“Kalau mengampuni itu mudah, mungkin kita tidak perlu terus belajar melakukannya,” ucap Ps. Marda Silaen, seorang pendeta, Evangelist, dan Pemimpin Pelayanan Wanita (Women Ministry Leader) di Gereja Kristus Di Indonesia (GKDI) wilayah Jakarta.
Banyak orang terlihat baik-baik saja di luar. Mereka tetap tersenyum, tetap melayani, tetap datang ke gereja. Tapi tidak sedikit dari mereka masih menyimpan luka yang belum selesai di dalam hatinya. Luka karena dikhianati, disakiti, diremehkan, bahkan ditinggalkan oleh orang yang paling dipercaya.
Masalahnya, banyak orang Kristen akhirnya merasa harus terlihat “rohani”. Harus cepat mengampuni, harus cepat baik-baik saja. Padahal kenyataannya, ada luka yang tidak bisa sembuh hanya karena dipendam.
BACA JUGA: 5 Langkah Praktis untuk Belajar Mengampuni Menurut Alkitab
Hal inilah yang dibahas dalam Podcast Cahaya Bagi Negeri oleh Ps. Andy Otniel bersama Ps. Marda Silaen.
Dalam obrolan tersebut, Ps. Marda menjelaskan bahwa banyak orang sebenarnya tidak benar-benar sembuh. Mereka hanya memilih diam, menghindar, atau pura-pura kuat.
“Ada yang menyerang balik, ada yang memilih diam dan memendam, ada juga yang menghindar. Tapi tiga respon itu sebenarnya tidak sehat,” jelasnya.
Menurut Ps. Marda, pengampunan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Mengampuni juga bukan berarti melupakan rasa sakit yang pernah terjadi.
“Secara alami, waktu kita disakiti, kita ingin melindungi diri, marah, bahkan mungkin dendam,” katanya.
BACA JUGA: Ibunya Dibunuh Oleh Orang Terdekat, Bagaimana Isman Kurniawan Melepaskan Pengampunan?
Karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan bukan memaksa diri terlihat kuat, melainkan jujur mengakui bahwa kita memang terluka.“Kalau kita pura-pura kuat, luka itu bisa berubah jadi kepahitan.”
Dalam podcast ini, Ps. Marda juga membahas bagaimana kepahitan kecil yang terus dipendam bisa berubah menjadi akar pahit yang perlahan merusak hidup seseorang. Bahkan tanpa sadar memengaruhi cara berpikir, cara memperlakukan orang lain, sampai hubungan dengan Tuhan.
Menariknya, ia menegaskan bahwa pengampunan bukan soal perasaan, melainkan keputusan.
“Keputusan itu harus lebih tinggi dari perasaan.”
BACA JUGA: Bolehkah Mengampuni Tapi Tetap Jaga Jarak?
Podcast ini mengajak kita melihat pengampunan bukan sebagai tuntutan iman yang kita percaya, melainkan proses pemulihan yang Tuhan kerjakan dalam hati manusia.
Sebab pada akhirnya, pengampunan bukan hanya membebaskan orang lain, tetapi juga membebaskan diri kita sendiri dari luka yang selama ini mengikat.
Penasaran bagaimana cara memulai proses mengampuni ketika hati masih sakit? Saksikan pembahasan lengkap Ps. Marda Silaen di Podcast Cahaya Bagi Negeri hanya di YouTube Jawaban.
Sumber : YouTube Jawaban ChannelIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!