahulu. Ia tidak meminta syarat. Ia menerima anaknya apa adanya. Bahkan sebelum anak itu sempat menyelesaikan kalimatnya, bapanya sudah memerintahkan untuk memberikan jubah terbaik, cincin, dan sandal.
Sumber : Jeffrey Rachmat | Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!