Tragedi Anak SD Gantung Diri di NTT Jadi Alarm Kesehatan Mental Anak Nasional
Sumber: Liputan6.com/ Ola Keda

News / 4 February 2026

Kalangan Sendiri

Tragedi Anak SD Gantung Diri di NTT Jadi Alarm Kesehatan Mental Anak Nasional

Claudia Jessica Official Writer
1313

Kasus meninggalnya seorang anak sekolah dasar akibat bunuh diri di NTT kembali mengguncang perhatian publik. Peristiwa yang terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ini menyisakan duka mendalam sekaligus menjadi pengingat serius akan kondisi kesehatan mental anak-anak di Indonesia.

Menanggapi tragedi tersebut, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa persoalan kesehatan mental anak bukan isu sepele. Pemerintah, kata dia, telah menemukan fakta bahwa jutaan anak Indonesia menghadapi masalah serupa.

“Kesehatan mental anak bukan persoalan kecil. Kami menemukan sekitar 10 juta anak di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, dan ini harus ditangani secara serius,” ujar Budi di Jakarta Selatan, Rabu (4/2/2026) sebagaimana dikutip dari liputan6.com.

Gambar: Tulisan tangan YBS (10), korban diduga bunuh diri pada Kamis (29/1/2026).

Begini bunyi surat korban dalam bahasa Ngada:

KERTAS TII MAMA RETI

MAMA GALO ZEE

MAMA MOLO JA’O

GALO MATA MAE RITA EE MAMA

MAMA JAO GALO MATA

MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE

MOLO MAMA

Artinya: 

SURAT BUAT MAMA RETI

MAMA SAYA PERGI DULU

MAMA RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL)

JANGAN MENANGIS YA MAMA

MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL) 

TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA

SELAMAT TINGGAL MAMA

 

BACA JUGA: 12 Ayat Alkitab yang Menemani Anda di Masa Duka

 

Sebagai langkah konkret, Kementerian Kesehatan tengah menyiapkan layanan psikolog klinis di puskesmas agar penanganan kesehatan mental anak dapat menjangkau lebih luas.

“Ke depan, kami menyiapkan psikolog klinis di puskesmas agar masalah kesehatan mental anak yang selama ini tidak terlayani bisa mendapatkan penanganan,” tambahnya.

Budi juga menekankan bahwa puskesmas tidak bisa bekerja sendiri. Menurutnya, kolaborasi dengan sekolah menjadi kunci agar masalah psikologis anak dapat terdeteksi lebih dini.

“Puskesmas tidak bisa bekerja sendiri. Kerja sama dengan sekolah sangat penting agar masalah psikologis anak bisa terdeteksi lebih awal,” katanya.

Kasus di NTT sendiri menimpa seorang anak berusia 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas IV SD. Korban diduga mengalami tekanan emosional setelah merasa kecewa karena tidak dibelikan perlengkapan sekolah. Tragedi ini semakin menyentuh hati publik setelah diketahui korban sempat meninggalkan surat untuk ibunya.

Psikiater anak dan remaja, Lahargo Kembaren, menilai bahwa tindakan ekstrem pada anak sering kali bukan karena keinginan untuk mengakhiri hidup, melainkan karena ketidakmampuan menghadapi tekanan batin.

“Anak tidak sedang ingin mati. Ia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat,” ungkap Lahargo.

Ia menjelaskan bahwa pada usia sekitar 9–10 tahun, anak memang mulai memahami konsep kematian, tetapi belum memiliki kematangan emosional untuk menimbang konsekuensi jangka panjang.

“Pada usia ini, pola pikir anak masih sangat konkret dan hitam-putih. Dalam tekanan berat, mereka bisa sampai pada kesimpulan ekstrem,” jelasnya.

 

BACA JUGA: Bagaimana Orang Kristen Mengelola Kesedihan & Melanjutkan Hidup Saat Kehilangan Pasangan?

 

Data World Health Organization (WHO) juga menunjukkan bahwa risiko bunuh diri tidak hanya dialami orang dewasa. Anak-anak dapat berada dalam risiko ketika distres psikologis bertemu dengan minimnya dukungan emosional.

“Pada anak, bunuh diri bukan tentang kematian, tetapi tentang keputusasaan yang tidak memiliki bahasa,” tambah Lahargo.

Kasus di NTT ini menjadi pengingat bahwa perubahan perilaku anak seperti menarik diri, murung, atau ucapan bernada putus asa bukan hal sepele.

“Perubahan perilaku anak bukan tanpa sebab. Itu adalah cara jiwa meminta tolong,” tegasnya.

Tragedi ini menegaskan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan negara dalam menciptakan lingkungan yang aman secara emosional. Anak yang didengar dan didampingi tidak perlu mengekspresikan keputusasaan melalui keputusan ekstrem.

Catatan Penting:

Artikel ini ditulis untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong pencegahan. Bunuh diri bukan solusi. Jika Anda atau orang terdekat sedang berada dalam kondisi tertekan, segera cari bantuan profesional di fasilitas kesehatan terdekat atau hubungi Layanan Doa CBN: 0822-1500-2424.

Sumber : Berbagai Sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami