Selama sembilan tahun menanti keturunan, Ellyzabeth dan suaminya sudah menyiapkan nama untuk anak-anak mereka. Bagi Ellyzabeth dan suaminya, nama itu adalah doa. Tapi, sebagian orang justru merasa aneh dan meledek mereka.
Ellyzabeth dan suaminya menikah pada tahun 2011. Sebagai pasangan yang berasal dari keluarga Batak, kehadiran anak menjadi hal yang sangat dinantikan. Apalagi suaminya adalah anak satu-satunya. Kerinduan keluarga besar untuk memiliki cucu membuat tekanan itu semakin berat.
Nama Anak yang Sudah Disiapkan Jadi Bahan Ejekan
Memasuki tahun kedua pernikahan, pertanyaan tentang anak mulai sering datang.
“Kapan punya anak?”
“Kok belum hamil-hamil?”
Sebagai pejuang garis dua, pertanyaan itu seperti menekan luka yang sedang ia perjuangkan. Sampai ia dan suami menarik diri dari perkumpulan keluarga karena tidak sanggup menghadapi pertanyaan-pertanyaan tentang kehamilan dan keturunan.
Namun, dalam penantian mereka, Ellysabeth dan suaminya sudah mempersiapkan nama untuk anak-anak mereka kelak, dan selalu membawanya dalam doa.
“Seperti diledekin lah ya bahasanya. Waktu mereka tahu kami sudah punya nama untuk anak-anak kami, sementara saya pun belum hamil,” kenang Ellyzabeth.
Perjalanan itu semakin berat ketika Ellyzabeth menjalani pemeriksaan dan dinyatakan mengidap PCOS, kondisi ketika sel telur banyak tetapi tidak berkembang dengan baik. Kabar itu membuatnya sedih, terlebih ketika dokter mengatakan kendalanya ada pada dirinya.
Namun di tengah rasa bersalah dan luka itu, suaminya tidak pernah menyalahkan atau meninggalkannya. Suaminya menjadi sosok yang paling menguatkan dan percaya bahwa suatu hari nanti Tuhan akan memberikan mereka kesempatan untuk memiliki anak.
Tantangan Saat Diminta Adopsi Anak
Tekanan semakin besar ketika pada tahun kelima pernikahan, ayah mertua Ellyzabeth menyarankan mereka untuk mengadopsi anak. Ellyzabeth memahami kerinduan keluarga yang sudah sangat ingin memiliki cucu. Namun suaminya sangat menentang saran untuk mengadopsi anak dan tetap memilih untuk percaya kepada Tuhan.
“Kalau Tuhan aja ciptakan kamu di tengah-tengah orang tuamu, masa Tuhan tidak menciptakan anak-anak kita di pernikahan kita?” kata sang suami ke Ellyzabeth.
“Jadi kalian (orang tua) harus sabar, tunggu saja waktu-Nya Tuhan. Aku percaya, Tuhan pasti kasih kami keturunan,” lanjut suaminya kepada orangtua mereka.
Iman sang suami menjadi salah satu pegangan yang membuat Ellyzabeth tetap bertahan. Tahun demi tahun berlalu, dan mereka terus mendoakan nama anak-anak yang belum pernah mereka lihat.
Saat usia pernikahan mereka memasuki tahun ketujuh, ayah mertua Ellyzabeth jatuh sakit. Fokus doanya mulai berubah. Ia tidak lagi hanya berdoa meminta keturunan, tetapi juga berdoa untuk kesembuhan ayah mertuanya.
“Saya lebih fokus berdoa untuk kesembuhan mertua. Karena buat apa saya berdoa minta keturunan, tapi mertua enggak bisa berjumpa sama calon cucunya,” ungkapnya.
Di masa itu, Ellyzabeth merasa Roh Kudus mengubah arah doanya. Ia mulai mendoakan orang-orang lain yang juga sedang menantikan keturunan. Nama-nama mereka ia tulis di sebuah buku dan ia doakan setiap hari
“Saya tulis di buku nama-nama mereka yang menanti keturunan. Saya doakan setiap hari. Saya juga berdoa untuk kesembuhan mertua. Jadi saya enggak cuma doain diri saya aja,” katanya.
Hamil Setelah Sembilan Tahun, Tapi Iman Kembali Diuji
Pada Februari 2021, ayah mertuanya meninggal dunia. Beberapa bulan kemudian, tepatnya Mei 2021, Ellyzabeth dinyatakan hamil.
“Setelah sembilan tahun menanti keturunan, Tuhan memberikan kami kabar sukacita. Saya dinyatakan hamil,” ujarnya.
Namun sukacita itu tidak disambut oleh semua orang. Ada saudara yang justru menyakiti dan berkata, “Kayaknya percuma deh lo hamil, bapak mertua udah enggak ada.”
Perkataan itu melukai hati Ellyzabeth. Ia tidak pernah menginginkan kehamilannya datang setelah ayah mertuanya meninggal. Ia justru berharap orang tua mereka masih bisa melihat anaknya lahir.
Belum selesai dengan luka itu, imannya kembali diuji. Dokter sempat mengatakan bahwa ia mengalami hamil anggur, yaitu kondisi kehamilan yang tidak berkembang normal karena adanya pertumbuhan jaringan abnormal di dalam rahim.
Setelah menanti selama 9 tahun, janinnya justru tidak berkembang dengan normal. Lalu, apa yang terjadi setelah vonis hamil anggur itu? Bagaimana iman Ellyzabeth dan suaminya akhirnya melihat janji Tuhan dinyatakan?
Saksikan kisah lengkap Ellyzabeth di YouTube Solusi TV atau video di bawah ini
Sumber : YouTube Solusi TVIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!