Pernahkah kamu mendengar suara yang bukan hanya terdengar di telinga, tetapi mengguncang sesuatu jauh di dalam dirimu? Alkitab mencatat ada satu bunyi seperti itu. Bunyi yang membuat satu bangsa gemetar, menghentikan perang, menobatkan raja, dan membebaskan yang terikat. Menariknya, bunyi itu tidak berhenti di masa lalu. Jika benar demikian, bunyi apakah itu? Inilah fakta Alkitab tentang sangkakala di Gunung Sinai.
Dalam Kitab Keluaran 19 diceritakan bahwa pada hari ketiga, saat fajar terbit, ada guruh, kilat, awan padat di atas gunung, dan bunyi sangkakala yang sangat keras. Bunyi itu semakin lama semakin kuat, sampai seluruh bangsa yang ada di perkemahan gemetar. Hari itu, langit seakan mengeluarkan suara. Ini bukan sekadar terompet biasa, melainkan tanda bahwa Tuhan sendiri sedang turun.
Dalam Alkitab, sangkakala ini disebut shofar, terbuat dari tanduk domba jantan. Tidak ada tombol, tidak ada melodi rumit. Hanya satu hal: napas yang diubah menjadi suara. Suaranya tidak selalu indah. Kadang kasar, kadang pecah, bahkan terdengar seperti sesuatu yang patah. Namun shofar tidak diciptakan untuk menghibur. Ia dibuat untuk memberi tanda bahwa sesuatu yang penting sedang terjadi.
Ada hal menarik tentang shofar menurut tradisi Yahudi kuno. Shofar boleh memiliki lubang kecil atau cacat fisik, asalkan masih bisa mengeluarkan suara yang jelas. Ia bukan instrumen yang sempurna, tetapi tetap dapat dipakai. Hal ini mengingatkan bahwa Tuhan tidak menunggu manusia sempurna terlebih dahulu untuk memakai mereka. Hati yang remuk dan suara yang pecah pun masih bisa menjadi panggilan yang kudus.
Di Alkitab, setiap kali sangkakala berbunyi, itu berarti sesuatu sedang terjadi dan tidak boleh diabaikan. Ketika perang dimulai, sangkakala dibunyikan (Bilangan 10:9). Saat seorang raja diangkat, sangkakala dibunyikan (1 Raja-raja 1:34). Ketika Tuhan memperingatkan umat-Nya, sangkakala kembali berbunyi (Yoel 2:1). Bunyi ini seakan berkata, “Perhatikan. Ini penting. Berhenti dari apa pun yang sedang kamu lakukan.”
Setiap tahun pada Ros Hasyana atau Yom Teruah, terdengar tiga jenis suara sangkakala: Tekiah, Shevarim, dan Teruah. Masing-masing melambangkan kondisi jiwa yang berbeda. Mungkin hidupmu terasa stabil namun ada panggilan yang belum kamu jawab. Mungkin ada sesuatu yang sudah patah. Atau mungkin ada kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Dalam Imamat 25, sangkakala juga dibunyikan pada tahun Yobel, menandai pembebasan dan pemulihan. Alkitab juga mencatat janji bahwa suatu hari sangkakala akan berbunyi kembali, menandai penggenapan besar (1 Tesalonika 4:16; Wahyu).
Hari ini, mungkin kamu tidak mendengar shofar secara fisik. Namun sejak Sinai sampai sekarang, setiap bunyi sangkakala selalu menuntut satu respons untuk berhenti, memperhatikan, dan mengambil keputusan. Di tengah begitu banyak suara dalam hidup, masihkah ada ruang untuk mendengar suara itu?
Tonton video Fakta Alkitab selengkapnya di bawah untuk penjelasan yang lebih mendalam.
Sumber : Jawaban ChannelIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”