Septi tidak pernah menyangka bahwa menjadi orang tua bisa terasa begitu membingungkan sekaligus melelahkan secara emosional.
Baru tiga tahun menikah, dengan seorang anak berusia dua tahun, ia dan suaminya, Galih, sedang belajar menjalani peran baru—menjadi orang tua. Tapi kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan.
Saat anak mereka mulai marah, berteriak, bahkan memukul karena belum mampu mengungkapkan perasaan, Septi sering merasa kewalahan. Di momen-momen itu, ia sadar… mereka sebenarnya tidak benar-benar tahu harus bersikap bagaimana.
Mereka mencoba mencari jawaban dari orang tua dan lingkungan sekitar. Mendengar banyak saran, banyak pengalaman. Tapi jauh di dalam hati, mereka tahu—itu belum cukup. Mereka butuh arah. Mereka butuh pemahaman yang benar.
Sampai akhirnya, mereka dipertemukan dengan The Parenting Project.
Di situlah titik balik itu terjadi.Perlahan, Septi mulai memahami bahwa membesarkan anak bukan hanya soal mengoreksi perilaku… tetapi membangun hati. Bukan sekadar mendisiplinkan… tetapi menghadirkan kasih dan Tuhan dalam setiap proses.
Baca Juga Kisah Lainnya: Ketika Anak Menyaksikan Kekerasan, Tuhan Memulihkan Keluarga Kami
Satu hal yang sangat mengubah hidupnya adalah ketika ia menyadari: anak tidak hanya mendengar… mereka meniru. Apa yang orang tua lakukan, itulah yang akan menjadi gambaran hidup anak.
Sejak saat itu, sesuatu berubah.
Ketika anaknya marah, Septi tidak lagi terpancing. Ia memilih mendekat. Memeluk. Mengajarkan anaknya mengenali emosinya.
“Ini namanya marah… tapi kita bisa belajar untuk tenang,” ungkapnya.
Hal sederhana, tapi sangat berarti. Bukan hanya anaknya yang bertumbuh—Septi dan suaminya pun ikut diubahkan. Mereka menjadi lebih sabar. Lebih kompak. Lebih satu hati dalam membesarkan anak.
Mereka mulai membangun kebiasaan baru—duduk bersama, meluangkan waktu, bahkan membawa Tuhan hadir dalam keluarga mereka melalui momen-momen sederhana.
Dari yang sebelumnya berjalan sendiri dan bingung, kini mereka berjalan bersama, dengan arah yang jelas. Dan yang paling menyentuh—Septi tidak ingin berhenti di situ. Ia mulai mengajak keluarga muda lainnya: “Jangan tunggu ada masalah baru belajar,” terang Septi. “Membangun fondasi keluarga yang kuat bersama Tuhan adalah yang utama.”
Baca Juga Kisah Lainnya: Di The Parenting Project, Puji Prasetya Sadar Satu Hal yang Tak Kalah Penting dari Nafkah
Melalui The Parenting Project, seri pengajaran orang tua dari CBN Indonesia ini, ratusan orang tua dilatih dan diperlengkapi menjadi orang tua yang lebih baik. Sehingga mereka bukan orang tua yang sama lagi atau bahkan mewariskan pola pengasuhan yang mereka adopsi dari orang tua mereka.
Jadi, apakah Anda terinspirasi atau ingin diperlengkapi menjadi orang tua yang lebih baik? Yuk daftarkan gereja Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan pemuridan The Parenting Project, dengan klik link di bawah.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”