Bertahan hidup di dalam sebuah rumah yang menjadi benteng bagi sang pemangsa dan penjara bagi sang mangsa adalah sebuah mukjizat yang luar biasa. Ketika sang pemangsa itu adalah seorang ayah—sosok yang seharusnya menjadi "tempat perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan terhadap angin ribut" (Yesaya 32:2)—jiwa pun mengalami kehancuran yang terasa final.
Beban kekerasan emosional, fisik, dan seksual di tangan orang tua adalah salib yang seharusnya tidak perlu dipikul oleh anak mana pun. Namun, bagi banyak orang, trauma tersebut diperparah—bukan hanya oleh kekerasan sang ayah, melainkan juga oleh kebisuan sang ibu dan pengkhianatan dari saudara kandung.
Dalam banyak kisah semacam ini, sang ibu memainkan peran layaknya hati Firaun—mengeras dan tak tergerak oleh tangisan darah dagingnya sendiri. Ketika sang putri melaporkan kengerian yang dialaminya, ia justru disambut oleh dinding ketidakpedulian. Ini adalah perwujudan nyata dari Mazmur 27:10, "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku."
Barangkali yang terasa lebih menyakitkan adalah "Beban Sang Pelindung." Bayangkan seorang putri yang bertindak layaknya payung manusia di tengah badai topan, berdiri di antara amarah sang ayah dan adik perempuannya. Ia menanggung segala pukulan, sentuhan, dan teriakan itu demi memastikan sang adik tetap "suci" dan tak ternoda.
Ia ibarat penangkal petir yang mencegah rumah itu terbakar habis, namun ironisnya, sang adik justru membencinya karena bekas-bekas hangus yang tertinggal di kulitnya.
Alih-alih rasa terima kasih, sang adik justru melayangkan kebencian. Inilah kepedihan yang terungkap dalam Mazmur 41:9: "Bahkan teman karibku yang kupercayai... telah mengangkat tumitnya terhadap aku." Bagi sang adik, sosok penyintas itu tak ubahnya pengingat berjalan akan sebuah kebenaran yang justru ingin ia kubur dalam-dalam. Demi menjaga ketenangan batinnya sendiri, ia pun menempatkan sang penyintas sebagai sosok antagonis.
Baca Juga: “Luka” yang Tak Disadari: Biaya Tersembunyi Menjadi “Anak Emas”
Cermin Dunia Nyata: Tara Westover
Sebuah contoh nyata yang kuat mengenai dinamika ini dapat ditemukan dalam kehidupan Tara Westover, penulis buku “Educated”. Meskipun kisahnya melibatkan situasi bertahan hidup yang ekstrem, inti permasalahannya tetap sama: ia menderita kekerasan fisik dan emosional di tangan saudara laki-lakinya, sementara ideologi-ideologi radikal sang ayah menciptakan lahan subur bagi tumbuh kembang kekerasan tersebut. Ketika Tara akhirnya mengungkapkan kebenaran, ibunya—yang pada awalnya membenarkan kisahnya—justru menarik kembali dukungannya di bawah tekanan sang ayah. Saudara perempuannya, yang telah coba dihubungi Tara, akhirnya berbalik melawannya demi menjaga posisinya agar tetap disukai di dalam lingkungan keluarga. Tara diusir karena "dosa" memiliki ingatan. Ia berhasil bertahan hidup, namun ia harus melintasi kobaran api—yakni kehilangan seluruh keluarganya—demi menemukan kembali jiwanya.
Bagi banyak penyintas, pelarian secara fisik hanyalah separuh dari perjuangan yang harus dilalui. Pikiran mereka berubah menjadi sebuah rumah berhantu, tempat adegan-adegan yang sama terus berputar secara berulang-ulang. Inilah yang disebut ruminasi—sebuah komedi putar mental yang tak pernah berhenti berputar.
Mereka yang terjebak dalam ruminasi menghabiskan delapan belas jam sehari untuk memperdebatkan masa lalu di dalam benak mereka. Mereka berargumen dengan seorang ibu yang enggan mendengarkan; mereka membela diri di hadapan seorang saudara perempuan yang telah telanjur menghakimi mereka. Ini bagaikan "malam-malam yang melelahkan," sebagaimana digambarkan dalam Kitab Ayub 7:3-4:
“Demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan. Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari.”
Ruminasi adalah upaya putus asa otak untuk memecahkan sebuah teka-teki, padahal kepingan-kepingan penyusunnya telah dicuri bertahun-tahun yang lalu.
Baca Juga: Jembatan Manusia : Mengapa Anak-Anak Seharusnya Tidak Memikul Beban Pernikahan?
Dari Reruntuhan Menuju Kebangkitan
Penyembuhan bermula ketika sang penyintas berhenti berusaha memaksa orang yang “buta” untuk melihat. Anda tidak mungkin dapat menggambarkan keindahan matahari terbenam kepada seseorang yang menolak untuk membuka matanya. Jika ibu Anda memilih untuk bungkam dan saudara perempuan Anda memilih untuk membenci, maka tanggung jawab Anda untuk melindungi mereka telah berakhir.
Alkitab menawarkan sebuah janji bagi mereka yang hidupnya telah diratakan hingga hancur oleh orang-orang yang seharusnya justru membangun dan menguatkan mereka:
“Untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka "pohon tarbantin kebenaran", "tanaman TUHAN" untuk memperlihatkan keagungan-Nya.” (Yesaya 61:3)
Anda mungkin pernah menjadi penangkal petir yang menanggung segala sambaran badai, namun kini Anda juga adalah sang konduktor yang mengarahkan masa depan Anda sendiri. Badai itu mungkin telah menghanguskan kayunya, namun ia tak mampu mematikan benih yang ada di dalamnya. Anda bukanlah seorang korban yang “terjebak” di masa lalu; Anda adalah seorang penyintas yang sedang membangun sebuah kerajaan di atas lahan tempat rumah lama Anda dulu runtuh.
Harry Lee MD; PsyD; BBS
Pastor dan Gembala Restoration Christian Church – Los Angeles
Artikel ini adalah hasil karya dari kontributor kami dan segala isi artikel ini adalah tanggung jawab kontributor.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”