Bony Kristiaingsih (42 tahun) tidak pernah merasa dirinya orang tua yang tidak peduli. Sebagai seorang ibu dari dua anak yang kini berusia 20 dan 17 tahun, ia sudah lama punya kerinduan untuk menjadi orang tua yang lebih baik.
Ia belajar parenting dari berbagai sumber, termasuk internet dan YouTube. Ia tahu bahwa mendidik anak membutuhkan kesabaran, penguasaan emosi, dan hati yang penuh kasih.
Namun, mengetahui teori ternyata tidak selalu berarti mudah melakukan.
“Aku sudah tahu, tapi kok selalu ada saja halangannya,” begitu kira-kira pergumulan yang ia rasakan. Dalam keseharian, ada momen ketika emosi muncul, nada bicara meninggi, atau respons sebagai orang tua justru membuat anak semakin menutup diri.
Semua mulai berubah ketika Bony dan suaminya mengikuti The Parenting Project (TPP) di gerejanya, GPSDI Celong Salatiga. Awalnya, Bony mengira TPP hanyalah kelas parenting seperti yang pernah ia dengar sebelumnya. Tapi sejak pertemuan pertama, ia merasa menemukan sesuatu yang selama ini ia cari.
BACA JUGA: Ibu Sulis Ungkap Dampak Besar Kalau Ubah Pola Asuh Otoriter Jadi Lebih Terbuka Sama Anak
Materinya runtut, praktis, dan menyentuh realita keluarga sehari-hari.
Bagi Bony, TPP membantu menyusun kembali potongan-potongan pengetahuan parenting yang selama ini ia pelajari secara acak.
Salah satu modul yang sangat berkesan baginya adalah tentang membangun kedekatan dengan anak. Awalnya Bony berpikir tinggal serumah dan setiap hari bertemu anak, berarti ia sudah dekat. Ternyata, kedekatan fisik belum tentu sama dengan kedekatan hati.
Dari situ, Bony belajar membuka diri, mendengar lebih banyak, dan merespons anak dengan lebih tenang. Ia juga mulai berani bertanya kepada anak-anaknya, “Mama sudah lebih baik belum? Apa yang masih perlu Mama perbaiki?”
Pertanyaan sederhana itu membuka ruang baru dalam keluarga mereka.
Anak-anak yang dulu kadang perlu ditanya lebih dulu untuk bercerita, kini mulai lebih terbuka. Bahkan anak laki-lakinya, yang sebelumnya cenderung menyembunyikan hal-hal tertentu karena takut dimarahi, mulai berani jujur. Termasuk ketika nilainya kurang baik atau ketika ia sedang bergumul dengan pengaruh pergaulan.
Sebagai orang tua, Bony belajar untuk mendengarkan sebelum menghakimi. Kini, bersama suaminya, Bony membangun pola komunikasi yang lebih sehat dengan cara berdiskusi, menahan emosi, lalu mengambil sikap dengan lebih bijaksana.
BACA JUGA: Saya Pergi 14 Tahun, Tapi Ternyata Bukan Uang yang Paling Dibutuhkan Anak – Kisah Sudarti
Bukan sekadar mengubah cara mendidik anak, TPP menolong Bony membangun kembali suasana rumah. Rumah menjadi tempat yang lebih aman untuk bercerita, bertumbuh, dan dipulihkan.
Kini, Bony menyadari satu hal penting bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang hadir secara fisik, tetapi juga hati yang mau mendengar.
Melalui The Parenting Project, keluarga Bony belajar bahwa perubahan tidak selalu terjadi sekaligus. Namun ketika orang tua mau belajar, merendahkan hati, dan membangun kedekatan, transformasi itu sungguh mungkin terjadi, dimulai dari rumah sendiri.
BACA JUGA: Dengan Aplikasi CBN Disciple, Mengajar di Sekolah Minggu Menjadi Lebih Mudah dan Seru
Mari ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak pemulihan bagi keluarga-keluarga di Indonesia melalui The Parenting Project. Donasi yang kamu berikan akan menolong semakin banyak orang tua belajar membangun komunikasi yang sehat, mendidik anak dengan kasih, dan menciptakan rumah yang aman bagi anak-anak untuk bertumbuh. Setiap pemberianmu berarti kesempatan baru bagi sebuah keluarga untuk mengalami perubahan.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!