Kebanyakan orang menganggap “luka” masa kanak-kanak sebagai hal-hal yang dilakukan terhadap seseorang—seperti kekerasan, kata-kata kasar, atau kekurangan materi. Namun, ada luka yang lebih senyap dan tak kasatmata, yang muncul dari hal-hal yang justru tidak dilakukan.
Ini adalah luka yang dialami oleh seseorang yang tumbuh besar di rumah yang “sempurna”—tempat ia tak pernah mendengar kata “tidak,” tak pernah dimintai pertanggungjawaban, dan tak pernah diberi umpan balik yang realistis. Baginya, masa kanak-kanak terasa bagaikan hari yang cerah dan tak berujung. Namun, pada kenyataannya, ia sedang mengalami penelantaran emosional. Ia dirampas haknya untuk mengenali kekurangan-kekurangan manusiawinya sendiri; penelantaran itulah yang kini menjebaknya dalam sebuah versi diri yang tak mampu bertahan menghadapi kerasnya dunia nyata.
1. Cermin yang Hanya Memuji
Bayangkan seorang anak yang tinggal di sebuah rumah di mana setiap cerminnya sedikit melengkung, sehingga membuatnya tampak sempurna. Ia tak pernah melihat satu pun noda; tak ada sehelai rambut pun yang tampak tak rapi di matanya. Ketika akhirnya ia melangkah keluar menuju dunia nyata, ia terkejut sekaligus tersinggung saat orang lain memandangnya dengan cara yang berbeda.
Dibesarkan tanpa batasan ibarat diberi sebuah peta tanpa tanda titik bertuliskan “Anda Berada di Sini.” Jika seorang anak tak pernah diberi tahu bahwa ia berbuat salah, ia tak akan pernah belajar bagaimana caranya berbuat benar. Alat-alat yang mereka perlukan untuk melakukan refleksi diri telah dirampas dari mereka.
Dalam Alkitab, Amsal 29:15 menyatakan: “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.”
Seorang anak yang “dibiarkan bebas” bukan sekadar anak yang berkeliaran di jalanan; ia adalah anak yang dibiarkan mengikuti ego-nya sendiri, tanpa pernah dikoreksi oleh orang tua penuh kasih yang cukup peduli untuk berkata, “Kamu salah, dan kamu harus memperbaiki hal ini.”
2. Penjara Kesempurnaan
Karena ia dibesarkan sebagai “Anak Emas” (Golden Child), identitas dirinya dibangun di atas fondasi kesempurnaan tanpa cela. Hal ini terdengar bagaikan sebuah anugerah, namun sesungguhnya merupakan sebuah sangkar.
Masalahnya: Jika ia tak pernah bisa salah artinya ia selalu “benar” atau tepatnya selalu dibenarkan sekalipun salah, maka ia tak akan pernah bisa meminta maaf.
Konsekuensinya: Jika ia tak pernah bisa meminta maaf, maka ia tak akan pernah bisa menjalin keintiman yang sejati.
Hasilnya: Hubungan-hubungan yang ia jalin selalu kandas, karena ia memandang setiap umpan balik sebagai serangan pribadi, alih-alih sebagai sebuah kesempatan untuk bertumbuh.
Ia, pada dasarnya, “terjebak” dalam sosok dirinya di masa kanak-kanak. Karena ia tidak pernah diajarkan untuk bertanggung jawab atas kesalahannya, ia memandang dirinya sebagai korban abadi dari dunia yang “kejam”—dunia yang tidak menyadari betapa istimewanya dirinya.
3. Contoh Nyata: Sang Anak Emas (Marie Antoinette)
Contoh sejarah klasik dari dinamika ini adalah Marie Antoinette. Meskipun ia adalah sosok nyata dengan perasaan yang kompleks, ia dibesarkan dalam lingkungan “Anak Emas” yang paling ekstrem. Sejak lahir, ia dikelilingi oleh orang-orang yang mengatakan bahwa ia adalah pilihan Tuhan dan tidak mungkin berbuat salah. Ia tidak pernah diberi umpan balik yang realistis mengenai penderitaan rakyat atau perannya sendiri dalam situasi tersebut.
Saat beranjak dewasa, ia tidak lantas menjadi sosok yang “jahat,” namun pertumbuhan emosionalnya terhambat. Ia hidup dalam sebuah buble (gelembung) (bernama “Hameau de la Reine”) di mana ia bermain peran sebagai seorang petani, sementara para petani yang sesungguhnya menderita kelaparan. Karena ia tidak pernah diajarkan untuk bertanggung jawab atas realitas kedudukannya, ia tidak mampu beradaptasi ketika dunia menuntut pertanggungjawaban darinya. “Luka”-nya adalah ketiadaan kontak dengan realitas, dan pada akhirnya, hal itu merenggut segalanya dari dirinya.
4. Contoh Nyata: Kekuatan Tanggung Jawab (Robert Downey Jr.)
Di sisi yang berlawanan, mari kita lihat sosok seperti Robert Downey Jr. Ia adalah seorang pria yang harus menghadapi segala “kesalahannya” dengan cara yang sangat terbuka bagi publik, dan sangat menyakitkan. Pada masa-masa awal kariernya, ia bergulat dengan masalah-masalah mendasar yang mengakar dalam dirinya, serta melakukan kesalahan-kesalahan fatal yang berujung pada hukuman penjara dan hancurnya reputasinya.
Alih-alih terus terperangkap dalam citra dirinya sebagai sosok yang merasa “kebal hukum” atau “salah dipahami,” ia justru menerima umpan balik dari sistem hukum serta orang-orang di sekelilingnya. Ia mengambil langkah tanggung jawab yang radikal atas kehidupannya sendiri.
Seperti apakah sosok dirinya kemudian? Dengan mengakui bahwa ia pun bisa berbuat salah, ia tumbuh menjadi salah satu aktor yang paling dihormati dan paling membumi di dunia. Ia bertransformasi dari sosok “anak emas yang hancur” menjadi seorang pria dewasa yang matang. Ia membuktikan bahwa pertumbuhan sejati hanya dapat terjadi ketika seseorang bersedia menatap cermin realitas dengan jujur dan berkata, “Aku telah berbuat salah, dan aku akan memperbaikinya.”
5. Menyembuhkan Luka yang Tak Kasat Mata
Bagi seseorang yang tidak menyadari adanya luka dalam dirinya, proses penyembuhan bermula dari sebuah kesadaran yang sulit untuk diterima: Bahwa diberi tahu bahwa dirimu sempurna tidaklah sama dengan dicintai. Cinta yang sejati senantiasa mencakup adanya teguran dan koreksi. Sebagaimana diingatkan oleh Ibrani 12:6, “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”
Agar dapat pulih, ia harus belajar untuk merangkul “ketidakbenarannya” sendiri. Ia harus menyadari bahwa, Kesalahan bukanlah akhir dari segalanya; melainkan awal dari hikmat.
Batas-batas bukanlah sesuatu yang kejam; melainkan pagar yang menjaga agar sebuah taman tetap aman.
Tanggung jawab bukanlah sebuah beban; melainkan kunci yang membuka pintu penjara “kesempurnaannya.”
Saat ia membiarkan dirinya untuk menjadi “salah”—pada saat itulah ia akhirnya menjadi bebas untuk menjadi dirinya yang sejati. Dan hanya orang yang sejati yang dapat mengalami kasih yang sejati.
Ketika “Anak Emas” ini adalah seorang wanita—sosok yang tidak pernah diajarkan bahwa ia bisa berbuat salah—menikahi seorang pria yang pernah ditolak dan terluka di masa kecilnya, pernikahan tersebut sering kali terasa bagaikan sebuah rumah yang dibangun di atas danau yang membeku. Di permukaan, segalanya tampak indah dan kokoh. Namun di bagian bawahnya, lapisan es itu terus bergeser, dan tak satu pun dari mereka merasa cukup aman untuk melepaskan sepatu bot berat yang mereka kenakan.
Beginilah gambaran umum pernikahan tersebut jika dilihat melalui lensa luka-luka tersembunyi yang mereka miliki.
1. “Gembok dan Kunci” Ketidakfungsian
Dalam banyak hal, kedua orang ini “saling melengkapi” layaknya gembok dan kuncinya—namun dengan cara yang menyakitkan.
Dia (Si Balon): Karena ia tidak pernah mendapatkan umpan balik yang realistis, egonya tumbuh layaknya sebuah balon raksasa yang penuh warna. Balon itu memakan banyak ruang, namun sangatlah rapuh. Jika ada orang yang menunjukkan kesalahan yang ia perbuat, rasanya bagaikan tertusuk jarum. Demi menghindari risiko “meletus,” ia harus senantiasa melayang tinggi di atas permukaan tanah, di tempat yang tak seorang pun dapat menjangkaunya.
Dia (Si Spons): Karena ia pernah ditolak di masa kecilnya, ia tumbuh dewasa dengan keyakinan bahwa dirinyalah sumber masalah. Ia ibarat sebuah spons; ia sudah terbiasa menyerap segala bentuk tuduhan, kritik, dan kesedihan—sebab itulah peran yang ia jalani di dalam keluarga asalnya.
Hasilnya: Ketika terjadi sesuatu yang keliru dalam pernikahan mereka—entah itu tagihan yang belum terbayar, masalah yang sedang dihadapi sang anak, atau sekadar lampu yang pecah—sang istri “Anak Emas” tidak mampu memikul tanggung jawab, sebab identitas dirinya sangat bergantung pada citra kesempurnaan. Sang suami “yang Terluka”—yang diliputi ketakutan akan kembali ditolak—secara otomatis akan berkata, “Ini salahku,” meskipun kenyataannya bukan dia yang bersalah.
2. Pernikahan Tanpa “Besi”
Alkitab menyajikan sebuah perumpamaan yang masyhur mengenai pertumbuhan diri, sebagaimana tertulis dalam Amsal 27:17, “Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.”
Agar besi dapat menajamkan besi, haruslah terjadi gesekan. Anda harus mampu saling bergesekan satu sama lain, sambil berkata, “Perilaku itu tidak pantas,” atau “Kau telah melukai perasaanku.”
Dalam pernikahan ini, proses “penajaman” itu sama sekali tidak terjadi.
Jika sang suami mencoba untuk “menajamkan” istrinya (yakni dengan memberikan umpan balik), sang istri akan memandang tindakan tersebut sebagai sebuah deklarasi perang. Ia memandang kejujuran suaminya sebagai sesuatu yang “kejam” atau “tidak mendukung.”
Jika sang istri “mengasah” suaminya, suaminya tidak lantas menjadi lebih kuat; ia justru merasa semakin mengecil. Ia berpikir, “Tuh, kan? Aku memang benar-benar seorang pecundang.”
Alih-alih menjadi dua alat yang saling menyempurnakan, mereka justru berubah menjadi dua benda tumpul yang saling menghantam hingga keduanya merasa penyok dan tak berguna.
3. Contoh Nyata: Zelda dan F. Scott Fitzgerald
Sebuah contoh nyata yang terkenal dari dinamika ini adalah pernikahan antara penulis ternama F. Scott Fitzgerald dan istrinya, Zelda.
Zelda (Si Anak Emas): Zelda adalah “Gadis Emas” di kota asalnya di Alabama. Ayahnya adalah seorang hakim berkuasa yang sangat memujanya, dan ia jarang sekali mendengar kata “tidak.” Ia tumbuh besar dengan keyakinan bahwa dunia adalah panggung miliknya dan ia tak mungkin berbuat salah. Ia memiliki “luka batin” karena tak pernah diajarkan mengenai batasan ataupun tanggung jawab.
Scott (Si Pejuang yang Terluka): Scott berasal dari keluarga yang telah kehilangan harta benda dan status sosialnya. Ia merasa seperti orang luar dan memiliki rasa tidak aman yang sangat mendalam; ia terus-menerus mencari pengakuan dan sangat ketakutan jika dianggap “kurang berharga.”
Seperti apa pernikahan mereka? Itu adalah sebuah bencana yang “indah.” Zelda tak sanggup menghadapi kenyataan menjadi seorang istri yang “biasa-biasa saja,” ataupun memikul tanggung jawab atas kesehatan maupun keuangannya sendiri. Ketika keadaan menjadi sulit, ia tak tahu bagaimana caranya untuk berkembang; ia hanya tahu caranya untuk hancur. Scott, yang sangat membutuhkan rasa penting dalam dirinya, berusaha mengendalikan segala hal—tindakan yang justru membuat perilaku Zelda semakin tak menentu. Mereka saling mencintai dengan sangat mendalam, namun karena tak satu pun dari mereka mampu menerima “umpan balik yang realistis” tanpa mengubahnya menjadi drama hidup-mati, mereka menghabiskan hidup mereka dengan keluar-masuk rumah sakit dan didera kepedihan hati.
4. Jalan Keluar: Mengubah Cermin Menjadi Jendela
Agar pernikahan semacam ini dapat bertahan, dua hal harus terjadi:
Istri harus mengubah “Cermin”-nya menjadi sebuah “Jendela.” Alih-alih menatap cermin untuk melihat betapa sempurnanya dirinya, ia harus menatap ke luar jendela untuk melihat kenyataan mengenai kebutuhan suaminya serta kesalahan-kesalahannya sendiri. Ia harus belajar bahwa mengucapkan kalimat “Aku salah” bukanlah sebuah vonis mati; melainkan sebuah jembatan penghubung menuju hati suaminya.
Suami harus menyadari bahwa dirinya bukanlah sebuah “Spons.” Ia harus belajar bahwa ia tidak perlu menanggung segala kemarahan orang lain demi mendapatkan kasih sayang. Ia harus belajar bahwa harga dirinya tidak didasarkan pada seberapa “sempurna” ia membuat istrinya merasa.
Sebagaimana tertulis dalam Efesus 4:2, mereka harus belajar untuk hidup, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”
“Saling membantu” tidak berarti berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja. Hal itu berarti memikul beban kebenaran secara bersama-sama. Dalam sebuah pernikahan yang sehat, sang “Anak Emas” belajar bahwa ia hanyalah manusia biasa, dan sang “Anak yang Ditolak” belajar bahwa ia berharga. Hanya dengan demikianlah kebekuan itu dapat mencair, dan rumah tangga tersebut akhirnya dapat berdiri di atas landasan yang kokoh.
Pertanyaan penulis kepada para pembaca yang Budiman: Bagaimanakah gagasan tentang “saling membantu” ini mengubah cara pandang Anda terhadap akuntabilitas dalam sebuah hubungan?
Harry Lee MD; PsyD; BBS, Pastor sekaligus Gembala Restoration Christian Church – Los Angeles
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”